B E G A L - RILIS.ID
B E G A L
[email protected]
Minggu | 12/08/2018 06.00 WIB
B E G A L
Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni

RILIS.ID, – Tangannya gemetar kala meraih pistol Glock 17
yang tersampir di pinggang kanannya. Suara ayahnya terdengar lagi.
Menembus hawa dingin di dini hari.
Namun demi tugas negara semua itu harus dilawan.
Wajah Mat Dongok terlihat pucat.
Ia tak sangka, nasi Padang yang baru saja disantapnya
akan menjadi makan malam terakhir bagi diri
nya.
Nasi bungkus gulai kikil yang tak sempat diolah menjadi tahi…


INTEROGASI itu terjadi di bak belakang mobil pick up patroli Polres Metro Jakarta Barat. Lelaki muda berusia dua puluhan berpangkat inspektur dua berhadapan dengan seorang penjahat keji berusia belasan tahun, spesialis pencuri motor yang terbiasa melukai bahkan membunuh para korbannya. Perwira muda menatap si bandit dengan pandangan dingin dan tak berselera. Bajingan kecil itu merintih menahan sakit. Lutut kaki kirinya bolong ditembus peluru. Komplotan bandit remaja terdiri dari lima orang begal berusia belasan. Empat orang di antaranya telah ditembak mati beberapa jam yang lalu. Polisi menumpas mereka saat penggerebekan di tempat persembunyian kelompok itu di kawasan Lokasari, Jakarta Barat.

Malam itu merupakan malam terkutuk bagi si bandit remaja dan kelompoknya. Petualangan mereka harus berakhir secara menyedihkan. Si pencoleng kecil meratapi kesialan yang tak pernah terbayangkan olehnya. Bertahun-tahun membegal ia selalu lolos dari kejaran polisi. Namun malam itu nasib mujur telah mengkhianatinya. Iblis dan pengikutnya yang selama ini menjadi bapak asuh bagi setiap perbuatan jahatnya telah pula pergi meninggalkan dirinya tanpa ucapan selamat tinggal. Mengapa rajah kebal milikku tak berfungsi hingga sebutir peluru berhasil menembus dengkulku? Mengapa diriku tak langsung dihabisi seperti kawan-kawanku? Keluhnya berbarengan dengan tanya pada diri sendiri. Si bajingan cilik begitu naif. Ilmu kebalnya telah dilumpuhkan oleh seorang dukun kepercayaan polisi. Ia belum ditembak mati sebab polisi masih membutuhkan beberapa maklumat penting dari dirinya.

Sesungguhnya apa yang ia alami hanyalah menunda kematian belaka.

“Kamu Mat Dongok? Kamu yang pimpin mereka semua?” tanya perwira muda.

“Ya, Pak. Saya Mat Dongok,” jawabnya. “Mereka semua ikut saya. Pak, tolong jangan bunuh saya. Tanah saya banyak di kampung. Bapak mau berapa? Nanti saya suruh emak saya jual tanah saya di kampung.”

Perwira muda terkejut. Banyak tanah di kampung tapi masih membegal? Ah! Anak ini mau menipuku, batinnya.

“Kalau betul kamu punya banyak tanah di kampung, kenapa kamu masih membegal?”

“Tanah ayah saya, Pak,” terangnya sambil mendongak, “bagi kami jadi begal atau rampok adalah pekerjaan turun temurun. Bapak saya sebelum insyaf dan naik haji kerjanya merampok dan membegal. Malahan, almarhum datuk saya merampok sampai ke Malaysia, Singapura, dan Thailand.” Nada suara si bandit remaja terdengar pongah. Lagak seorang penyamun ingusan.

“Keturunan penjahat kok bangga!” hardik perwira muda.

Bandit remaja menunduk dibentak seperti itu. Seketika kepercayaan dirinya padam.

“Asalmu dari mana? Kamu masih bocah ingusan. Berapa umurmu? Sejak kapan kamu kelayapan di dunia begal?” cecar beruntun si perwira muda.

“Saya dari Lampung, Pak. Umur saya 17 tahun. Ikut begal sejak umur 13 tahun.”

“Lampung? Kamu dari Lampung? Lampung sebelah mana?”

“Betul, Pak. Saya dari Lampung. Kampung saya di Jabung, Lampung Timur. Bapak orang Lampung juga? Kalau begitu kita sedaerah, Pak. Kita bisa seangkonan muakhi [1], potong kerbau selusin. Biayanya biar keluarga saya yang tanggung-jawab. Yang penting bapak jangan bunuh saya. Tanah ayah saya banyak di kampung.” Suaranya terdengar penuh pengharapan.

Seangkonan muakhi ndasmu, berkata si perwira muda pada diri sendiri.

“Saya orang Bugis!”

Si bandit muda terdiam. Harapannya pupus.

Di lubuk hati si perwira muda muncul rasa bersalah. Ia orang Lampung. Lebih dari itu, ia berasal dari kabupaten yang sama dengan si bandit muda. Pesan mendiang ayahnya tiba-tiba terngiang kembali: “Ingat Dicky! Tugasmu di reskrim [2] akan berhadapan dengan para penjahat, terutama para perampok dan pencuri mobil dan motor. Kebanyakan dari mereka adalah orang kita dari Lampung. Malah, sebagian besar mereka berasal dari kampung halaman kita di Lampung Timur. Mereka orang-orang Labuhan Maringgai, Sukadana, Sekampung, Way Jepara, Jabung, Batang Hari, Pasir Sakti, Marga Tiga, Melinting. Walaupun kamu lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecil dan masa remajamu di banyak tempat, dirimu tetap orang Melinting[3]. Orang Lampung. Saat kamu menangkap mereka, ingat baik-baik wajah Papi dan Mamimu ini. Muli mekhanai[4] asli Melinting. Jangan kau bunuh mereka, Nak. Tembak kaki mereka hingga tersungkur dan tak berkutik. Bagaimanapun mereka saudara sekampungmu!”

Perwira muda dihadang dilema. Mendiang ayahnya melarangnya membunuh setiap pelaku kejahatan yang berasal dari Lampung. Sementara di depannya seorang bandit keji yang sekampung dengan dirinya harus ditembak mati sesuai perintah komandannya. Lebih baik kutelan bulat-bulat buah simalakama, pikirnya.

“Semua motor yang kalian curi dijual langsung ke pembeli atau melalui penadah? Berapa duit kalian jual?”

“Kadang langsung kami jual ke pembeli. Tapi banyak juga yang kami jual lewat penadah. Tergantung situasi, Pak. Dijual paling tinggi harga enam jutaan. Sesekali terjual sembilan juta.”

“Penadahnya?” kejar Dicky.

Mat Dongok menggeleng lemah.

“Jangan takut. Dirimu aman,” rayu Inspektur Dicky.

“Banyak penadahnya, Pak.”

“Siapa saja mereka?”

“Kadir, Supri, Rustam, Dul Gani, Indra Ableh...”

“Lainnya?” suara Dicky terdengar penasaran.

“Nggak ada lagi, Pak. Itu saja. Pak, jangan bunuh saya. Tanah saya banyak. Bapak minta berapa? Emak saya bisa jual tanah untuk memenuhi permintaan bapak. Yang penting jangan tembak mati saya.”

Dicky tak perduli.

“Semua penadah itu dari daerahmu?” tanya Dicky.

“Tidak semua, Pak. Kadir, Supri dan Rustam dari Jabung dan Marga Tiga. Dul Gani dari Cukuh Balak. Indra Ableh dari Negeri Sakti.”

Dicky mencatat keterangan dari Mat Dongok. Semua informasi itu akan ia teruskan ke atasannya. Komandannya akan meneruskan maklumat itu kepada Polda Lampung. Dalam waktu beberapa hari mendatang para penadah motor curian itu bakal dihadiahi timah panas. Seorang brigadir polisi menyerahkan sebungkus nasi dan air kepada Dicky. “Nasi bungkusnya, Ndan[5],” katanya.

“Nih makan!” kata Dicky sambil melemparkan nasi bungkus dan seplastik air kepada Mat Dongok.

Si begal muda terpana. Ia buka nasi bungkus itu. Isinya nasi Padang gulai kikil sapi, rebusan daun singkong, sayur gori dan sambal balado. Tanpa berpikir panjang Mat Dongok makan dengan lahap. Ia kelaparan. Dalam waktu sebentar nasi bungkus dan air itu telah tandas.

“Bapak baik sekali. Terima kasih, Pak,” suara Mat Dongok terdengar haru.

Dicky merasa terenyuh namun tugasnya mengakhiri umur si bandit muda harus segera dilakukan. Telepon genggamnya berdering. Nada sambungnya “belah duren” gubahan Julia Perez. Penelponnya AKBP Johny Sembiring, komandannya.

“Siap perintah, Komandan.”

“Apa semua informasi dari tersangka sudah masuk, Dicky?” terdengar suara parau sang komandan.

“Siap. 86, Ndan.”

“Kalau begitu segera eksekusi tersangka!”

“Siap laksanakan!” jawab Dicky dengan nada suara tak kalah parau.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh perwira muda. Tangannya gemetar kala meraih pistol Glock 17 yang tersampir di pinggang kanannya. Suara ayahnya terdengar lagi. Menembus hawa dingin di dini hari. Namun demi tugas negara semua itu harus dilawan. Wajah Mat Dongok terlihat pucat. Ia tak sangka, nasi Padang yang baru saja disantapnya akan menjadi makan malam terakhir bagi dirinya. Nasi bungkus gulai kikil yang tak sempat diolah menjadi tahi.

“Jangan bunuh saya, Pak. Emak saya bisa jual tanah. Uangnya buat Bapak...” Suaranya terdengar memelas.

Kata-kata si bandit hilang ditelan desingan peluru pistol Glock 17. Cecunguk kecil itu tumbang bersimbah darah. Delapan butir peluru bersarang di dada dan lehernya. Di antara bau mesiu terdengar erangan Mat Dongok. Ia masih hidup. Dicky terkesiap.

“Orang Lampung kalau sudah berani merampok ke seberang biasanya punya isian[6], Ndan.” Suara  Brigadir Cugito, anak buahnya yang juga berasal dari Lampung seperti dirinya.

Dicky tak menjawab. Hanya terdengar tarikan nafasnya begitu berat.

Mat Dongok sekarat. Nafasnya tersengal-sengal. Kedua bola matanya terpejam dan terbuka silih berganti. Ia belum mati.     

Melihat komandannya gamang, Cugito mencabut pistolnya dan berujar: “izin membereskan, Ndan.”

Dicky mengangguk lemah.

Empat letusan membelah kesunyian dini hari itu. Dua peluru menembus kepala Mat Dongok. Dua peluru lainnya mengoyak-oyak ulu hati dan perutnya. Darah segar mengalir deras dari sekujur tubuh si bandit muda. Namun Mat Dongok belum mati. Ia tetap sekarat dengan nafas satu-satu. Dadanya naik turun. Sepasang matanya sekali sekali terpejam dan terbuka. Sekali ini Dicky dan Cugito menatap sang buruan dengan pandangan tak sepenuhnya yakin. Dua belas peluru gagal mencabut nyawa Mat Dongok.

Lagu “Belah Duren” kembali terdengar. Suara mendesah Julia Perez begitu kontras dengan suasana di malam itu. Dicky terkejut. Nama yang muncul di layar hp-nya bukan Johny Sembiring, melainkan pucuk pimpinan tertinggi di markasnya: Komisaris Besar Adiansyah Gunawan, Kapolres Metro Jakarta Barat. Orang Lampung juga seperti dirinya. Seorang polisi senior yang dijuluki mbahnya reskrim Indonesia. Pemburu ulung para bandit dan rampok seperti Mat Dongok sejak zaman Orde Baru Soeharto.

“Siap perintah, Komandan.”

“Halo Dicky,” terdengar suara merdu namun berwibawa di ujung sana. “Apa kabar si Mat Dongok? Sudah dieksekusi? Jangan ditunda! Begal kejam seperti itu otaknya sudah korengan! Korbannya yang mati 18 orang!”

“Siap 86, Ndan. Kami telah melepas dua belas tembakan di leher, dada, ulu hati, perut dan kepalanya tapi dia hanya sekarat...”

“Oh. Memang kebal dia,” potong Adiansyah Gunawan. “Begini caranya, Dicky. Buka mulutnya, masukkan pistolmu terus tembak. Sepanjang pengalaman saya 25 tahun di reskrim belum pernah ada residivis yang katanya sakti yang tak mati ditembak dengan cara begitu.”

“Laksanakan, Komandan.”

“Kamu belum sah jadi anggota buser[7] sebelum berhasil menembak mati penjahat kambuhan seperti dia!”

“Siap, Ndan.”

Dicky terprovokasi perkataan kapolresnya. Pesan ayahnya lenyap. Suara memelas Mat Dongok lindap. Dicengkeramnya leher si bandit muda yang tengah sekarat itu. Ia lepaskan satu tembakan ke dalam rongga mulut Mat Dongok. Bandit belia itu mati seketika dengan mata melotot. Tempurung kepalanya pecah. Otaknya berhamburan. Darah segar membasahi kaca belakang mobil patroli. Tangan Dicky pun basah oleh cairan otak dan darah tersangka. Ia muntah. Tubuhnya gemetar. Anak buahnya berlarian, melompat ke atas pick up.

“Biar kami yang bereskan. Ndan Dicky istirahat saja,” kata Cugito. Dua orang anggota buser reskrim Polres Metro Jakarta Barat memapah komandan mereka. Di dini hari itu Dicky jatuh mentalnya. Ia pulang ke rumah dikawal beberapa anak buahnya. Setiba di rumah ia langsung tidur. Dalam mimpinya Dicky berjumpa dengan Mat Dongok. Bandit remaja itu berkata: “Kita sama-sama orang Lampung, Pak. Saya dan bapak bisa seangkonan muakhi potong kerbau selusin. Biayanya biar keluarga saya yang tanggung-jawab. Yang penting bapak jangan bunuh saya.” Samar-samar di kejauhan ia melihat mendiang ayahnya menatapnya dengan pandangan mata penuh kekecewaan. Teramat kecewa. (*)      

Telukbetung, Bandarlampung, 18 September 2017

 

--------------------------------------

1 Tradisi mengangkat saudara dengan menyembelih beberapa ekor kerbau atau sapi atau kambing atau ayam dalam tradisi masyarakat Lampung.
2 Reskrim, reserse dan kriminal.
3 Suku Melinting, salah satu puak di dalam masyarakat adat Lampung.
4 Bujang gadis, bahasa Lampung.
5 Ndan, komandan.
6 Memiliki ilmu kebal, sakti.
7 Buser, buru sergap. Tim khusus pemburu dan penangkap bandit/pelaku kejahatan dengan kekerasan.

 

PENGARANG CERITA

MUHAMMAD HARYA RAMDHONI JULIZARSYAH, Ph.D [MHR] merupakan peranakan Lampung Liwa dan Solo yang dilahirkan di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Juli 1981. Ia menikmati beberapa tahun masa kanak-kanak di kota kelahirannya. Sebagian besar masa kanak-kanak hingga remaja ia habiskan di beberapa daerah perdalaman di propinsi Lampung mengikuti ayah dan ibunya yang bertugas sebagai dokter. Ia merampungkan pendidikan terakhir Ph.D dalam bidang Ilmu Politik di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). MHR telah menghasilkan lima buah buku yaitu: prosa sejarah Sekala Brak “Perempuan Penunggang Harimau” [BE Press, 2011]; dua buah buku kumpulan cerita masing-masing berjudul: “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” [Penerbit Koekoesan, 2012] dan “Mirah Delima Bang Amat” [Ladang Publishing, 2017]; sebuah buku pilihan sajak berbahasa Lampung “Semilau” [Pustaka Labrak, 2017]; dan sebuah buku kumpulan sajak “Sihir Lelaki Gunung” [Ladang Publishing, 2018]. Cerpen-cerpen dan sajak-sajaknya dimuat di berbagai harian dan majalah lokal maupun nasional serta diterbitkan juga di media massa Malaysia. Ia meraih Hadiah Rancage Sastra Lampung 2018 untuk buku pilihan sajak “Semilau” [Pustaka Labrak, 2017]. Buku kumpulan cerita “Kitab Pernong” merupakan karya keenam dari MHR yang akan terbit pada akhir tahun 2018. Saat ini ia bergiat sebagai Politisi Partai Solidaritas Indonesia Provinsi Lampung.

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID