Dokterku, Pahlawanku (Refleksi Hari Dokter Nasional 2018) - RILIS.ID

Dokterku, Pahlawanku (Refleksi Hari Dokter Nasional 2018)
[email protected]
Selasa, 2018/10/30 06.00
Dokterku, Pahlawanku (Refleksi Hari Dokter Nasional 2018)
Karina Lin, Penulis tinggal di Bandarlampung

SUDAH genap empat tahun belakangan ini saya bersentuhan dengan dokter. Wajar saja, mengingat status saya sebagai odapus (orang penyandang lupus) dan odai (orang penyandang autoimun, saya juga memiliki AIHA atau Autoimun Hemolistik Anemia  – yang masih sekeluarga dengan lupus, yakni sama-sama tergolong penyakit autoimun) dan termasuk penyakit kronis.

Mengutip laman zubairidjoerban.org, dijelaskan bahwa kronis artinya ketika gejala yang muncul bertahan hingga lebih dari enam minggu hingga bertahun-tahun. Maka mengunjungi dokter menjadi sebuah rutinitas tak terbantahkan bagi saya.

Saya ingat pada masa awal mencari tahu penyakit yang saya derita ini apa? Berhubung gejalanya bermula dari kulit, maka saat itu (Juli 2014) saya mengunjungi seorang dokter kulit di sebuah RS di Kota Bandarlampung. Tercatat dua kali saya mengunjunginya, sebelum akhirnya berpindah ke dokter lain (masih satu spesialis) dan akhirnya menemukan jawaban soal penyakit saya, yaitu SLE (Systemic Lupus Erythematosus) alias lupus.

Diagnosa ini saya terima pada Januari 2015 dan semenjak itulah RS menjadi akrab dengan saya. Saking sering wara-wiri di RS, tempat itu laksana rumah kedua saya.

Sewaktu masih dirawat oleh dokter spesialis penyakit dalam di salah satu RS Kota Bandarlampung, sang dokter menjadwal saya rutin kontrol sekali dalam sepekan. Artinya kalau sebulan terdapat empat minggu maka sebanyak empat kali lah saya bertemu pak dokter (dokter saya laki-laki). Bosan ya? Tapi lama-lama saya jadi terbiasa.

Setelah memindahkan perawatan ke ibukota Jakarta (tepatnya mulai November 2016), jadwal mengunjungi dokter sedikit berkurang. Ah ini tentulah menyesuaikan dengan peraturan RS yang berlaku dan BPJS (saya berobat pakai BPJS) dan kondisi pasien, yakni saya.

Oleh DPL (dokter pemerhati lupus) di RS Kramat 128, kala itu saya dijadwal dua minggu sekali untuk kontrol dan setelah berbagai fase (yang syukurlah positif)- sekarang saya dijadwal (hanya) sekali sebulan untuk kontrol.

Berkaitan jadwal kontrol, kadang ada pikiran lucu menyelip. Bagi yang punya pasangan, mungkin saja menjadi cemburu. Setiap bulan (entah berapa kali jadwalnya) wajib menemui dokter. Ketemu pacar atau pasangan saja belum tentu bisa rutin kan? Sampai-sampai saya menyebut rutinitas menemui dokter sebagai ngapel atau wakuncar (waktu kunjungan pacar). Memang, dokter-dokter saya ibarat ”pacar” saya.

Intensnya saya bertemu dan bersentuhan dengan dokter (tak hanya DPL sendiri lho) menjadikan saya belajar dan sedikit banyak tentang suka duka dokter. Bahwa sesungguhnya profesi dokter tidaklah se-wah yang dibayangkan. Justru malah kalah dengan ”who” nya. Mengapa? Bagaimana?

 

Pasien Beragam, Berjuta Rasanya
Kita bicara pasien dulu ya. Pasien, siapa yang tidak akrab dengan kata ini dan pasti tahu maknanya. Dalam versi saya, pasien adalah setiap orang atau individu yang dirawat oleh dokter. Entah itu dirawat karena pengobatan penyakitnya atau hanya sekedar berkonsultasi atau mencari opini.

Biasanya ada kan orang yang sudah ke satu dokter dan mendapatkan jawaban atas masalah kesehatannya namun kurang puas atau belum yakin terhadap jawaban tersebut. Lalu ke dokter lain guna mencari opini lain seputar keluhan yang sama.

Nah, pasien tentu saja beragam. Baik itu beragam latar belakang yang secara SARA. Tapi di sini yang ditekankan adalah beragam penyakitnya. Ada pasien yang berpenyakit ringan datang ke dokter, yang sedang dan berat pun demikian. Tujuan mereka jelas sama, ingin penyakitnya sembuh, mendapat pengobatan yang tepat dalam menggempur penyakitnya.

Ya sama, saya pun demikian. Berharap pengobatan yang telah saya jalani selama ini berjalan ke arah positif dan bisa berbuah kesembuhan. Kalau di kalangan para odai atau odapus, disebut remisi. Ini adalah suatu kondisi di mana odai atau odapus yang bersangkutan stabil, imunnya tenang – tidak petakilan seperti (bukan menghina lho) kuda lumping. Pokoknya ibarat semilir angin membelai bunga dandelion.

Nah, beragam pasien yang memiliki beragam penyakit tersebut datang ke dokter. Di sinilah saya berpikir da bertanya. Apakah bapak atau ibu dokter tidak mumet 12 jari ya? Pasalnya ya itu tadi – pasiennya kan punya beragam keluhan kesehatan dan penyakit. Jangan lupakan levelnya yang ringan, sedang, berat.

Ya seandainya yang ringan, okelah. Kecilah – nggak masalah. Tapi bagaimana dengan yang kategori sedang sampai berat, malah beratnya kagak ketulungan? Perhatian dan pengobatan ekstra wajib diberikan. Terus pasien seperti ini (bukan menyumpahi) bukan satu dua orang saja. Banyak, cuma saya nggak tahu berapa angkanya.

Terbayang di benak saya. Apakah tidak lelah bapak atau ibu dokter, setiap hari begini? Pertama, harus menangani pasien yang banyak. Dokter saya di Lampung saja, dalam empat hari kerja (praktiknya) di RS tempat saya dirujuk, menangani 30-50 pasien per hari dan itu terbatas waktu (jam praktiknya).

Dokter saya yang di Jakarta lebih gila lagi. Praktik setiap hari (kecuali Minggu), tetapi pada hari Senin, Rabu dan Jumat adalah hari tersibuknya. Mengapa? Karena di tiga hari itulah jumlah pasiennya membludak, harus memberikan pencerahan kesehatan kepada pasiennya yang jumlahnya berpuluh-puluh bahkan sering pula sampai ratusan dalam sehari. Ini baru di satu tempat praktik. Kalau praktik di beberapa tempat, silakan dihitung sendiri.

Padahal seorang dokter, idealnya memiliki batasan jumlah pasien yang ditangani ketika praktik. Saya kutip dari laman Facebook Prof Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, dalam suatu postingannya memaparkan bahwa di Inggris seorang dokter menangani rata-rata 41,5 pasien, Eropa maksimal 25 pasien, Swedia maksimal 13 pasien.

Kedua, penyakit yang perlu ditangani atau diagnosis bervariasi, begitu pula dengan tingkat keparahannya. Jelas ini membutuhkan energi pikiran yang prima. Jangan sampai salah obat atau salah diagnosis. Karena alih-alih mengobati atau menyembuhkan, justru malah memperburuk keadaan.

Ketiga dari sisi karakter – ini juga berbeda-beda. Ada pasien yang manut dengan advis medis dokter. Diminta kontrol seminggu sekali – manut. Sebulan sekali – ikut. Obat dipesanin begini begitu, nurut.

Sebaliknya ada pasien yang tipe radikal dan nakal. Diresepi obat eh tidak diminum atau minum obat namun tidak rutin atau malah bikin jadwal minum obat sendiri. Diminta kontrol sebulan sekali, eh malah dua bulan sekali. Atau yang perlu menjalani terapi untuk penyakit kronisnya, dijadwalkan terapi tanggal A, B,C – malah mengganti jadwalnya sendiri. Sehingga naga-naganya terapinya gagal total. Tinggalah penyesalan.

 

Dokter pun Manusia
Sampai di sini, muncul pertanyaan lagi. Pernahkah sebagai pasien, memikirkannya? Atau mencoba memposisikan diri seandainya kita berada di posisi dokter? Jawabannya pasti bervariasi, antara ya dan tidak, antara kadang dan sering.

Kalau saya, ya dan sering, dan jujur saja bila berposisi atau menjalani profesi sebagai dokter – bisa jadi tidak sanggup – rentan dikejar stress dihadapkan kondisi demikian. Ya toh dan patut diingat (tapi sering dilupakan) bahwa dokter pun manusia – sama seperti kita (pasien-pasiennya) yang juga punya batas stamina. Seorang dokter juga bisa sakit akibat terlalu lelah, pola makan yang salah, gaya hidup yang serampangan.

Jadi bagaimana? Di sinilah peran kita sebagai pasien. Kita juga harus bisa memahami sang dokter. Bertanya kritis ketika bekonsultasi dengannya, tak masalah. Memang itu wajib dan hak kita sebagai pasien. Istilahnya menjadi pasien cerdas.

Namun terlebih daripada itu – saya kira kita pun perlu menjalankan advis medis dari dokter. Yang paling mudah dan sering adalah meminum obat atau menjalani terapi pengobatan sesuai kondisi penyakit atau kesehatan. Semisal punya masalah jantung atau paru dan dokter yang merawat menyarankan untuk stop hal-hal yang memperburuk kondisi – biasanya merokok, makan gorengan. Mbok ya dilaksanakan, stop lah merokok. Lebih bagus lagi jikalau punya inisiatif sendiri untuk berhenti merokok.

Sayangnya kan tidak semua pasien seperti itu. Pernah saya berobat ke dokter internis yang biasa merawat di Bandarlampung. Ada seorang pasien (bapak-bapak) masuk duluan daripada saya ke ruang dokter. Setelah dia selesai berkonsultasi, saya tak melihatnya lagi. Baru kelihatan (ini pun secara tak sengaja) usai saya berjalan dari bank (yang tak jauh dari RS) menuju ke RS. Si bapak berdiri di trotoar dengan seorang laki-laki muda (kemungkinan anaknya) dan sedang asyik mengisap rokok.

Astaganaga! Sedih dan heran saya melihatnya. Sudah tahu sakit tapi kok tetap melakoni hal yang tidak sehat, yang memperburuk kondisi kesehatan. Jika seperti itu, lantas untuk apa si bapak berobat atau berkonsultasi ke dokter? Diberi atau diresepkan obat untuk menjaga kesehatan, eh malah dia sendiri yang merusakkannya. Toh lebih baik tak usah berobat. Bagi saya hal tersebut tidak mengapresiasi profesi dokter.

Sangat sayang, pak dokter membuang waktu dan mencurahkan ilmunya untuk pasien semacam itu. Kalau bukan karena kepedulian, hati nurani, kode etik, kewajiban – lebih baik pasien seperti itu ditolak saja.

Seorang dokter kewajibannya tak selesai sampai di situ (menerima konsultasi dari pasien). Karena masih ada lagi. Misalnya harus melakukan visite ke pasien-pasiennya yang dirawat inap dan jumlahnya pun tak sedikit. Saya tahu karena saya terkadang mengobrol dengan dokter-dokter saya. Tak jarang ketika mereka sudah selesai praktik, tak bisa langsung pulang. Harus melakukan visite pasiennya. Padahal selesai praktiknya sudah hampir larut malam.

Ditambah visite pasien, silakan dihitung dan dikira-kira jam berapa selesainya. Bisa telah berganti hari alias dini hari. Visite pun dilakukan di hari semisal tanggal merah atau hari besar. Dokter saya, ketika hari Raya Idul Adha pun tetap mem-visite pasiennya.

Belum lagi seorang dokter harus selalu belajar untuk meng-update ilmunya. Seiring zaman, penyakit semakin bervariasi. Belajar menjadi suatu keharusan bagi seorang dokter. Dokter saya, di sela-sela kesibukannya pun melakukan. Sering trenyuh kalau melihat dokter-dokter seperti itu. Belajar hingga lewat tengah malam sehabis praktik yang juga selesainya malam.

Apakah semua dilakukan untuk dirinya sendiri? Tidak sepenuhnya. Saya lebih percaya sebagai bentuk pengabdian, dedikasi, tanggung jawab.

Selain praktik dan visite, seorang dokter juga harus disibukkan oleh tugas-tugas administrasi semacam mengisi laporan rekam medis pasien dan lain-lain. Pernah seorang teman Facebook saya yang merupakan internis di sebuah RS daerah Padang Sidempuan memasang status soal ini. Laporan mengenai pasien ini wajib diisi dan berapa banyak? Tergantung jumlah pasien yang ditangani. Jadi kalau semakin banyak pasiennya maka semakin panjang pula laporan yang harus dikerjakan.

Tetapi yang membuat saya kagum, tak ada keluh kesah dari para dokter saya. Setiap kali bertemu, tak tampak lelah atau raut kesal di wajah mereka. Senyum dan wajah yang teduh lah yang selalu nampak.

Sakit memang manusiawi dan ke dokter untuk mengatasi sakit merupakan hal yang wajar, memang patut dijalankan. Akan tetapi cobalah kita dari diri pribadi untuk menjadi seorang pasien yang juga mengapresiasi dokter. Caranya sederhana ya mengikuti advis medis dari dokter, menjalani hidup sehat. Niscaya, kesembuhan atau kondisi sehat bisa direngkuh. Sehat, itulah hadiah terbesar dari pasien untuk dokternya. Saya yakin tak ada dokter yang tak bahagia ketika mengetahui pasiennya sembuh dan kembali sehat setelah sakit.

Saya kira ini bisa menjadi suatu perenungan sekaligus momentum bagi kita semua. Terlebih pada 24 Oktober lalu, diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Selamat Hari Dokter Indonesia. Semoga para dokter Indonesia senantiasa selalu sehat sehingga bisa selalu mengabdikan ilmunya untuk kesehatan masyrakat Indonesia. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)