Hawa Nafsu dan Saum - RILIS.ID
Hawa Nafsu dan Saum
[email protected]
Rabu | 13/06/2018 06.00 WIB
Hawa Nafsu dan Saum
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – SAUM adalah pengendalian diri. Apa yang perlu dikendalikan? Yang dikendalikan adalah hawa nafsu. Saum identik dengan pengendalian hawa nafsu. Saum merupakan perisai dari perkataan keji, buruk dan kampanye hitam tak berguna (Hadis sahih riwayat Imam Bukhori).

Mengapa hawa nafsu? karena hawa nafsu menyesatkan. ”Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” (Qs 38: 26).

Hawa nafsu mengajak pada kejahatan. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (Qs 12: 53).

Karena hawa nafsu menyebabkan kebinasaan. ”Maka janganlah engkau dipalingkan dari (kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginan (hawa nafsu)-nya, yang menyebabkan engkau binasa” (Qs 20:16).

Berarti hawa nafsu adalah musuh. Bila demikian mengapa hanya dikendalikan? Hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syariat, maka terpuji. Namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syariat maka tercela (Said Abu Ukasyah www.muslim.or.id).

Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya (Said Abu Ukasyah www.muslim.or.id). Itulah sebabnya harus dikendalikan. Tanpa hawa nafsu tidak ada kegairahan mengejar lailatulkadar. Tidak ada motivasi untuk mengejar ahsanu amala (Qs 67: 2).

Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia dalam keseimbangan antara fujuroha wa taqwaha (kebaikan dan keburukan).  ”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Qs 91: 8).

Menurut imam Abi Qosim Abdil Karim Ibnu Hawazin Al Qusyairiy dalam kitab Ar-risaalatul Qusyairiyyah (hal. 45) bahwa tempat bersemayamnya sifat-sifat yang terpuji adalah hati dan ruh. Sedangkan tempat bersemayamnya sifat-sifat yang tercela adalah Nafsu.

Adapun pengertian hawa menurut As-Sayyid Al Jurjaaniy dalam Ta’rifat-nya (Hal. 299) adalah kecenderungan nafsu terhadap apa yang dirasa nikmat dan lezat cita rasanya dengan segala keinginannya yang timbul bukan dari ajaran syariat agama (Ubaidillah, www.nyantriyuk.id).

Tugas manusia adalah mengendalikan hawa nafsu agar terhindar dari kebinasaan. Rasulullah bersabda bahwa ada tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan rida (Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar. Hadis ini dinilai sebagai hadis hasan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, No. 1802 karena banyak jalur periwayatannya).

Bila manusia mampu mengendalikan hawa nafsu maka surga balasannya. ”Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs 79: 40-41). Semoga saum menjadikan kita mampu menahan diri dari keinginan hawa nafsu. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID