John Lie, Pahlawan Nasional Keturunan Tionghoa - RILIS.ID
John Lie, Pahlawan Nasional Keturunan Tionghoa
Rilis.id
Minggu | 01/04/2018 12.13 WIB
John Lie, Pahlawan Nasional Keturunan Tionghoa
John Lie, kapten kapal heroik penembus blokade Belanda. FOTO: Istimewa

KECINTAAN terhadap Nusa-Bangsa juga ditunjukkan oleh pahlawan nasional keturunan Tionghoa, Laksamana Muda John Lie (Jahja Daniel Dharma). Ketika ditanya oleh KSAL Laksamana M. Pardi mengenai keinginannya untuk bergabung dengan TNI Angkatan Laut, John Lie menjawab, “Saya datang bukan untuk cari pangkat, saya datang ke sini mau berjuang di medan laut.”

Ketulusan tekad perjuangannya segera terbukti. Meskipun ia hanya diberikan pangkat terendah (Kelasi Kelas III), ia tetap menerimanya dengan perasaan syukur dan gembira, karena ia diizinkan untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi melalui ALRI.

Penerimaan John Lie untuk berjuang dari bawah itu sangat mengagumkan, mengingat ia sudah banyak berpengalaman sebagai pelaut dan nakhoda di kapal Belanda (Koninklijke Paketvaarts Maatschappij/KPM) maupun di kapal perang Sekutu (Royal Navy) dalam Perang Dunia II (1929-1945).

Dalam kaitan ini, A.B. Lapian menyatakan (2008), “John Lie mempunyai banyak pilihan untuk hidup enak, misalnya memihak Belanda dan tetap melanjutkan kariernya di KPM, atau bergabung dengan kelompok keturunan Tionghoa di mana saja, seperti di Singapura, Hong Kong dan lain-lain. Tetapi nasionalisme baginya adalah sesuai dengan jati diri yang telah ditemukan selama sekian tahun berlayar di kapal KPM Belanda, yakni nasionalisme Indonesia.” Hal ini menunjukkan tingginya semangat cinta Tanah Air John Lie, yang membuatnya rela berjuang demi Republik Indonesia tanpa dilandasi pamrih tertentu.

Kerelaan berjuang demi kecintaan kepada Nusa-Bangsa ia tunjukkan lewat serangkaian tindakan kepahlawanan. Selama revolusi kemerdekaan, John Lie menyumbangkan tenaga dan pikirannya sejak 1946 secara penuh dalam membangun fasilitas ALRI di Cilacap, misalnya membersihkan ranjau laut serta mendidik tenaga-tenaga muda ALRI dalam berbagai ilmu kelautan dan navigasi. Ia juga berani menantang maut dengan aksi-aksi penyelundupan persenjataan (juga menyelundupkan kadet-kadet AURI yang hendak mendapatkan pendidikan penerbangan di India), menembus blokade AL Belanda guna mendapatkan persenjataan dan logistik, yang dilakukan dengan kapal speedboat PPB 31 LB dan kemudian PPB 58 LB (yang diberi nama John Lie “The Outlaw”).

John Coast, seorang diplomat serta penulis asal Inggris, yang di masa revolusi menggabungkan diri dengan perwakilan RI di Singapura dan Bangkok, menuliskan kesannya: “Seorang patriot Indonesia, seorang Tionghoa menurut asal-usul rasialnya, seorang Kristen menurut agamanya, John Lie adalah nakhoda Jogja [maksudnya Republiken] terakhir dan yang paling berani.”

Tentang keberanian dan heroisme John Lie, Roy Rowan, seorang wartawan Life, dalam artikelnya berjudul “Guns-and Bibles-are Smuggled to Indonesia” melukiskannya sebagai berikut: “Patroli Belanda yang siap siaga telah memotong jalur perdagangan ini di sebagian besar Jawa dan Sumatera, namun ini tidak menyurutkan gerakan Kapten berumur 39 tahun ini meski sepanjang sejarahnya malang melintang di perairan terlarang tersebut. Belanda pernah menembakinya hingga 60 kali. Kapalnya yang 110 kaki panjangnya dan tak dilengkapi senjata, dengan tulisan PPB 58 LB di haluannya, telah berkali-kali dikejar-kejar di Selat Malaka oleh kapal-kapal penghancur dan kapal korvet. Dari lima kapal yang diluncurkan, yang dibeli dari Inggris di Singapura, hanya kapal Lie-lah yang tidak pernah tertangkap meski telah dikejar dan dibanjiri peluru dan bom. Telah berkali-kali Lie melarikan kapal hitamnya ke teluk kecil di Pulau Sumatera, dan menutupinya dengan ranting-ranting dan dedaunan sambil menunggu sampai kapal-kapal terbang Belanda beserta perahu penghancurnya menghentikan pencarian. Senjata-senjata dagangan yang sebelumnya dibeli dari Malaya diterbangkan ke Jawa atau diselundupkan melintasi selat ke Sumatera dengan kapal Lie.”

John Lie memainkan peran penting sebagai penyelundup senjata dalam suatu jaringan internasional. Peran itu ia jalankan dalam kapasitasnya sebagai pejuang kemerdekaan yang “idealis”, bukan petualang yang mencari keuntungan. Aksi-aksi heroik John Lie dan kawan-kawan sebagai pejuang kemerdekaan yang idealis, bukan oportunis, pada gilirannya dapat mendukung perjuangan diplomasi politik Indonesia di PBB, sehingga RI mendapatkan dukungan internasional sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Kabar-kabar radio internasional seperti BBC maupun All India Radio mengenai keberhasilan misi-misi John Lie menembus ketatnya blokade Belanda itulah yang senantiasa ditunggu oleh para diplomat Indonesia di forum PBB, seperti Sjahrir, H. Agoes Salim, LN Palar, dan Soedjatmoko, sebagai “amunisi” untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis, tidak seperti yang dituduhkan Belanda.

Ketulusan pengabdian dan kecintaanya pada Nusa-Bangsa Indonesia membuat John Lie memiliki pandangan tersendiri tentang apa yang disebut “pribumi” dan “non-pribumi”. Menurutnya, orang pribumi adalah orang-orang yang Pancasilais, saptamargais, yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non-pribumi adalah mereka yang suka korupsi dan merugikan kepentingan nasional. “Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka, patutlah mereka digolongkan orang non-pribumi”. (*)

Sumber: Yudi Latif, Mata Air Keteladanan

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID