Jokowi Dikritik, Taufik Kurniawan: Jangan Cuma Media Asing yang Berani - RILIS.ID

Jokowi Dikritik, Taufik Kurniawan: Jangan Cuma Media Asing yang Berani
Segan Simanjuntak
Rabu, 2018/01/31 03.58
Jokowi Dikritik, Taufik Kurniawan: Jangan Cuma Media Asing yang Berani

Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan mengatakan, masyarakat dipersilakan untuk menilai sendiri apakah pemberitaan media daring Asia Times tentang pencitraan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi akan berimplikasi positif atau tidak pada Pilpres 2019 mendatang.

“Seluruh akumulasi pendapat tentang pencitraan yang diungkap oleh media asing dan juga pendapat di dalam negeri digiring dan akan ditentukan pada Pilpres 2019,” kata Taufik Kurniawan kepada rilis.id di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Dengan pemberitaan media asing tersebut, sambung politisi PAN itu,  membuktikan bahwa media lokal yang ada di Indonesia sudah seperti terkondisikan sehingga tidak mengungkap fakta yang ada di Indonesia selama Jokowi menjadi presiden.

“Media lokal sudah 'dikondisikan' tapi ada media sosial yang lebih dahsyat dan masyarakat bisa menilai,” ungkap Taufik.

Oleh karena itu, ia meminta bila ada yang salah dan janggal dengan pemerintahan, sebaiknya diungkap saja.

“Masyarakat sudah lebih dewasa. Kita juga harus berani berkomentar, jangan media asing saja yang berkomentar,” kata Taufik.

Asia Times tanggal  23 Januari 2018 menulis bertita "Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths". Penulisnya John McBeth, seorang jurnalis berusia 73 tahun kelahiran Selandia Baru dan kini bekerja sebagai kolumnis dan jurnalis lepas.

 

Dalam tulisan tersebut McBeth mengkritik proyek infrastruktur Jokowi sebagai pencitraan. McBeth menguliti sisi negatif pemerintahan Jokowi seperti megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditaksir menghabiskan duit sebesar Rp70 triliun. Proyek yang banyak dimodali enam perusahaan asal Cina itu dipandang sebagai proyek ambisius Jokowi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. 

Namun, hingga saat ini proyek tersebut terkendala pembebasan lahan yang seharusnya beres sebelum Jokowi meletakkan batu pertama (groundbreaking) pada 26 Januari 2016, tiga tahun lalu.

 

Proyek pembangkit listrik di Batang juga disoroti McBeth. Proyek yang disokong investasi senilai US$4 miliar dari Jepang itu juga mengalami kendala yang sama, pembebasan lahan.

 

Selain itu, perubahan skema pengembangan dari offshore menjadi onshore dalam proyek LNG Blok Masela juga menjadi sorotan. Minimnya infrastruktur untuk pengolahan offshore disebut sebagai kendala yang menyebabkan proyek ini tak berjalan mulus.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)