Asa Pedagang Smep Pupus, Pilih Diam Berdagang Dekat Kubangan Sampah - RILIS.ID

Asa Pedagang Smep Pupus, Pilih Diam Berdagang Dekat Kubangan Sampah
El Shinta
Kamis, 2018/05/17 21.01
Asa Pedagang Smep Pupus, Pilih Diam Berdagang Dekat Kubangan Sampah
Kondisi lubang besar proyek Pasar Smep yang mangkrak selama bertahun-tahun, Kamis (17/5/2018). FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Harapan pedagang Pasar Smep, Tanjungkarang Barat, Kota Bandarlampung telah mati. Hampir lima tahun pembangunan pasar tradisional mangkrak dengan segudang drama yang menyertai.

Kini, asa pedagang yang sudah pupus. Pedagang memilih diam melihat lokasi proyek yang kian hari makin tak jelas bentuknya.

Dari pantauan di lapangan, lubang besar yang dulunya akan dijadikan konstruksi cakar ayam lebih mirip kubangan sampah berbau menyengat.

Seluruh permukaan kubangan dipenuhi tumbuhan eceng gondok. Tiap pinggirnya dipenuhi sampah pedagang dengan bau busuk menusuk hidung. Lalat hingga tikus bebas berkeliaran.

Kondisi mengenaskan juga terlihat pada salah satu akses jalan yang terhubung dengan bangunan ruko lama sangat membahayakan.

Pembatas jalan dan kubangan yang terbuat dari seng sudah banyak yang rusak.

Belum lagi pada jalan tersebut banyak lubang menganga dan terdapat sebuah ‘jembatan’ kayu yang dipasang pedagang lantaran konstruksi jalan sudah ambruk.

Anto, salah satu pedagang gula aren di sekitar kubangan Pasar Smep mengatakan kondisi ini sudah lama terjadi.

“Ya dari tahun 2013 kan memang sudah begini, nggak jelas. Entah mau dibangun apa nggak, ya memang begini. Yang dulu katanya mau dibangun, ya drama saja,” kata Anto kepada rilislampung.id, Kamis (17/5/2018).

Sementara pedagang Pasar Smep yang direlokasi ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), Siti Laila (32) enggan berkomentar banyak terkait mangkraknya pembangunan Pasar Smep.

No comment lah soal Pasar Smep ini. Nggak apa-apa kalau nggak jadi dibangun. Nanti kalau diributin lagi pasti ujungnya-ujungnya ada pengembang baru, kami disuruh bayar uang muka lagi. Sudah cukup dibuat susah,” ujarnya. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)