Budaya Lampung dan Problem Milineal (1) - RILIS.ID

Budaya Lampung dan Problem Milineal (1)
[email protected]
Senin, 2018/06/11 07.00
Budaya Lampung dan Problem Milineal (1)
SPDB Drs Pangeran Edward Syah Pernong SH MH, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23

KEBUDAYAAN merupakan proses kreatif untuk memenuhi kebutuhan manusia demi menggapai gagasan luhur yang diharapkan. Dengan demikian, kebudayaan adalah proses yang berjalan terus-menerus seiring dengan kemajuan yang diciptakan manusia.

Sebuah masyarakat atau suku bangsa akan hidup dengan kebudayaannya, selama kebudayaan itu dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh para pengusungnya. Namun bila tantangan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka manusia dengan kemampuannya beradaptasi, akan mengadaptasi kebudayaan lain, yang dinilai dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kebutuhan jelas merupakan keniscayaan hidup. Oleh sebab itu kebudayaan yang tidak sanggup memenuhi tuntutan kehidupan akan ditinggalkan oleh para pengusungnya. Dan lama-kelamaan budaya itu akan hilang sama sekali digantikan oleh kebudayaan asing.

Proses tersebut melahirkan apa yang disebut kondisi ’gegar budaya’. Gegar budaya akan membuat manusia pengusungnya kehilangan identitas kebudayaannya, bagai manusia tanpa rumah, ia tak memiliki hak apapun, kecuali menjalankan kewajiban yang dibebankan orang lain kepadanya.

Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku.

Pengembangan kebudayaan harus dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas yang sesuai dengan nilai-nilai luhur. Pengembangan kebudayaan juga perlu menciptakan iklim yang kondusif dan harmonis, sehingga nilai-nilai kearifan lokal dapat merespons modernisasi dengan positif dan produktif.

Mengacu pada uraian tentang definisi kebudayaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan niscaya menghendaki pembaharuan sesuai dengan etnisitas dan tradisi. Oleh sebab itu strategi kebudayaan yang harus dilakukan adalah menatap ke depan.

Dalam zaman globalisasi, politik ’pintu tertutup’ tidak lagi relevan. Oleh sebab itu membangun strategi kebudayaan haruslah memiliki orientasi bahwa kebudayaan merupakan kesenyawaan antara kita dan masyarakat dunia.

Artinya ketujuh unsur kebudayaan: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian; harus terus-menerus diperbaharui sesuai dengan perkembangan intelektual, teknologi, kondisi sosial-politik, dan tuntutan kebutuhan untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa pemilik kebudayaan tersebut.

Generasi Milineal
Setiap generasi memiliki karakteristik masing-masing. Namun demikian, antargenerasi memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dalam membentuk karakter. Generasi pra-Perang Dunia I akan berbeda dengan generasi pasca-Perang Dunia. Demikian pula generasi pra-internet berbeda dengan generasi internet.

Para ahli menyebut generasi internet, atau generasi yang lahir bersamaan dengan ”revolusi wireless” sebagai generasi milineal atau generasi Y. Generasi milineal adalah mereka yang terlahir dalam rentang waktu 1980-an hingga akhir tahun 1999. Sedang generasi yang lahir setelah tahun 2000 disebut sebagai generasi Z.

Disebut generasi milineal karena mereka menjadi generasi yang pernah melewati milineum kedua. Generasi ini lahir saat teknologi informasi sudah berkembang, ketika seluruh dunia terkoneksi dengan internet (teknologi wireless).

Ciri-ciri generasi milineal antara lain, pertama, lebih mementingkan pengalaman pribadi.

Generasi milineal tidak mudah tergiur oleh iklan dari produsen, mereka lebih percaya pada informasi perorangan. Oleh sebab itu review yang bersumber dari pengalaman pribadi yang ditulis di sosial media sangat memengaruhi mereka dalam mengambil keputusan.

Informasi perorangan baik di bidang ekonomi (tentang produk barang dan jasa serta kuliner), pandangan politik, sikap keagamaan lebih mudah diterima oleh generasi milineal daripada iklan, ceramah, pidato, dan sejenisnya.

Kedua, ponsel sebagai Sumber informasi. Generasi milineal terlahir pada masa teknologi informasi berkembang pesat. Informasi yang disampaikan bukan hanya teks, tapi juga gambar dan audio tersampaikan secara real time.

Apa yang terjadi pada pemilihan Presiden AS, dalam waktu yang sama dapat diketahui oleh generasi milineal di Indonesia melalui smartphone. Perkembangan fashion di Paris dapat dilihat langsung pada gadget oleh anak-anak muda di Lampung. Oleh sebab itu televisi dan radio tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Generasi millennial lebih suka mencari melalui smartphone mereka sehingga dikenal istilah googling atau mencari informasi di mesin pencari Google.

Ketiga, tidak gemar membaca buku. Sejalan dengan pengaruh ponsel sebagai sarana utama untuk memperoleh informasi, maka generasi milineal tidak lagi gemar membaca buku atau membaca media konvensional. Mereka lebih suka membaca melalui smartphone. Bahkan informasi yang hanya berisi teks kurang diminati dibanding informasi yang berisi audio dan visual serta audio visual.

Keempat, berakhirnya era uang tunai. Generasi milineal melakukan transaksi tidak lagi di outlet secara langsung dengan uang tunai. Mereka dapat bertransaksi di seluruh dunia dengan menggunakan transfer, kartu kredit, maupun e-money, paypal, dan sejenisnya. Bagi mereka, uang hanyalah sederet angka yang tak terlihat namun nyata bermanfaat.

Kelima, akun sosial media sebagai identitas. Saat ini, seluruh dunia memiliki identitas yang sama, yaitu email. Meski masih tetap memiliki kartu tanda penduduk/ paspor, namun dalam pergaulan global digunakan identitas yang sama yaitu email.

Email merupakan pintu masuk untuk membuat akun sosial media. Di sosial media inilah generasi milineal berinteraksi dengan sebayanya di seluruh dunia, membahas masalah teknologi, fashion, politik, dan sebagainya.

Melalui akun media sosial ini mereka bebas berekspresi,bahkan tidak jarang mereka mencari uang melalui sosial media, menjadi tokoh pujaan dengan banyaknya followers di sosial media.

Keenam, bekerja efektif, tapi tidak loyal. Generasi milineal dikenal sebagai generasi yang dapat bekerja secara efektif, dalam waktu yang hampir bersamaan mereka dapat melakukan beberapa pekerjaan. Seperti sambil belajar menjelang ujian, mereka juga dapat menjual produk.

Di samping itu juga memesan tiket pesawat dan hotel untuk liburan akhir semester. Demikian efektifnya generasi milineal bekerja sehingga dunia bergerak begitu cepat, saling memengaruhi, atau dengan istilah tranding topic, viral, dan kalimat lain sejenis.

Namun efektivitas dalam bekerja itu, dibarengi dengan sikap selalu berusaha mencari tantangan baru. Oleh sebab itu generasi milineal tidak memiliki loyalitas yang tinggi, mereka cenderung berubah dan berpindah. Rata-rata generasi milineal hanya bertahan pada pekerjaan mereka selama tiga tahun, kemudian mencari peluang lain.

Ketujuh, antisosial tapi memiliki empati tinggi. Hal yang unik dari generasi milineal adalah, secara sosial mereka enggan atau jarang bergaul di dunia nyata. Mereka lebih suka bergaul di dunia maya. Sehingga generasi milineal sering tidak kenal tetangganya.Di sisi lain, mereka akan sangat mudah berempati pada penderitaan yang terviralkan melalui sosial media. Maka tidak heran jika generasi milineal bukan menengok tetangganya yang di rawat di rumah sakit. Namun justru mendonasikan sebagian uangnya untuk anak-anak Palestina korban kekejaman Israel. (*/bersambung)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)