Mahasiswa Baru Membludak karena Biaya Murah Tapi Bukan Murahan - RILIS.ID
Mahasiswa Baru Membludak karena Biaya Murah Tapi Bukan Murahan
[email protected]
Jumat | 17/08/2018 12.23 WIB
Mahasiswa Baru Membludak karena Biaya Murah Tapi Bukan Murahan
Rektor UIN Raden Intan Moh. Mukri. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Anto RX

RILIS.ID, Bandarlampung – Rektor UIN Raden Intan Lampung Moh.Mukri mengatakan, 6.699 mahasiswa baru yang sudah mengikuti pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan (PBAK) merupakan hasil seleksi prestasi akademik nasional (SPAN), ujian masuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (UM-PTKIN), ujian masuk (UM-Lokal), dan penelusuran minat akademik (PMA).

Menurut dia, SPAN dan UM-PTKIN merupakan jalur masuk dengan skema nasional di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, di mana UIN Raden Intan Lampung menerima kuota 6.500 mahasiswa.

"Pembagian kuotanya yakni 50 persen jalur SPAN, 30 persen UM-PTKIN, dan 20 persen melalui jalur UM-Lokal. Sementara jalur PMA hanya untuk FDIK dan FUSA,” katanya dalam siaran pers yang diterima rilislampung.id, Jumat (17/8/2018).

Dari semua jalur tersebut, total 35 ribu pendaftar yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia dan dua negara. “Namun, kami sadar dengan keterbatasan yang dimiliki, maka kami menargetkan diawal hanya 6 ribuan saja untuk mahasiswa yang diterima,” terang Mukri.

Menurut dia, tingginya pendaftar tersebut memberikan sinyal bahwa UIN Lampung menjadi PTKIN paling diminati se-Sumatra dan ranking tiga peminat terbanyak untuk nasional. Juga tumbuhnya kepercayaaan masyarakat terhadap kampus yang dulu bernama IAIN tersebut.

“Kami terus berbenah, bukan hanya peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan akademik, tetapi juga kami memberikan biaya pendidikan yang murah dan bukan murahan,” ungkap Mukri.

Ketua PWNU Lampung ini mengakui kemajuan UIN merupakan kerja bersama sivitas akademika dan didukung oleh masyarakat Lampung.

“UIN ingin menyediakan layanan pendidikan untuk siapapun tanpa memandang golongan sosial khususnya untuk putra-putri daerah. Pendidikan hal yang penting untuk merubah paradigma dan meningkatkan kesejahteraan baik untuk pribadi maupun daerah,” ujar Guru Besar Ushul Fikih ini.

Apalagi angka partisipasi kasar (APK) lulusan SLTA di Lampung masih rendah yakni sekitar 25 persen. Problematika pendidikan bukan hanya soal kualitas, tapi juga akses.

“Jadi mestinya disyukuri kalau UIN bisa menginspirasi anak-anak minat untuk lanjut kuliah. Dan dalam mengelola dunia pendidikan tidak boleh main-main. Nothing but quality,” imbuhnya.

Mengenai ketersediaan tenaga pendidik di UIN Raden Intan, Mukri mengklaim jumlah 930 dosen masih seimbang dengan jumlah mahasiswa. Terdiri dari 350 PNS, 120 tetap non-PNS, dan 450 dosen luar biasa.

“Sehingga dengan mahasiswa aktif sekitar 28 ribu orang, rasio dosen dan mahasiswa masih sebesar 1 : 30. Artinya masih seimbang,” bebernya.

Rasio dosen yang seimbang ini juga dibuktikan dengan diraihnya akreditasi A oleh lima prodi belum lama ini. Di antaranya Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Studi Agama, dan Prodi Hukum Muamalah.

Mukri juga meminta lulusan UIN untuk tidak resah terkait isu tentang ijazah yang tidak terdaftar karena proses transformasi IAIN.

“Kita ini baru setahun bertransformasi dari IAIN ke UIN. Artinya, data pun harus banyak yang migrasi. Dan kami sudah membuat tim yang akan menuntaskan penginputan data ke forlap dikti,” pungkasnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID