Hikmah Temukan Uang 10 Riyal di depan Kabah bagi Bupati Tubaba Umar Ahmad - RILIS.ID
Hikmah Temukan Uang 10 Riyal di depan Kabah bagi Bupati Tubaba Umar Ahmad
Adi Pranoto
Rabu | 18/04/2018 12.45 WIB
Hikmah Temukan Uang 10 Riyal di depan Kabah bagi Bupati Tubaba Umar Ahmad
Bupati Tubaba Umar Ahmad pada Rilis Corner di Rilislampung.Id. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Hendarmin

RILIS.ID, Bandarlampung – Menyempurnakan Rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji menjadi keinginan umat muslim. Namun, belum semua diberi kemampuan baik itu fisik, biaya, hingga waktu, untuk menjadi Tamu Allah Swt di Tanah Suci.

Saat menunaikan ibadah haji, ada banyak peristiwa yang dialami. Bisa peristiwa yang menyenangkan atau sebaliknya. Namun, yakinlah ada hikmah di balik perstiwa itu. Salah satu yang sudah membuktikannya, yakni Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad.

Umar menunaikan Rukun Islam ke-5 pada musim haji tahun 2017 lalu. Di Tanah Suci Kota Mekah, Umar mengalami peristiwa yang bisa dipetik  hikmahnya. 

Suatu petang menjelang Salat Magrib, Umar dan istri, Kornelia berada Masjidil Haram. Keduanya duduk bersimpuh. Hati dan pikiran yang khusyuk seiring seirama dengan gerak bibir dan lidah melafazkan Asma-Asma Allah.

Dalam balutan dzikir itu, Umar tergerak untuk mencium Hajar Aswad. Umar berpikir, kapan lagi jika bukan sekarang untuk mencium Hajar Aswad (Batu Hitam  yang terletak di sudut sebelah Tenggara Kabah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai).

Umar pun memberitahu istrinya hendak mencium Hajar Aswad.  “Saya tidak berniat melakukan Tawaf (rukun haji dengan mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali), tapi sengaja untuk bisa mencium Hajar Aswad,” kata Umar saat Rilis Corner di rilislampung.id,  Selasa (17/4/2018).

Umar mencari celah untuk bisa masuk diantara ribuan jamaah yang saat itu melakukan Tawaf. Perjuangan keras Umar pun berhasil. Setelah masuk diantara ribuan jamaah, Umar terus bergerak mendekati Kabah. 

Di tengah himpitan dan berdesakan dengan jamaah, pandangan Umar tertuju pada selembar uang real (mata uang Saudi Arabia) yang tergeletak di atas lantai. Umar pun memungut lembaran senilai 10 Riyal itu.

Saat itu Umar teringat, apapun yang dialami saat menunaikan ibadah haji itu ada hikmahnya. Apalagi, memang didikan orangtuanya melarang keras mengambil yang bukan haknya.

“Makanya saya serahkan uang itu kepada Laskar (tentara penjaga Kabah).  Sambil menyerahkan uang saya menunjukkan ke arah saya menemukan uang itu,” kata Umar yang kelahiran 12 Oktober 1980 itu.

Namun, Laskar itu rupanya salah paham. Laskar mengira Umar hendak menyogok agar mengawalnya untuk bisa mencium Hajar Aswad. Sebab, Laskar itu menunjuk ke arah Hajar Aswa.

“Karena keterbatasan bahasa, saya mengira Laskar itu bertanya apa saya mau mencium Hajar Aswad.  Makanya saya mengangguk saat Laskar menunjuk ke arah Hajar Aswad,” ujar Umar.

Anggukan Umar itu dianggap Laskar sebagai sogokan. Laskar yang memang dilarang keras menerima uang sogokan untuk mengawal jamaah mencium Hajar Aswad lalu memegang dan memawa Umar ke pos.

Umar terus mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Namun, lagi-lagi keterbatasan bahasa menjadi kendala. Laskar terus membawa Umar ke pos yang jaraknya sekitar 1 km dari Masjidil Haram.

Di tengah perjalanan menuju pos, Umar seolah mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikan masalah itu. Yakni, memperagakan ulang bagaimana memungut dan menyerahkan uang itu kepada Laksar.

“Sesampai di pos saya diserahkan kepada Komandan Laskar. Dari Alhamduillah, Komandan Laskar bisa memahami yang saya peragakan itu,” sebut Umar.

Akhirnya, Umar pun dibawa kembali ke Masjidil Haram.  Baru saja sampai, Umar pun merasakan hikmah dari persitiwa yang dialaminya. Yakni, tidak mengambil uang yang bukan haknya.

Umar bertemu dengan rombongan Kapolri Tito Karnavian. Salah seorang dalam rombongan itu ada yang mengenali Umar.  Setelah saling menyapa, lantas Umar ditawari masuk rombongan yang ternyata hendak mencium Hajar Aswad.

“Dalam rombongan itu paling depan Kapolri dan istri. Saya berada di urutan kelima di belakang Kapolri. Alhamdulillah, saya diberi kemudahan sehingga akhirnya bisa mencim Hajar Aswad,” tutur Umar dengan suara agak bergetar saat menceritakan itu.

Sekembalinya ke tanah air, Umar pun kian meyakini bahwa hikmah dari peristiwa  yang dialami saat menunaikan ibadah haji itu adalah nyata.

“Jika kita melakukan kebaikan, maka Allah Swt akan langsung membalasnya. Begitu juga jika melakukan kejahatan atau keburukan, niscaya mendapat balasan juga,” tutup Umar. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID