Dugaan Jual-Beli Kursi KPU: Selain Uang, Gading pun Diminta - RILIS.ID
Dugaan Jual-Beli Kursi KPU: Selain Uang, Gading pun Diminta
Taufik Rohman
Rabu | 13/11/2019 20.46 WIB
Dugaan Jual-Beli Kursi KPU: Selain Uang, Gading pun Diminta
Hearing komisi I DPRD Lampung dengan Budiono, pelapor dugaan uang pelicin komisioner KPU, Rabu (13/11/2019). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Taufik Rohman

RILIS.ID, Bandarlampung – Komisi I DPRD Provinsi Lampung meminta kasus dugaan jual-beli jabatan KPU dengan nominal ratusan juta rupiah diusut tuntas.

Hal ini diduga melibatkan oknum anggota KPU Lampung berinisial ENF; calon anggota KPU Pesawaran, LP; dan calon anggota KPU Tulangbawang Barat, VYP.

Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal, saat hearing, Rabu (13/11/2019), mengatakan pihaknya ingin KPU sebagai penyelenggara pemilu benar-benar berintegritas dan akuntabel.

"Kita akan kawal kasus ini. Kami support para pelapor dan saksi yang telah berani mengungkap kasus ini. Kita juga akan menyurati KPU RI dan Komisi II DPR RI untuk mengungkap masalah ini," tandas politisi Demokrat ini di ruang Komisi I DPRD Lampung. 

Pihaknya dalam waktu dekat akan kembali mengagendakan pertemuan dengan KPU Lampung untuk mendengar dan melihat sikapnya dalam persoalan tersebut.

Hal tersebut wajib dilakukan karena sebagai penyelenggaran harus mengembalikan muruah KPU agar bisa dipercaya oleh masyarakat.

"Sepertinya sudah ada jaringan dan menggurita. Kita lihat guritanya sampai di mana," ungkap dia. 

Sekretaris Komisi I DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menyatakan penghormatannya bagi masyarakat yang berani dan mau melaporkan persoalan tersebut.

"Anggota KPU ini harus bener. Kalau Anggota KPU nya saja tidak benar mana mungkin pemilu bisa berjalan baik. Proses hukum harus dijalankan," desak Politisi Partai Gerindra ini diamini Wakil Ketua komisi I DPRD Lampung, Mardani Umar.

Sementara, Watoni Noerdin dari fraksi PDIP, melihat persoalan ini cukup unik. Sebab, kata dia, biasanya yang bermain adalah tim seleksi. Tetapi, dalam hal ini malah oknum calon komisioner. 

"Dia (ENF) menyangkal, dia bilang hoaks. Setelah kita dengar paparan Budiono (pelapor), itu bukan hoaks, tapi benar terjadi,” sentilnya.

Budiono sendiri saat hearing memaparkan apa yang sudah disampaikan pada saat konferensi pers di LBH Bandarlampung. Dia mengaku sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Apalagi, kata akademisi hukum Unila ini, dirinya sudah mengantongi bukti-bukti terkait yang dia laporkan ke DKPP. 

"Ya, benar itu dia (VYP) sudah menyerahkan uang Rp100 juta kepada LP. Bukti kwitansi ada. Kemudian ada bukti-bukti tambahan lainnya," jawab Budiono. 

Dia memaparkan, bukti-bukti tambahan akan bertambah dari mereka yang sudah jadi korban. 

"Ada yang sudah keluar uang antara Rp120-130 juta, tapi baru deal Rp120 juta dengan perdugaan orang yang sama oknumnya,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Budiono, pada proses dari 30 besar ke-10 besar, ada praktik uang (pelicin) juga. Ini diketahui dari chat korban.

”Bahkan sampai ada yang mau ngutang Rp100 juta, kemudian jual mobil. Ada yang dimintai gading gajah 35 cm," ucapnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID