Ayo Esti, Jadilah ”Peniup Terompet” - RILIS.ID
Ayo Esti, Jadilah ”Peniup Terompet”
Wirahadikusumah
Kamis | 13/02/2020 14.34 WIB
Ayo Esti, Jadilah ”Peniup Terompet”
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Lampung Dr. Yusdianto

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Karir Esti Nur Fathonah sebagai komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung berakhir.

Itu setelah majelis Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI memutuskan memberhentikannya secara tetap dari jabatannya saat ini.

Terkait hal ini, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Lampung Dr. Yusdianto berharap Esti berani buka-bukaan mengenai apa yang terjadi di tubuh KPU se-Lampung.

”Saya berharap dia menjadi peniup terompet untuk mengembalikan marwah KPU Lampung,” ujarnya kepada Rilis Lampung melalui sambungan telepon, Rabu malam (12/2/2020).

Sebab, kata Yusdianto, tidak menutup kemungkinan ada peristiwa lain yang diketahui oleh Esti. Maka kemudian, poin berikutnya diharapkan ada evaluasi secara menyeluruh terkait proses rekrutmen di KPU se-Lampung. Termasuk KPU Provinsi Lampung.

”Apalagi ini terkait dengan kapasitas, integritas, dan kapabilitas dari para komisioner itu,” kata Yusdianto.

Ia menilai, pemberhentian Esti ini menunjukkan ada carut marut dalam proses rekrutmen komisoner KPU. Khawatirnya, akan terjadi ”baku hantam” mengenai pelaksanaan pilkada 2020.

Menurut dia, jika ini tidak diungkap secara terang benderang, akan menambah ketidakpercayaan publik terhadap KPU. Apalagi pada tahun ini ada pilkada di delapan kabupaten/kota dan pelaksananya itu adalah KPU.

Khawatirnya, terus dia, proses yang dilakukan KPU nantinya bakal menimbulkan ketidakpercayaan publik.

Dalam peristiwa ini, sebenarnya menurutnya bukan untuk mencari siapa yang benar ataupun salah. Tetapi, dengan Esti bertindak sebagai peniup terompet, maka akan terang benderang apa yang terjadi dalam proses rekrutmen KPU sebelumnya.

Karenanya, Yusdianto mengharapkan, peristiwa ini tidak berhenti pada Esti saja. Untuk itu, Esti harus menjadi rising star dalam persoalan ini dengan tujuan mengembalikan marwah KPU untuk mengungkapkan segamblang mungkin peristiwa apa yang terjadi di KPU.

”Sehingga, dengan tiupan terompet Esti, bisa mengembalikan marwah KPU tadi,” tukasnya.

Terlebih, kata dia, ada keraguan publik saat ini dengan KPU, sehingga untuk menjawab ini, Esti bisa melakukannya.

”Ini bukan masalah dari tujuh, lalu kurang satu, menjadi enam. Ini soal kepercayaan! Ini tolok ukur dari semua pihak untuk mengembalikan marwah KPU,” tegasnya.

Karena itu, poinnya tidak mencari benar dan salah, tetapi yang dicari untuk menyelamatkan KPU sehingga dihasilkan penyelenggara yang memenuhi kapasitas.

”Diharapkan ini bisa menjadi koreksi, evaluasi, dan perbaikan terkait dengan proses rekrutmen KPU itu sendiri. Karenanya, menurut saya perlu juga dilibatkan tim independen untuk mengungkapnya. Tim itu terdiri dari semua unsur yang anggotanya dipercaya publik,” paparnya.

Dengan begitu, prosesnya penuh dengan semangat membenahi, bukan mencari benar atau salah. Sebab,jika peristiwa terkait Esti ini tidak diteruskan, khawatirnya para kompetitor pilkada, termasuk publik tidak percaya pada hasil pemilu yang KPU menjadi penyelenggaranya.

”Bayangkan kalau begitu, akan ada masalah lebih luas yang terjadi. Apapun kerja KPU nanti, publik tidak akan percaya. Ini karena hulunya tidak beres. Jika hari ini ada loket satu terbongkar, kita berhap ada loket lain yang terbongkar,” harap dia.

Dia menambahkan, melalui putusan DKPP ini, sudah saatnya lembaga KPU berbenah dan menyadari betul saat ini sedang disorot publik.

Yusdianto mengaku bukan bermaksud mendorong komisioner yang ada saat ini mengundurkan diri. Tapi berharap mengevaluasi untuk lebih baik lagi. Karena lembaga ini bukan lembaga pemerintah seperti lainnya, melainkan lembaga untuk peningkatan demokrasi.

”Bagaimana demokrasi bisa baik, kalau penyelengaranya rusak. Kalau penyelenggaranya buruk, bagaimana hasilnya mau benar,” ingatnya.(whk)

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID