Berakhirnya Saum
[email protected]
Kamis, 14/06/2018 06:00
Berakhirnya Saum
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – KETIKA bulan Ramadan berakhir maka selesai pula saum. Karena kewajiban saum hanya selama bulan Ramadan. Mengingat saum banyak larangan dan pantangan sehingga harus mengendalikan diri, maka banyak yang merasakan kebebasan dari berbagai batasan. Terlebih lagi banyak yang merasa memenangkan perjuangan atas banyaknya batasan baik fisik maupun mental.

Wajar bila tumbuh rasa menang dan bangga telah menaklukkan kewajiban yang berat. Itulah sebabnya orang tua merasa perlu memberikan ’hadiah’ kepada anak-anak. Semua orang bergembira menyambutnya.

Dalam konteks Indonesia, momentum berahirnya Ramadan yang disebut Lebaran atau Hari Raya Idulfitri disertai dengan libur yang cukup panjang. Momentum ini dijadikan media silaturahim sesama keluarga terutama yang berjauhan sehingga jarang berkumpul. Itulah sebabnya banyak yang kembali ke kampung asal di mana orang tuanya masih tinggal.

Kondisi itulah yang kemudian memunculkan fenomena mudik. Kemeriahan silaturahim ditandai dengan rasa syukur sehingga semua menyiapkan kuliner sebagai tanda bahagia dan pakaian yang bagus sebagai tanda penghormatan.

Fenomena ini banyak menimbulkan bias sebagai implikasi sifat manusia yang tidak pernah puas dan cenderung membanggakan diri. Muncul kecenderungan belanja yang berlebihan baik pakaian, makanan, maupun aksesoris lainnya.

Secara ekonomi mendorong kenaikan harga sehingga bersifat inflatoir. Secara sosial mendorong demonstration effect sehingga saling berlomba menampilkan yang terbaik dan terbanyak. Ini semua pengaruh budaya dan tingkat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama. Ada yang menampilkan atribut (tampilan), tapi juga ada yang menampilkan substansi (perilaku).

Untuk tidak terjebak dalam debat fenomena lebaran yang tidak sejalan dengan nilai saum yang berusaha mengendalikan diri, ada baiknya kita simak bagaimana teladan keluarga Rasulullah SAW dalam berhari raya Idulfitri.

Adalah Ibn Rafi’i (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232) menceritakan hal ini setelah wafatnya Rasulullah SAW. Hal ini disembunyikan karena Rasulullah SAW meminta untuk tidak menceritakannya. Kemudian diceritakan Ibn Rafi’i karena kekhawatiran telah menyembunyikan hadis.

Hal ini terjadi pada keluarga Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah SAW, dan Sayyidah Fatimah Az Zahrah, anak Rasulullah SAW.  Pada malam takbiran bersama anaknya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husin, mereka membagikan gandum dan kurma kepada fakir miskin. Dengan memanggul sendiri Ali bin Abi Thalib dan keluarganya mendatangi fakir miskin. Pada saat Idulfitri dimana orang bergembira dengan kuliner dan pakaian bagus, Ibn Rafi’i menyambangi sahabatnya, Ali bin Abi Thalib.

Dia mendapati keluarga Ali bin Abi Thalib sedang bercengkerama bahagia dengan tampilan bersahaja dan menikmati gandum tengik yang tercium dari aromanya. Ibn Rafi’i terkesima menyaksikannya sehingga tidak jadi bertamu malah justru bergegas menemui Rasulullah.

Dengan terengah, Ibn Rafi’i mengajak Rasulullah SAW melihat Sayyidah Fatimah Az Zahra serta Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husin tanpa mampu bercerita.

Rasulullah SAW pun bergegas mencemaskan anak cucunya. Sesampainya di rumah Sayyidah Fatimah Az Zahra, Rasulullah SAW tidak langsung masuk, tapi terkesima dengan kebahagiaan keluarga anaknya yang tampak berpenampilan bersahaja dan mencium aroma tak sedap dari gandum yang terhidang. Buliran air mata menetes membasahi wajahnya. 

”Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah. Di hari Idulfitri keluargaku makanannya adalah gandum yang tengik. Di hari Idulfitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. ”Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, ”Surga untukmu, Nak. Surga untukmu”.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari keluarga Rasulullah SAW dalam bergembira merayakan Idulfitri. Semoga nilai-nilai saum tercermin pada kegembiraan kita merayakan hari raya Idulfitri. Semoga. (*)

Editor: gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)