60 Tahun Isbedy: Ada Kalian, Kupu-Kupu, dan Pelangi - RILIS.ID
60 Tahun Isbedy: Ada Kalian, Kupu-Kupu, dan Pelangi
Segan Simanjuntak
Sabtu | 10/03/2018 07.00 WIB
60 Tahun Isbedy: Ada Kalian, Kupu-Kupu, dan Pelangi
Sastrawan Isbedy Stiawan ZS (kiri) dan CEO Rilis.Id Ilham Mendrofa. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Segan PS

RILIS.ID, Bandarlampung –

Maka Berceritalah Umur Pada Tubuhku
Mengapa Mata Tak Juga Terpejam
Mulut Tak Pernah Diam
Sedangkan Waktu Hampir Fajar

...

Begitulah penggalan puisi Berceritalah Umur yang terhimpun dalam buku puisi terbaru Isbedy Stiawan ZS:  Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi...

Buku yang rencananya diluncurkan Mei 2018 ini sangat istimewa karena bersamaan ulang tahunnya yang ke-60 pada 5 Juni 2018. Berisi dua subjudul Berceritalah Umur dan Lalu Pergi, total ada 60 puisi di dalamnya.

Berceritalah Umur ini lebih kepada perjalanan seorang Isbedy. Saya mengambil puisi-puisi yang bercerita tentang umur saya. Bahkan puisi Berceritalah Umur saya tempatkan sebagai pembuka,” katanya dalam acara Rilis Corner di markas Rilislampung.id di Jalan Sisingamangaraja, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, Rabu (7/3/2018).

Buku puisi itu, menurut Isbedy, sebagai instropeksi dirinya yang pada tahun ini genap 60 tahun. ”Ternyata saya masih bisa berkarya. Sementara teman seangkatan saya sudah tidak lagi. Kalau di Lampung itu teman satu angkatan saya Irwan Jafar dan almarhum AM Zulqornain,” tuturnya.

Isbedy menganggap AM Zulqornain sebagai guru spiritualnya. ”Kami sangat dekat dan sama-sama berkarya ketika masa bujang. Dia (Zulqornain) tidak mengajarkan, tetapi memberi semangat,” kenangnya.

Di depan CEO Rilis.Id Ilham Mendrofa, penyair yang dijuluki Paus Sastra Lampung itu membacakan puisi Berceritalah Umur secara lengkap.

Maka Berceritalah Umur Pada Tubuhku
Mengapa Mata Tak Juga Terpejam
Mulut Tak Pernah Diam
Sedangkan Waktu Hampir Fajar

Sebentar Lagi Berkawan Matahari
Jalan-Jalan Akan Menguap
Embun Jatuh Di Pelipis Mataku
Maka Berkisah Usia Dalam Hayatku

Tentang Kaki yang Tak Pernah Istirahat
Tangan Tak Diam dari Mengolah Semesta
Rumah ini Dipenuhi Anggur
Sungai Selalu Mengalir

Dalam dan Bergolak
Tumpah Air Mata ini
Seekor Ular Menyesatkan
Telah Disesatkan Ibu dan Bapak
Jauh Dilempar Sangat Tidak Terbaca

Maka Mendongenglah Umur
Pada Hidup dan Matiku, Nanti
Kenapa Pedih Datang dan Ganti

Mengapa Perih Tak Mau Berbagi
Bahkan Di Depan Perempuanku
Bagai Batang Layu Di Panas Bara
 
(*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID