Gempa Lagi di Selat Sunda, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami - RILIS.ID

Gempa Lagi di Selat Sunda, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
[email protected]
Sabtu | 12/01/2019 20.28 WIB
Gempa Lagi di Selat Sunda, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
ILUSTRASI: PIXABAY

RILIS.ID, Bandarlampung – Gempa berkekuatan magnitudo 5,0 terjadi di Selat Sunda, Sabtu (12/1/2019) pukul 19.04 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

Titik koordinat gempa berada di 6,86 Lintang Selatan (LS), 104,24 Bujur Timur (BT) atau 176 kilometer (km) baratdaya Tanggamus. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km.

Gempa beruntun pada 10 dan 11 Januari 2019 sebelumnya juga terjadi di Selat Sunda. BMGK menyatakan hal itu tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut sebagai indikasi tsunami.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly mengatakan sedikitnya terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda. Yakni kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust. 

Kompleks GAK terdiri dari GAK, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik.

”Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami,” urainya dalam rilis, Sabtu (12/1/2019).

Zona Graben berada di sebelah barat-barat daya kompleks GAK. Ini merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami.

Sementara, Zona Megathrust termasuk wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.
Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, pemasangan beberapa alat pantau dilakukan di sejumlah titik di Selat Sunda. Ini untuk memonitor aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut.

Alat dipasang di antaranya di Pulau Sebesi, Ujung Kulon, dan Labuan. Pulau Sebesi merupakan pulau terdekat dengan kompleks GAK yang saat ini bisa dijangkau. (*)


 

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID