Dua Sastrawan Lampung Menilai Puisi Sukmawati Melukai - RILIS.ID
Dua Sastrawan Lampung Menilai Puisi Sukmawati Melukai
Gueade
Selasa | 03/04/2018 13.55 WIB
Dua Sastrawan Lampung Menilai Puisi Sukmawati Melukai
Sukmawati Soekarnoputri

RILIS.ID, Bandarlampung – Dua sastrawan Lampung angkat bicara soal puisi berjudul Ibu Indonesia karya Sukmawati Soekarnoputri. Mereka sepakat puisi itu ”telanjang”, tendensius, dan cenderung melukai.

Menurut paus sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS, puisi Sukmawati lebih seperti sindiran. ”Ya seperti satir yang mencemooh kukira,” tandas Isbedy kepada rilislampung.id, Selasa (3/4/2018).

Penyair yang Juni nanti genap 60 tahun itu menjelaskan, puisi lahir tidak dalam kekosongan budaya/sosial. Namun Sukmawati telah mengekspresikan persoalan yang sebenarnya rentan terhadap masalah sosial khususnya SARA.

”Ia telah menjustifikasi cadar tak lebih baik dari pakaian ibu pertiwi. Pun kidung pertiwi lebih bagus atau merdu daripada azan. Jadi ia memasuki wilayah agama yang mayoritas di Indonesia,” sesal Isbedy.

Dia menerangkan puisi harus dilihat tak bebas nilai, artinya akan terkait dan terikat dengan nilai-nilai luhur yang ada pada diri manusia. Kebebasan berekspresi tidak lantas penyair bebas menyuarakan apa saja dan menabrak apa saja.

Puisi Sukma itu juga terasa gamblang sehingga tak perlu tafsir yang multidimensi. ”Kalau tak paham syariat Islam, misalnya, kenapa ia sebut cadar sebagai bagian dari syariat?” tegasnya.

Sementara, Udo menilai puisi Sukmawati hampir tidak memberi ruang bagi pengimajian dan perenungan. ”Bikin puisi memang kelihatannya mudah. Tapi sebenarnya tidak gampang,” ungkapnya. 

Udo berpendapat, puisi yang baik selain memiliki nilai literer, juga punya kekuatan yang membius pembacanya. Yang paling penting,  puisi harus mampu memanusiakan manusia.

Makanya karya seorang penyair, lanjut Udo, harus memiliki makna yang mendalam dan berlapis-lapis. Idiom dan kata-kata dalam puisi tidak bisa dimaknai secara apa adanya atau telanjang. ”Jadi penyair itu berat,” sindir Udo.

Sukmawati sendiri dalam keterangannya di beberapa media menerangkan, puisinya adalah realitas tentang Indonesia. Dia menolak disebut menyinggung SARA.

”Saya budayawati, saya menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain," kata Sukmawati, Senin (2/4/2018). Dia mengatakan apa yang dia sampaikan di puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur.  (*)
 

Berikut puisi lengkap Sukmati tersebut:


Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus sujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat 
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya. 
 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID