Hederus, Sang Penyelamat Hutan Adat Repong Damar Mata Kucing  - RILIS.ID
Hederus, Sang Penyelamat Hutan Adat Repong Damar Mata Kucing 
Taufik Rohman
Senin | 23/04/2018 21.21 WIB
Hederus, Sang Penyelamat Hutan Adat Repong Damar Mata Kucing 
Hederus. FOTO: IST

RILIS.ID, Pesisir Barat – REPONG damar merupakan warisan sistem tanam kearifan lokal masyarakat Kabupaten Pesisir Barat, Lampung dalam mengelola hutan adat yang tersisa. Sistem ini tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Salah satunya bernama Hederus.

-------------------

SUDAH puluhan tahun lamanya petani berusia 55 tahun yang asli warga Dusun 3 Sukajama Pekon (Desa) Penengahan Kecamatan Karya Punggawa ini, mendedikasikan hidupnya dalam melestarikan hutan adat repong damar mata kucing. 

“Saya di tahun 1985, terpanggil untuk melestarikan repong damar, dikarenakan ada sebagian investor datang untuk mengambil alih istilahnya repong damar diganti dengan kebun kelapa sawit dan karet,“ ucapnya, Senin (23/4/2018). 

Oleh karena mereka tidak ingin warisan para leluhurnya punah dengan tanaman baru jenis kelapa sawit maupun karet masuk di wilayah mereka, dia berinisiatif untuk memberikan masukan kepada warga lainnya agar tetap mempertahankan kelestarian repong damar mata kucing. 

“Kepada sebagian masyarakat menginginkan repong damar yang sudah diwariskan dari nenek moyang, tetap dilestarikan hingga dapat diwarisakan kepada anak cucu kami mendatang,” ucap bapak empat anak ini.

Dedikasi Hederus dalam melestarikan sistem hutan adat leluhur dalam menjaga kelestarian hutan repong damar selayaknya mendapatkan prestasi dari pihak-pihak tertentu, karena berkat dedikasinya, repong damar tetap lestari hingga saat ini.

Bahkan Pihaknya pun pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden Soeharto karena repong damar tersebut tetap dikelola ditengah arusnya reboisasi saat itu, sekitar tahun 1992. 

“Akan tetapi penghargaan tersebut dikasih kepada Saibatin 16 Marga Pesisir Barat yang menerimanya bapak Jandri Junaidi  orang Melaya Pugung Tampak Pesisir Barat,” ucapnya. 

Baginya cukup puas meski tanaman langka itu  harus ditunggu hingga puluhan tahun lamanya untuk menuai hasil. Dia beralasan tanpa adanya gerakan mempertahankan komoditi utama Pesisir Barat yang dikenal dengan Repong damar, maka tanaman yang bahasa latinnya adalah Shorea javanica memiliki tinggi mencapai 40-50 meter, dengan batang bebas bercabang hingga 20-30 meter ini, dan ketika disadap mengeluarkan getah being keputihan atau kekuningan. Maka akan hilang. 

“Agar dapat dipertahankan hingga generasi penerus yang akan datang, maka cucu kami juga diajak menanam repong damar untuk kelestarian damar agar dinikmati keturunan seterusnya,” terangnya. 

Sayangnya dengan kondisi saat ini harga per kilogram getah kering damar hanya dijual dengan harga pasaran Rp14.000 hingga Rp15.000. “Kalau harganya bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram, petani pasti senang mendengar kabar itu, tapi saat ini petani damar merasakan kegundahannya, karena harga cuma segitu,” jelasnya.

Getah damar mata kucing bisa digunakan dalam industri cat, farmasi serta kosmetik. Namun pemerintah setempat sejauh ini, belum melirik atau memberikan kontribusinya dalam merawat tanaman langka ini.

“Kalau bantuan dari pemerintah, belum ada dari dinas atau pemerintah daerah bantuan kelestarian repong damar, kalau ada kita juga senang jika diperhatikan,” kata Pria yang mengaku mengurus repong damar hingga 3 hektar ini. 

Hasil bertani repong damar, baginya sudah sangat membantu memenuhi keluarganya, hingga empat anaknya berkeluarga. “Anak saya ini ada 4 saudara, 3 perempuan satu laki, mereka sudah berkeluarga semua. Ada yang lulusan SMP dan SMA, gak sampai kuliah,” tuturnya. 

Dia menjelaskan menanam damar memang diakui membutuhkan waktu yang lama sekitar 10 tahunan. Karena baru bisa dilubangi untuk disadap itu harus diatas 10 tahun. 

“Gak terasa sih, karena kita sebelum menanam damar itu menanam padi, kopi dan lada. Jadi sebelum umur 10 sampai 15 tahun kita belum mau memanen damar. Karena bisa memanen kopi setelah umur dua hingga 4 tahunan. Tapi kita juga sebelum panen kopi dan lada juga kita tanam sayuran seperti terong dan cabai. Disamping juga menanam buah –buahan seperti duku, dan duren,” katanya mengakhiri pembicaraannya. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID