Jepang Pekerja Keras dan Disiplin, Karakter yang Diwariskan? - RILIS.ID

Jepang Pekerja Keras dan Disiplin, Karakter yang Diwariskan?
[email protected]
Senin | 11/03/2019 06.00 WIB
Jepang Pekerja Keras dan Disiplin, Karakter yang Diwariskan?
Dwi Eva Nirmagustina, Dosen Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Lampung

INDONESIA dinyatakan sebagai negara paling santai di dunia oleh sebuah penyedia jasa perjalanan Eropa; Lasminute. Hal ini didasari penilaian terhadap penghormatan hak-hak pribadi warga negara, polusi suara dan cahaya, suhu, jumlah hari libur, serta jumlah spa.

Berbagai tanggapan terlontar dengan adanya studi ini. Sebagian bangga, ada juga yang menanggapi dengan berbagai guyonan. Ada yang mengaitkan dengan pepatah Jawa yang sangat terkenal, Indonesia santai karena alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal terlaksana). Ada juga menghubungkannya dengan lagu “Santai”-nya Rhoma Irama yang dirilis tahun 1977 dengan lirik, ”Yuk kita santai agar syaraf tidak tegang, yuk kita santai agar otot tidak kejang”.

Atau yang paling terbaru lagu ”Selow”-nya Wahyu dengan syair, ”Karena ku selow sungguh selow, sangat selow tetap selow, santai santai”.

Apakah Indonesia identik dengan negara ”santai” yang sesungguhnya? Santai dalam hal bekerja, belajar, atau lainnya?

Kita sebagai bangsa yang besar tentu tidak mau kalau negara kita identik dengan kata “santai” dalam ha-hal tersebut di atas. Tapi apakah kita juga adalah negara dengan orang-orang kerja keras dan disiplin seperti negara lain, terutama Jepang?

Orang Jepang terkenal dengan kerja keras dan disiplinnya.  Saya ambil contoh yang dekat dengan saya, teman-teman laboratorium (lab) ketika studi di Jepang. Mereka berada di lab hampir 12-14 jam dalam sehari.

Apa saja yang mereka lakukan? Banyak hal, mulai dari kuliah, eksperimen, seminar, membaca, diskusi, dan sebagainya. Begitu setiap hari, dari Senin sampai Jumat, untuk memenuhi target-target yang ingin dicapai. Jika masih ada yang harus dikerjakan, hari Sabtu dan Minggu pun mereka ke kampus. 

Apakah ”kerja keras dan disiplin” adalah karakter yang dilahirkan/diwariskan secara genetik pada orang Jepang? 

Karakter orang Jepang pada zaman dahulu, menurut Takehiko Hashimoto dalam sebuah jurnal yang terbit tahun 2008, dituliskan beberapa orang Eropa yang datang ke Jepang pada masa awal atau menjelang masa Meiji, orang Jepang bukanlah pekerja keras dan disiplin.

Mereka dilaporkan lebih santai dan senang minum-minum. Ketika sistem perkerataapian diperkenalkan, keterlambatan selama 30 menit adalah hal yang lumrah.

Pada zaman Dinasti Meiji (1868-1912), hari libur yang berkaitan dengan budaya dan agama lebih banyak. Presentase orang Jepang yang tidak masuk kerja cukup tinggi (20 persen). Para pekerja sangat mudah untuk berhenti bekerja dan pindah pekerjaan lain.

Kemudian, mengapa orang Jepang saat ini memiliki karakter kerja keras dan disiplin? Padahal mereka dahulu adalah orang yang memiliki karakter yang sama dengan kebanyakan orang dari negara berkembang yang dapat kita saksikan saat ini, yaitu bukan pekerja keras dan tidak disiplin. 

Ternyata menurut Tetsuro Kato dalam Look Japan (1995), karakter kerja keras dan disiplin orang Jepang lahir pascaperang dunia II. Yaitu ketika Jepang kalah dalam peperangan.

Bangsa Jepang merasa tidak ada jalan lain untuk bangkit kecuali kerja keras dan disiplin dalam bekerja. Kondisi setelah peranglah yang menjadi pendorong bangsa Jepang untuk bangkit melalui kerja keras dan disiplin.

Karakter ini selanjutnya tidak hanya dimiliki oleh orangtua yang mengalami masa perang saja, tapi diteruskan ke generasi berikutnya. Saat ini generasi muda Jepang memiliki karakter yang sama dengan pendahulu mereka, yaitu kerja keras dan disiplin.

Bagaimana cara menggenerasikan karakter yang hebat ini sehingga menjadikan Jepang ”The Leading Inovation country in the world”? Melalui pendidikan. Ya, melalui pendidikan. 

Konsep kerja keras dan disiplin ini ditanamkan dan dikawal secara ketat melalui pendidikan.  Konsep kerja keras dan disiplin adalah nilai-nilai yang diakui bersama sebagai bagian dari konsep Bushido yang harus disampaikan dari masa ke masa.

Konsep Bushido ditandai dengan tujuh kebajikan, yaitu kesungguhan (gi), keberanian (yu), kebajikan (jin), penghargaan (rei), kejujuran (makoto), kehormatan (meiyo), dan kesetiaan (chugi).

Saat ini kita bisa lihat bahwa presentase tidak masuk kerja di Jepang sangat menakjubkan (0 persen). Dalam keadaan sakitpun mereka tetap berangkat bekerja. Bahkan pada tahun 2013 seorang wartawan NHK meninggal akibat ”Karoshi” istilah Jepang untuk orang yang kelebihan kerja. Pekerja Jepang adalah pekerja yang setia. Mereka akan bekerja pada satu perusahaan sampai pensiun atau bahkan seumur hidup.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita bisa menciptakan manusia yang memiliki karakter kerja keras dan disiplin? 

Saya rasa bisa. Kita tinggal mencontoh sistem pendidikan yang diterapkan di Jepang yang terbukti telah berhasil.  Semudah itukah? Tentu tidak. Tapi bisa. Asal ada niat semua bisa. Tapi tidak sebatas niat, harus diterapkan dan diimplementasikan.

Atau kita mau menjadi bangsa yang memiliki karakter kerja keras dan disiplin setelah di bom seperti Hiroshima dan Nagasaki?  Tentu tidak kan! Belum cukupkah sebagai pendorong adalah dijajahnya Indonesia selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang.   

Sebetulnya kita punya "Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa", yang mengandung nilai-nilai yang hebat, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratif, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestsi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab.

Tapi ini hanya kurikulum yang disampaikan ke siswa tapi tidak meresap dalam jiwa raga siswa. Kita tidak punya cara nyata bagaimana agar nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa itu tertanam dan mengakarkuat sehingga menjadi karakter suatu bangsa.

Akhirnya, mari bangun Indonesia bersama menjadi lebih baik dengan karakter bangsa yang bukan saja pekerja keras dan disiplin. Tapi karakter- karakter baik sehingga terbentuk manusia Indonesia unggul yang berkarakter hebat. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID