Buah Simalakama Listrik Harus Murah - RILIS.ID
Buah Simalakama Listrik Harus Murah
[email protected]
Senin | 23/04/2018 06.01 WIB
Buah Simalakama Listrik Harus Murah
Dr. Andi Desfiandi, Ketua Yayasan Alfian Husin

DUNIA dan juga Indonesia sangat berharap bahwa sumber-sumber energi terbarukan bisa segera terealisasi dan tentunya dengan harga yang murah.

Namun sepertinya mimpi tersebut masih perlu waktu untuk terealisasi karena pengembangan energi terbarukan relatif mahal dibandingkan sumber energi konvensional/fosil.

PLN, misalnya, hingga saat ini masih menggunakan sekitar 60 persen dari bauran energi primer menggunakan batubara. Karena dari batubara, tarif listrik PLN paling murah yaitu USD4 sen per kWh (kilowatt hour) dibandingkan misalnya dari sumber tenaga angin yang USD10 sen per kWh yang dibayar PLN. Buah simalakama sebenarnya karena pemerintah menginginkan listrik murah, tapi juga mendorong penggunaan energi terbarukan bagi kebutuhan energi di masa depan.

Pada akhirnya untuk tetap mempertahankan tarif listrik yang murah maka pemerintah harus tetap memberikan subsidi agar PLN tidak merugi dan masyarakat tetap mendapatkan tarif listrik yang relatif murah.

Selain itu permasalahan semakin bertambah dengan target pemerintah meningkatkan rasio elektrifikasi secara nasional. Tujuannya agar terjadi pemerataan listrik di seluruh Indonesia dan juga menghilangkan byar-pet yang kerap terjadi akibat masih kurangnya pasokan listrik. Program 35 ribu MW (megawatt) listrik dicanangkan bukan hanya untuk menaikkan rasio elektrifikasi. Tapi juga untuk mengantisipasi kebutuhan listrik di masa depan.

Masalahnya apabila PLN masih harus meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam bauran sumber energinya, maka otomatis tarif listrik akan meningkat. Apalagi dengan penambahan pasokan listrik, subsidi pemerintah untuk listrik kian berat, walaupun pemerintah sudah menetapkan harga tertinggi batubara khusus PLN adalah USD70. DIketahui, saat ini harga batubara sudah melewati USD100, namun untungnya Indonesia surplus produksi batubara.

Apa yang harus dilakukan pemerintah dan PLN dalam menghadapi buah simalakama ini ? Menurut saya tidak ada cara selain tetap membiarkan PLN menggunakan batubara untuk sementara sebagai mayoritas sumber bauran energinya.

Selain itu melakukan restrukturisasi operasional termasuk skema pembiayaannya agar lebih efisien dan efektif. Juga secara simultan penggunaan dan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas dan panas bumi secara optimal, didorong dengan melakukan deregulasi yang menyeluruh. Baik perizinan, fiskal, dan pembiayaannya. Karena cadangan panas bumi dan gas Indonesia sangat berlimpah dan relatif lebih murah.

Barangkali langkah-langkah tersebut bisa sedikit banyak membantu kinerja operasional sekaligus keuangan PLN dan juga tetap mempertahankan tarif yang relatif murah.

Diharapkan juga pada akhirnya secara perlahan subsidi listrik akan bisa dihapuskan. Sehingga, dana subsidi bisa digunakan untuk pembangunan yang produktif dan bernilai tambah serta rasio elektrifikasi dan pemerataan listrik juga meningkat. Wallaahua’lam (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID