BP3TKI Akui Abai Program Peduli Anak Pekerja Migran - RILIS.ID
BP3TKI Akui Abai Program Peduli Anak Pekerja Migran
Bayumi Adinata
Rabu | 15/05/2019 17.01 WIB
BP3TKI Akui Abai Program Peduli Anak Pekerja Migran
Kegiatan Pelita Pekerja Migran yang dilakukan di Lampung Timur. FOTO: HUMAS BP3TKI

RILIS.ID, Lampung Timur – Dalam upaya pelindungan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) bentuk program kegiatan Peduli Literasi Anak (Pelita) Pekerja Migran.

Kepala BP3TKI Lampung, Ahmad Salabi menjelaskan  bahwa kegiatan yang pertama kali dilakukan BNP2TKI ini memiliki misi agar anak-anak PMI memiliki cita-cita yang tinggi dan tidak mengikuti jejak orang tuanya menjadi PMI sektor informal atau PLRT.

Ia menekankan agar apabila ingin bekerja di luar negeri, anak-anak harus menjadi PMI profesional. Kegiatan ini kita lakukan di Lampung Timur, karena banyak orangtua di sini yang menjadi PMI.

Ia mengakui, selama ini program-program yang dijalankan belum fokus pada anak PMI yang ditinggal orang tuanya bekerja. Padahal, merekalah yang paling merasakan dampak atas kepergian orang tuanya bekerja di luar negeri.

“Semoga program Pelita PMI ini dapat berkelanjutan, melihat antusias warga yang tinggi dan rona bahagia yang terpancar dari anak-anak, sungguh membuat kita terharu,”, terang Salabi kepada rilislampung.id, Rabu (15/5/2019).

Sementara itu, Susanti Pradini Psikolog, selaku pemandu program Pelita PMI, mengatakan sebagian anak-anak pekerja migran dapat mengalami penurunan motivasi belajar setelah diasuh oleh dua generasi lebih tua.

Ketika di sekolah anak-anak dapat menjadi minder. Pada anak yang diasuh oleh nenek atau kakek yang tidak punya latar pendidikan yang baik dan tidak paham dengan perkembangan terkini, anak cenderung manja dan tidak antusias di sekolah. “Selain itu mereka juga kesulitan dalam berkomunikasi dengan tutur kata yang sopan," kata dia.

Tak hanya itu, kepekaan sosial mereka juga menjadi rendah bahkan saat mereka berbicara/berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih tua disamakan dengan saat berbicara dengan teman sebaya mereka.

Dari semua itu menunjukkan bahwa kecerdasan sosial emosional mereka sangatlah rendah yang dikarenakan menurunnya budaya membaca dan bercerita di kehidupan/lingkungan keseharian mereka.

Sebenarnya, anak menjadi kurang peka dan kurang sopan santunnya itu tergantung cara orang tua mendidiknya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua harus lebih mendekat dengan anak-anak dengan meluangkan waktunya untuk bermain dan bercerita/mendongeng pada anak-anak sehingga anak bisa mengerti dan merasa bahwa orang tuanya itu memperhatikannya, mengasihi, menyayangi, dan anak merasa diharapkan.(*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID