JOB Lampung Pantang Menyerah Bantu ODHA - RILIS.ID

JOB Lampung Pantang Menyerah Bantu ODHA
Segan Simanjuntak
Kamis, 2018/03/22 05.15
JOB Lampung Pantang Menyerah Bantu ODHA
Koordinator JOB Lampung Elvina Harahap dan wakil bendahara, Handrial Mapisa dalam acara Rilis Corner di Kantor Rilislampung.id, Selasa (21/3/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Ade Yunarso

Jaringan Orang dengan HIV dan AIDS Berdaya (JOB) Lampung lahir dari sebuah komitmen bersama untuk menghapus stigma negatif dan perlakuan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Organisasi yang sudah berusia tiga tahun ini memiliki visi misi “Nol Diskriminasi 2020”. JOB Lampung bukanlah organisasi besar. Namun, kegiatan pendampingan yang dilakukan relawan JOB terhadap ODHA adalah tugas mulia.

“Walaupun kelihatannya imposibble, tapi apa salahnya menghabiskan waktu, tenaga, uang dan pikiran untuk memperjuangkan mereka yang terinfeksi HIV dan AIDS,” kata Koordinator JOB Lampung Elvina Harahap dalam acara Rilis Corner di Kantor Rilislampung.id, Selasa (20/3/2018).

Vina—sapaan akrabnya –menilai proses pendampingan ini dilakukan karena masyarakat pada umumnya masih menganggap orang yang terinfeksi HIV dan AIDS dengan stigma negatif. “Kami mengambil peran untuk mendampingi mereka yang sudah terinfeksi HIV dan AIDS. Karena bagi mereka yang baru terinfeksi, mereka menganggap hidup sudah berakhir dan tidak tahu harus berbuat apa untuk bertahan di dunia ini,” terangnya.

Menurut Vina, ODHA bukanlah seorang penderita melainkan terinfeksi. Sebutan ini merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang paling mendasar. “Selain itu, kami terus membangun dan menggugah kepedulian masyarakat, media massa, pemerintah, serta swasta untuk turut berpartisipasi menghilangkan stigma negatif dan perlakuan diskriminasi kepada ODHA,” ungkapnya.

Wakil Bendahara JOB Handrial Mapisa menambahkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Lampung periode 2003-2018, jumlah ODHA di seluruh kabupaten/kota mencapai 2500 orang. Kota Bandarlampung masih menempati posisi teratas. “Pada akhir Desember 2017 ditemukan sebanyak 32 kasus,” ujarnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)