Heri Wardoyo Mengawali jadi Jurnalis dengan Penampilan Perlente - RILIS.ID
Heri Wardoyo Mengawali jadi Jurnalis dengan Penampilan Perlente
Taufik Rohman
Jumat | 23/03/2018 07.01 WIB
Heri Wardoyo Mengawali jadi Jurnalis dengan Penampilan Perlente
Heri Wardoyo. FOTO: RILISLAMPUNG.ID

Jurnalis senior Lampung, Heri Wardoyo, punya cerita unik kala mengawali masuk dunia jurnalistik. Berbekal tekad kuat dan sikap kritis, rasanya cukup bagi Heri muda yang saat itu berusia 24 tahun untuk menjadi jurnalis. Namun, penampilan perlente ternyata juga menyokong perjalanan karirnya.

Heri memulai sebagai jurnalis di Majalah Tempo, Jakarta. Saat itu sekitar tahun 1992. Bermodal tampang keren, ia akhirnya diterima sebagai jurnalis majalah tersebut. 

"Karena kita diliat ganteng dan perlente, jadi diterima di Majalah Tempo, zaman itu sekira tahun 1992," kata Heri saat acara Rilis Corner di markas Rilislampung.id, Kamis (22/3/2018) petang.

Saat itu, tugas pertamanya menulis berita politik tentang golput (golongan putih) atau pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya. Untuk mendapatkan referensi masalah golput, ia harus menggabungkan banyak buku untuk mengambil sumber beritanya.

"Zaman pemilu tahun 1992, saya disuruh membuat berita golput dengan studi pustaka. Saya pun harus lari ke pustaka, terus masuk dan mencari beberapa buku, di antaranya penulisnya adalah Bambang Pujono. Sampai tiga hari saya mesti di perpustakaan terus," kenangnya.

Pengalamannya selama di majalah Tempo, dia pernah juga merasakan perang batin saat peliputan di daerah Tangerang, karena Tempo sangat ketat dan wartawan tidak boleh menerima amplop. 

"Jurnalis Tempo itu tidak boleh terima amplop, pernah waktu itu liputan di Tangerang dikasih amplop Rp1 juta, zaman itu. Jadi perang batin, apalagi kondisi kita lagi kekurangan duit. Namun karena itu peraturan, jika pun harus dibawa pulang maka saya serahkan ke redaksi, nanti redaksi menyumbangkan ke tempat sosial," katanya.

Paling menariknya, kata Heri setiap peliputan di daerah Tangerang, selalu Tempo dibedakan dengan yang lain. "Majalah tempo itu dibelakangin, dibedain amlopnya. Besar zaman itu jika Rp1 juta, beda dengan media yang lain, " kata dia. Tapi dia tidak menghiraukan, karena gaji di Tempo waktu itu dia sudah bergaji sekitar Rp1,3 juta. "Liputannya naik taksi Blue Bird, keren kan," candanya. 

Yang paling dia ingat ketika di Tempo adalah ketika di kantor harus memakai sepatu, siang ataupun malam. "Tidak boleh pakai sandal, harus sepatu. Siang dan malam. Karena jika pakai sandal dianggap itu tidak menghargai kantor," terangnya.

Meski merasa nyaman di majalah Tempo, akhirnya Heri harus mengutamakan panggilan sang ibu. Ia diminta pulang ke Lampung. Untuk apa? "Saya disuruh menikah dan ternyata menikah itu enak,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selanjutnya Heri masuk Lampung Post. "Hari pertama di Lampost disuruh buat tajuk, saya buat tentang feodal," ingatnya. 

Perjalanan jurnalistik Heri terhenti saat masuk PAN. Ia pun kemudian terpilih menjadi Wakil Bupati Tulangbawang mendampingi Bupati Hanan A Rozak.

Sejak saat itu, Heri benar-benar terjun ke dunia politik. Kini ini ia didapuk sebagai Wakil Ketua DPD Partai Golkar Lampung. Heri juga menjadi Juru Bicara Pasangan Calon (Paslon) Pilgub Lampung nomor urut 3 Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim atau Nunik yang diusung Partai Golkar, PKB dan PAN. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID