Budaya Lampung dan Problem Milineal (2/Habis) - RILIS.ID
Budaya Lampung dan Problem Milineal (2/Habis)
lampung@rilis.id
Selasa, 2018/06/12 07.01
Budaya Lampung dan Problem Milineal (2/Habis)
SPDB Drs Pangeran Edward Syah Pernong SH MH, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23

SETELAH membaca uraian tulisan bagian pertama (baca: Budaya Lampung dan Problem Milineal (1)), lalu bagaimana soal eksistensi budaya Lampung di era milineal? Persoalan tersebut bukan hanya menjadi masalah masyarakat adat, tapi menjadi problem kita bersama, warga bangsa Indonesia. Lebih spesifik, bagaimana falsafah hidup masyarakat Lampung yang disebut dengan pi’il pesenggiri dapat ditransformasikan pada generasi milineal?

Pi’il Pesenggiri merupakan tatanan moral sebagai pedoman bersikap dan berperilaku masyarakat adat Lampung.

Pi’il pesenggiri itu meliputi, pertama, Juluk-Adok yakni identitas utama yang melekat pada orang Lampung. Juluk-adok diatur dalam tata cara adat. Karena Juluk-adok berkaitan dengan masyarakat adat, maka setiap orang wajib menjaga Juluk-adok yang sudah diberikan. Wajib menjaga sikap dan perilakunya di tengah masyarakat.

Pada generasi milineal, menjaga sikap dan perilaku itu juga meliputi sikap dan perilaku di dunia maya, artinya demi menghormati Juluk-adok maka jangan menyebarkan informasi yang tidak benar (hoax), berisi kebencian, atau penodaan. Sebaliknya, dengan memahami Juluk-adok generasi milineal perlu menyebarkan kedamaian, toleransi, dan sikap saling menghormati.

Kedua, Nemui-Nyimah yang bermakna gemar bersilaturahmi atau berkunjung dan murah hati atau suka memberi. Nemui-nyimah harus dilandasi dengan keikhlasan. Itu identitas orang Lampung yang harus dijaga.

Dalam kondisi sekarang, Nemui-nyimah harus benar-benar digalakkan demi terciptanya masyarakat yang aman, damai, saling bekerja sama dan bergotong royong. Nemui-nyimah pada generasi milineal ialah eksistensi mereka dalam komunitasnya di dunia maya. Generasi milineal Lampung dalam berinteraksi dengan komunitas dunia perlu dilandasi sikap keikhlasan untuk membantu memecahkan problem-problem generasinya.

Ketiga, Nengah-Nyappur  yang bermakna sikap toleran antar sesama, menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Dalam masyarakat Lampung yang plural, prinsip Nengah-nyappur ini wajib dijunjung tinggi, agar tercipta tatanan sosial yang harmonis. Demikian pula pada generasi milineal, prinsip hidup dalam komunitas yang plural harus senantiasa bisa membawa diri, tidak mengutamakan ego namun mengedepankan kerja sama.

Keempat, Sakai-Sambaiyan yang berarti tolong menolong, solidaritas, dan gotong royong. Setiap orang Lampung, semua yang ada di wilayah Lampung wajib melakukan Sakai-Sambaiyan, saling tolong, membangun solidaritas, berpartisipasi pada semua program pembangunan yang sudah direncanakan oleh Pemerintah Indonesia maupun yang sudah dicanangkan oleh pemerintah daerah. Empati generasi milineal perlu diarahkan pada kondisi masyarakat Lampung khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Kelima, Titie Gemattei yang berarti mengikuti kebiasaan yang baik. Orang Lampung wajib mengikuti kebiasaan yang baik dari leluhur kita. Karena para leluhur sudah mewariskan budaya, adat dan kearifannya dan kita tinggal menjalankan. Tapi tidak berarti kita harus kaku dengan apa yang kita yakini, apa yang sudah lazim kita lakukan karena Titie Gemattei juga mengajak kita untuk beradaptasi dengan perubahan, selama perubahan itu membawa ke arah yang lebih baik.

Ambil hal-hal baru yang baik, dan pertahankan hal-hal lama yang baik. Kemampuan generasi milineal untuk memiliki independensi dan tidak mudah ikut arus, perlu ditekankan. Jangan sampai generasi milineal hanya mengikuti tren global hingga lupa pada kebudayaan sendiri

Ciri-ciri generasi milineal seperti diurai di atas, sebaiknya dimanfaatkan bukan hanya untuk menjadi bagian dari warga dunia, tetapi dimanfaatkan untuk mengekspose atau memviralkan kebudayaan lokal.

Generasi milineal memiliki peluang besar untuk memperkenalkan identitas lokal yang bersumber dari kebudayaan nasional sebagai bagian dari pergaulan global. Bukankah sushi atau hamburger yang dahulu menjadi makanan Jepang dan Amerika kini menjadi makanan global? Mengapa tidak jika tempoyak juga menjadi makanan global?

Demikian pula dalam hal kebudayaan. Nilai-nilai Pi’il Pesengiri dapat dieksplore dan disesuaikan dengan perkembangan jaman, kemudian dikomunikasikan sebagai nilai-nilai universal.

Kearifan lokal yang dimiliki seluruh suku bangsa di Indonesia, perlu dikomunikasikan melalui akun media sosial agar menjadi viral dan trending topics global agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya, tetapi justru menjadi semakin kuat.

Upaya-upaya memperkuat dan mengembangkan identitas lokal dapat dilakukan oleh generasi milineal melalui smartphone. Idealisme generasi milineal perlu diarahkan untuk bermain di tingkat global, bukan lagi lokal.

Hal itu dapat dilakukan bila generasi milineal memiliki kebanggaan pada bangsanya. Oleh sebab itu kita berharap generasi milineal mempelajari sejarah bangsa Indonesia agar tumbuh kebanggaan terhadap bangsanya. Dari kebanggaan itu kemudian dikembangkan menjadi lebih produktif. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)