Beton Flyover Pramuka Ternyata Belum Waktunya Dipasang - RILIS.ID
Beton Flyover Pramuka Ternyata Belum Waktunya Dipasang
El Shinta
Rabu, 2018/03/14 17.31
Beton Flyover Pramuka Ternyata Belum Waktunya Dipasang
Pekerja memperbaiki patahan flyover yang menghubungkan Jalan Pramuka dan Jalan Indra Bangsawan, Rabu (14/3/2018). FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – PT Dewanto Cipta Pratama menurunkan lima pekerja untuk memperbaiki patahan di flyover yang menghubungkan Jalan Pramuka dan Jalan Indra Bangsawan, Kecamatan Rajabasa, Rabu (14/3/2018). Pekerja dari kontraktor flyover itu masih melakukan tahap finishing untuk perbaikan RC plate.

Dari pantauan, pasca viralnya patahan di flyover Pramuka-Indra Bangsawan, kondisi arus lalu lintas tetap seperti biasa. Kendaraan roda dua dan roda empat tetap melintasi jembatan layang yang diresmikan pada 25 Januari 2018 lalu.

Kepala Pelaksana PT Dewanto Cipta Pratama Flyover Pramuka-Indra Bangsawan, Sutarno mengatakan hari ini pihaknya tengah memperbaiki dua titik patahan.

“Itu yang patah bekisting atau plat corannya yang patah. Nggak ada pengaruhnya untuk konstruksi bangunan flyover,” kata Sutarno kepada rilislampung.id saat ditemui di lokasi.

Dirinya menjelaskan, penyebab patahan bekisting yakni umur beton yang masih muda.

“Beton siap digunakan itu kan 21 hari, kemarin waktu pembangunannya kan kita diminta dikebut. Umur beton baru 75 persen jadi sudah diminta dikerjakan,” jelas Tarno.

Dirinya menjelaskan, RC plate yang patah itu memang merupakan kelalaian dari pihaknya. 

"Itu kan RC plate yang patah dari saat pengecoran, bukan baru-baru ini patah. Ini memang kelalaian pekerja kami yang tidak memperhatikan patahan tersebut. Tapi kami pastikan patahan tersebut tidak berpengaruh apapun terhadap konstruksi flyover, karena itu patahan pada alat pencetakan beton saja," terangnya.

Tarno menerangkan, jika memang proyek dengan anggaran sekitar Rp 22 miliar memang patah, maka akan terlihat jelas pada konstruksi bangunan akan bocor.

"Tidak akan berpengaruh karena itu kan nonstruktural. Sekarang pembuktiannya kalau memang berpengaruh setiap hari kan hujan, kalau itu patah pasti ada air yang bocor lewat patahan itu. Kalau nggak ada yang bocor ya berarti nggak patah. Itu penjelasan secara visualnya, nggak pakai ilmu teorinya," tandasnya.

Diketahui, proyek flyover kedelapan merupakan salah satu pembangunan infrastruktur yang didanai APBD 2017 dengan anggaran sekitar Rp 22 miliar. Pengerjaan flyover ini mengalami keterlambatan pengerjaan dari kontrak awal yakni bulan April dan baru dimulai pada Agustus 2017.

Keterlambatan pembangunan yang hanya 6 bulan saja oleh PT. Dewanto Cipta Pratama dengan mengerahkan 80-120 pekerja  ini akhirnya resmi digunakan pada awal Februari 2018 dengan kapasitas kendaraan hingga 25 ton. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)