Bagir Manan Minta Pers Menjadi Pemandu - RILIS.ID
Bagir Manan Minta Pers Menjadi Pemandu
Kalbi Rikardo
Kamis | 28/11/2019 17.05 WIB
Bagir Manan Minta Pers Menjadi Pemandu
Mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan saat menjadi pembicara dalam acara sosialisasi Indeks Kemerdekaan Pers di Hotel Horison, Bandarlampung, Kamis (28/11/2019). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo

RILIS.ID, Bandarlampung – Ketua Dewan Pers periode 2013-2016 Bagir Manan meminta pers hendaknya menjadi pemandu. Pesan itu juga tercantum dalam bukunya berjudul "Menjaga Kemerdekaan Pers di Pusaran Hukum".

“Saya telah menuliskan buku, dalam tulisan itu saya menuliskan pers itu hendaknya menjadi pemandu," kata mantan Ketua Mahkamah Agung ini saat sosialisasi Indeks Kemerdekaan Pers di Hotel Horison, Bandarlampung, Kamis (28/11/2019).

Menurut pria kelahiran Lampung, 6 Oktober 1941, itu kemerdekaan pers tidak dapat dipisahkan dari demokrasi.

“Sampai ada seorang ahli mengatakan, tidak akan ada demokrasi tanpa kemerdekaan pers, dan tidak akan ada kemerdekaan pers tanpa demokrasi. Jadi kalau kita ingin demokrasi, tapi tidak ingin kemerdekaan pers atau sebaliknya, itu bukan peradabannya,” ujarnya.

“Inilah peradaban pertama yang harus kita pupuk kesadaran. Apakah kita ingin demokrasi atau tidak, jika ingin demokrasi salah satu instrumennya adalah pers merdeka. Demokrasi itu tidak mudah karena melibatkan orang banyak," sambungnya.

Bagir juga meminta insan pers menanamkan hal itu untuk menjadi kesadaran intelektual pribadi.

Lebih jauh, ia menyinggung indeks kemerdekaan pers yang sudah dilakukan oleh berbagai lembaga di luar Dewan Pers setiap tahun.

“Pada waktu itu, tidak hampir selalu, bahkan banyak sekali terjadi adanya keganjilan. Kok indeks pers kita lebih rendah dari Vietnam, Kamboja atau Malaysia. Terutama setelah reformasi. Kalau sebelum reformasi kita dapat mengerti, kita mengatakan meski ada cara mengukur yang berbeda yang kurang mencerminkan realitas yang ada pada kita. Maka kita mulai mengukur ini,” tuturnya.

Bagir berpesan agar kekurangan atas kemerdekaan pers menjadi suatu proses dari pendidikan. Termasuk mengatasi sejumlah kekurangan tersebut.

“Bagaimana ciri orang yang arif, di dalam bahasa kearifan itu sendiri sering dikatakan seperti ini: orang yang mengetahui sesuatu tapi selalu mengatakan saya tidak tahu, itu orang arif, yang kedua orang arif itu adalah orang yang tidak tahu dan tahu dia tidak tahu. Bagaimana ciri orang tidak arif,  dia tidak tahu merasa tahu dan dia tidak pernah tahu bahwa dia tidak tahu,” kelakarnya.

Bagir menambahkan Indeks Kemerdekaan Pers memberikan petunjuk bagi semua lembaga.

“Nudah-mudahan menjadi petunjuk untuk kita. Dan perlu perbaikan-perbaikan lagi,” tandasnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID