GIL Dorong Gamolan Mendunia, Masuk Unesco seperti Borobudur - RILIS.ID
GIL Dorong Gamolan Mendunia, Masuk Unesco seperti Borobudur
[email protected]
Kamis | 02/08/2018 22.19 WIB
GIL Dorong Gamolan Mendunia, Masuk Unesco seperti Borobudur
Diskusi Gamolan Institute Lampung, Kamis (2/8/2018). FOTO: HUMAS GIL

RILIS.ID, Bandarlampung – Gamolan Institute Lampung (GIL) mendorong pemerintah provinsi mendaftarkan ’gamolan’, alat musik tradisional sai bumi ruwa jurai ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau Unesco (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).

Menurut penasehat GIL, Hasyimkan, yang juga kepala program studi (kaprodi) musik Universitas Lampung, gamolan masuk warisan budaya tak benda (WBTB/ intangible cultural heritage).

Seperti diketahui, WBTB Indonesia yang sudah diakui Unesco saat ini belum ada satupun dari Lampung. Antara lain Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Lorentz di Papua.

Berikutnya, hutan hujan tropis di Sumatera, Situs Sangiran, Candi Borobudur, Candi Prambanan, wayang kulit, keris, angklung, gamelan, batik, noken, subak Bali, sekaten, Tari Saman, dan lumpia.

”Syarat paling mendasar agar diakui Unesco, gamolan menjadi bagian tradisi bagi masyarakat Lampung, mendapat kajian ilmiah dari akademisi, dan dirasakan hingga ke penjuru dunia,” papar Hasyimkan dalam siaran pers yang diterima rilislampung.id, Kamis (2/8/2018).

Dari sekian WBTB Lampung yang siap adalah gamolan karena telah dan terus berkembang. Unila untuk itu telah menyiapkan 1.000 orang guru SD, 200 orang guru pendidikan anak usia dini (PAUD), dan 600 guru seni yang siap mengajarkan gamolan.

Di samping itu juga gamolan telah bermetaforsa ke berbagai bentuk. Seperti gamolan android, multimedia pembelajaran gamolan, batik gamolan, suvenir gamolan, lagu Gamolan Sakti yang telah mendapat HAKI (hak atas kekayaan intelektual) dan organisasi yang menangani gamolan, yaitu GIL.

”Telah juga dibuat buku pembelajaran gamolan mulai PAUD hingga perguruan tinggi,” beber Hasyimkan.

Ketua GIL, Novellia Yulistin Sanggem, menambahkan untuk ditetapkan di Unesco butuh waktu bertahun-tahun untuk persiapan dan penilaian. Bukan hal yang mudah dan singkat.

”Karena itu perdebatan nama gamolan bukan lagi persoalan. PR kita adalah bagaimana gamolan mendunia. Dan, cita-cita mulia ini semoga didukung seluruh lapisan masyarakat. Terkhusus para tokoh adat Lampung,” harap Novel –sapaan akrabnya. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID