Festival Bebai Betabuh Ajang Pemanasan KKEK di Melbourne - RILIS.ID
Festival Bebai Betabuh Ajang Pemanasan KKEK di Melbourne
[email protected]
Senin | 30/04/2018 20.44 WIB
Festival Bebai Betabuh Ajang Pemanasan KKEK di Melbourne
Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung Yustin Ridho Ficardo membuka Festival Bebai Betabuh 2018 di Taman Budaya Lampung, Senin (30/4/2018). FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Yustin Ridho Ficardo mengharapkan Festival Bebai Betabuh 2018 mampu menjadikan kesenian Lampung semakin mendunia.

Terlebih pada tahun ini, Provinsi Lampung akan berpartisipasi dalam Konferensi Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (KKEK) di Melbourne, Australia. Gubernur non-aktif Muhammad Ridho Ficardo diundang untuk membuka sekaligus pembicara utama.

“Saya berharap pemenang dalam Festival Bebai Betabuh ini bisa berpartisipasi dalam KKEK di Melbourne, di mana DKL turut diundang untuk turut mementaskan seni budaya Lampung di sana,” kata Yustin dalam siaran pers, Senin (30/4/2018).

Festival bertemakan “Merawat Budaya Daerah Wujud Emansipasi Estetis, Apresiatif, dan Bermartabat” ini diikuti sebanyak 22 grup. Acara tersebut digelar di Taman Budaya Lampung.

Menurut Yustin, festival yang baru kali pertama digelar ini diharapkan mampu menjadikan kesenian Lampung diperhitungkan bukan hanya di daerah, tapi juga nasional bahkan internasional.

“Ini insiatif dan tugas fungsi DKL, khususnya komite tradisi, untuk terus menggiatkan masyarakat agar menjaga dan melestarikan budaya daerah Lampung, melalui seni musik khusunya cetik/gamolan pekhing, alat musik tradisional kebanggaan masyarakat Lampung yang telah mendunia,” katanya dalam siaran pers, Senin (30/4).

Yustin menjelaskan, alat musik tradisional cetik/gamolan pekhing telah mendapat perhatian khusus dari Profesor Margaret Kartomi dan Dr Karen dari Universitas Monash, Melbourne, Australia.

“Setiap tahunnya Universitas Monash Melbourne Australia mengirimkan mahasiswanya untuk mempelajari gamolan pekhing,” ujarnya.

Yustin mengapresiasi ketertarikan dunia terhadap alat musik tradisional sekaligus menandakan betapa kayanya budaya Lampung.

“Saya berharap masyarakat menjaga kelestarian budaya daerah  sehingga mampu menjadi daya tarik pariwisata Lampung. Musik adalah bahasa universal, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia,” tuturnya.

Sementara Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Lampung Kingkin Sutoto menyatakan, kaum perempuan harus menanamkan rasa kecintaan pada budaya daerah, khususnya seni musik tradisional.

“Ini sebagai wujud emansipasi kaum perempuan dalam merawat budaya daerah yang estetis, apresiatif,  dan bermartabat,” ucapnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID