Kashoggi, Lampung Fair, dan Jurnalis Kita - RILIS.ID
Kashoggi, Lampung Fair, dan Jurnalis Kita
[email protected]
Senin | 19/11/2018 06.01 WIB
Kashoggi, Lampung Fair, dan Jurnalis Kita
Karina Lin, Penulis tinggal di Bandarlampung

DUNIA pers dibuat gusar bukan kepalang. Lantaran kematian jurnalis senior asal Arab Saudi, Jamal Kashoggi. Jurnalis 60 tahun ini diduga meninggal karena dibunuh oleh konspirasi Pemerintah Arab Saudi (?) pada awal Oktober 2018.

Berdasarkan kronologis yang dikutip dari BBC, ditulis pada tanggal 2 Oktober 2018, ia datang ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mengurus surat-surat pernikahan.

Kashoggi masuk seorang diri ke konsulat, sementara tunangannya menunggu di luar. Sekian lama ditunggu (pascamasuk), sosok Kashoggi tidak ke luar-ke luar juga.

Inilah yang kemudian (awalnya) memunculkan dugaan telah terjadi sesuatu dengannya dan sesuatu tadi dugaannya adalah dibunuh.

Setelah sejumlah penyelidikan dan analisis, disebut-sebut bila Kashoggi telah dibunuh oleh tim khusus dan Pemerintah Arab-lah yang berperan di sini.

Awalnya, mereka (otoritas Arab) mengelak, akhirnya kini berterus terang bahwa benar mereka turut andil dalam tewasnya Kashoggi.

Sekali lagi, kematian Kashoggi tentu menjadi salah satu kehilangan terbesar di dunia pers.

Bersamaan, kematian sekaligus sosoknya ini menjadi sebuah sentilan dan perenungan akan kondisi pers kita, khususnya jurnalis. Dalam hal ini, secara lebih menukik, saya berfokus pada jurnalis di Sai Bumi Ruwa Jurai alias Lampung. Mengapa?

 

Cerita dari Lampung Fair

Sekitar seminggu lalu, yakni 27 Oktober 2018 –perhelatan akbar Lampung Fair resmi ditutup oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.

Ajang tahunan yang telah dimulai sejak 12 Oktober lalu itu dilaporkan berhasil membukukan nilai transaksi fantastis senilai Rp18,7 miliar.

Jumlah ini disebut-sebut mengalami kenaikan dibandingkan ajang yang sama di tahun lalu (2017). Mengutip Fajarsumatera.co.id, lebih besar 21 persen dari Lampung Fair 2017.

Patut diketahui, Lampung Fair memang even wah bin megah yang digelar setiap tahun –rutin semenjak (kalau tak salah) 1991 – pokoknya sejak Orde Baru dimana dulunya bernama Pameran Pembangunan.

Kebetulan saat masih bernama Pameran Pembangunan – saya masih bertempat tinggal di sebuah perumahan dekat lokasi yang (setelah direnovasi) bernama PKOR dan digunakan sebagai lahan Lampung Fair.

Dulu mah tahunya dan menyebutnya sebagai lapangan MTQ. Lantaran dekat, maka tergolong sering ke sana. Biasanya sore menjelang malam hari dan ramai, tak berbeda dengan sekarang. Bedanya dulu tidak pakai tiket masuk ke even.

Sekali lagi, Lampung Fair memang megah. Tak mengherankan kalau diperlukan persiapan matang guna menggelar dan menyajikan even fair yang berkualitas.

Selain spot atau lokasi, tampilan, desain, tema atau konsep acara, dan pemberitaan termasuk penting. Poin terakhir boleh disebut lebih penting. Sebab berita menjadi pemberi informasi mengenai even.

Berita pula yang berperanan dalam membentuk image sebuah perhelatan (entah besar, sedang, kecil) mana pun, tak terkecuali Lampung Fair. Apakah sebuah even dapat dinilai sukses atau gagal, sesuai ekspektasi atau sebaliknya, sesuai yang digembor-gemborkan atau tidak.

Pemberitaan juga menjadi penyambung dari orang-orang yang tidak dapat hadir secara langsung di lokasi. Melalui pemberitaan yang baik, orang-orang tadi dapat turut merasakan atmosfernya menjadi seolah-olah hadir langsung di even tersebut.

Nah, berkaitan soal pemberitaan ini ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Alih-alih menyajikan berita yang mendetail, cover bothside yang sesuai kaidah pers atau jurnalistik (jangan lupakan kode etik). Saya justru malah mendengar informasi kurang sedap dari ini. Dari sebuah grup WA yang saya ikuti (grup jurnalis) ada seorang kawan (jurnalis) yang bercerita.

Pertama, para jurnalis yang meliput Lampung Fair dibuatkan jadwal peliputan. Semisal jurnalis media A, jadwal meliputnya hari ini. Jurnalis media B, jadwal meliputnya hari itu. Dengan kata lain, untuk peliputan even Lampung Fair maka para jurnalis tak bebas meliput kapan saja. Melainkan harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan.

Kemudian, kedua, ini buntut dari yang pertama – ada indikasi diaturnya jadwal peliputan terkait ”amplop” untuk para jurnalis yang meliput.

Tahu kan apa itu amplop? Dalam bahasa umum, amplop dimaknai uang, suap atau gratifikasi – bisa juga uang lelah dan semua itu sifatnya tidak remi alias diam-diam – melanggar ketentuan, peraturan, undang-undang.

Informasinya dengan pengaturan jadwal liputan maka untuk pembagian amplop menjadi lebih teratur atau terstruktur serta jelas peruntukkannya untuk jurnalis mana saja. 

Betulkah demikian? Saya kira betul. Faktanya salah satu organisasi profesi pers yaitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandarlampung sampai mengeluarkan pernyataan sikap yang menyesalkan praktik pengaturan jadwal peliputan dan soal amplop tadi.

Dalam siaran persnya yang dikutip dari rilislampung.id, Ketua AJI Bandarlampung Padli Ramdan menyesalkan pengaturan jadwal peliputan pada Lampung Fair 2018. Lebih lanjut, AJI menyesalkan jika penjadwalan tersebut dilakukan dengan pertimbangan ada pembagian uang transportasi bagi wartawan.

 

Pers Kritis dan Kode Etik

Ada rasa prihatin terhadap kejadian ini. Sedih, gamang dan menyesalkan kenapa kok seperti itu? Bukankah yang dilakukan tersebut jelas-jelas melanggar kode etik jurnalis? Pasal 6 Kode Etik Jurnalis (KEJ) menyebut jurnalis dilarang menerima atau meminta amplop dari narasumber.

Memang sempat disebut-sebut kalau uang yang diberikan kepada jurnalis di Lampung Fair adalah uang transpor. Tapi kok rasanya sangsi.

Sepengalaman saya, untuk pasal uang transportasi biasanya diberikan dalam kapasitas si jurnalis mengikuti workshop. Di luar itu saya kira tidak.

Jadi ingat pernah membaca pengalaman jurnalis yang pernah ditempatkan meliput di Istana Negara (tapi lupa baca di mana dan judul tulisannya).

Jurnalis peliput ini mendapat fasilitas – seperti dibayari tiket untuk peliputan pejabat yang ke luar kota dan mendapat uang saku pula. Hal ini terjadi ketika masih di masa Orde Baru atau pers eranya Soeharto.

Kalau begitu kasus jurnalis di Lampung Fair itu rada mirip-mirip jurnalis era Orba yang meliput di Istana dong. Terlepas apakah amplop tadi inisiatifnya dari si penyelenggara atau jurnalisnya sendiri.

Kalau sudah begini, apakah jurnalisnya masih bisa tetap berimbang dan independen? Di sinilah benang merahnya dengan Jamal Kashoggi. Jurnalis yang (sengaja?) dibunuh oleh konspirasi Pemerintah Arab Saudi, selama ini dikenal sebagai jurnalis yang kritis.

Dalam laman CNN Indonesia, dipaparkan mengenai riwayat Kashoggi. Ia menjadi reporter setelah berteman dengan Osama Bin Laden, ia dikenal sebagai jurnalis yang memiliki pemikiran progresif yang paling banyak menyatakan pandangan mengenai negaranya dan kritis. Melalui tulisan-tulisannya, ia tak segan mengkritisi kebijakan Pemerintah Arab Saudi.

Nah di sinilah sebenarnya saya menaruh harap terhadap para jurnalis peliput Lampung Fair. Tak melulu memberitakan heboh hinggar bingarnya helatan setiap tahun (yang pasti memerlukan biaya besar) dan dipenuhi artis-artis ibukota sebagai penyemaraknya.

Cobalah beritakan bagaimana misalnya proses atau prosedur pemilihan Event Organizer yang dipilih mengurusi Lampung Fair, tentang seberapa besar anggarannya dan berasal dari sumber dana mana saja.

Ketika even berlangsung, bisa disorot soal omzet parkir atau retribusi dari even. Itu dapatnya berapa dan larinya kemana? Soal parkir, sepengamatan saya kerap dikeluhkan oleh para pengunjung di setiap tahun Lampung Fair digelar. Mulai dari tarif parkir yang kemahalan atau parkir liar alias tidak resmi.

Kemudian soal harga tiket, ini juga pernah dipermasalahkan. Mungkin bisa ditelusuri bagaimana atau poin-poin apa saja yang menjadi dasar penetapan harga tiket. Apa yang menyebabkan harga tiket sebegitu mahalnya? Intinya transparansi. Tak salah toh karena perhelatan Lampung Fair ini setahu saya menggunakan uang rakyat.

Sebenarnya dari pengamatan saya, ada beberapa media di Lampung yang tergolong berimbang dalam pemberitaan terkait Lampung Fair. Ada lah 1-2 media. Selain itu, ya standar. Kebanyakan ya soal hinggar bingarnya itu.

Kini setelah mengetahui terjadi penjadwalan peliputan dan soal amplop tersebut dalam hal even Lampung Fair. Rasanya menjadi sia-sia berharap bisa mendapatkan pemberitaan yang berimbang dan independen tadi. Seharusnya juga pers kritis terhadap even Lampung Fair.

Menyoal amplop ini ada satu buku yang pernah saya baca. Bukunya ditulis oleh seorang wartawan senior. Tapi saya lupa judulnya. Dalam satu bab, dia bercerita soal amplop dan dikatakannya tidak benar seorang wartawan menerima atau meminta amplop. Dia menolak.

Dilanjutkannya lagi, kalau mau menerima amplop – ya terimalah yang digitnya banyak, yang bisa menghidupi hingga anak cucu 7 turunan dan bisa dipakai membangun sebuah bunker untuk tempat tinggal atau menyimpan uangnya. Sebuah satire tetapi menohok.

Perkembangan terbaru, katanya jenazah Kashoggi masih dicari oleh pihak berwenang dan muncul berbagai spekulasi mengenai kondisi jenazahnya tadi. Semoga bisa segera ditemukan.

Bagi para insan pers. Kashoggi mungkin telah tiada secara raga. Namun secara prinsip dan dedikasi dalam profesi pers-nya tidak. Harapannya para jurnalis bisa meneladani dedikasi tersebut dalam menjalani profesi pers masing-maisng. Semoga. (*)


Biografi Singkat tentang Penulis

Penulis bernama lengkap Karina Eka Dewi Salim atau lebih dikenal Karina Lin, dilahirkan pada 17 April 1983 di Tanjungkarang yang juga merupakan tempat penulis berdomisili pada saat ini. Bulan Maret 2009, lulus dari Universitas Lampung dengan spesialisasi Pendidikan Sejarah.

Sangat menyukai dunia kepenulisan, selain membaca, mendengarkan musik, travelling, fotografi, yoga dan memasak (sembari bereksperimen dengan berbagai bahan masakan).

Selama masa kuliah hingga sekarang, cukup sering mengikuti lomba penulisan baik ilmiah maupun non ilmiah, juga menulis artikel lepas semacam (terutama) opini, cerpen dan resensi buku di media cetak lokal, media cetak lokal luar daerah ataupun nasional.

Beberapa lomba tulis menulis yang pernah diikuti, misalnya Lomba Esai Japan (2006, diadakan Japan Foundation Indonesia), Lomba Esai Korea (2004 dan 2006, diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Korea), Lomba Cerpen Majalah Femina (2006 dan 2016), Lomba Cerpen Lip Ice-Selsun Awards (2006), kompetisi menulis sinopsis untuk Short Story Competition (2009, diadakan oleh L.A. Indie Movie), dan lain-lain.

Pernah bekerja sebagai jurnalis surat kabar lokal Radar Lampung (Jawa Pos Group) pada 2010-2011. Bergabungnya penulis dengan media itu berawal dari opini yang pernah dipublikasikan oleh harian tersebut.

Kemudian di Juni 2013 menjadi jurnalis di surat kabar lokal Lampung Newspaper (Radar Lampung Group). Berlanjut sebagai jurnalis dan editor di media online duajurai.com (2015-2016), penulis lepas (freelance writer) di surat kabar lokal dan nasional, dan tercatat sebagai anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Kota Bandar Lampung serta menjadi salah satu penulis dalam buku kompilasi mengenai lembaga kesenian di Lampung yang berjudul Rumah Berwarna Kunyit (Oktober 2015), official book Kepolisian Daerah (Polda) Lampung Bhayangkara Lampung Melintas Badai (April 2016), Secangkir Kopi Bumi Sekala Brak, Jejak Langkah 25 Tahun Kebangunan Lampung Barat (Maret 2017). Pada April 2018 meluncurkan buku bunga rampai yang berjudul Lampungisme: Sosiokultur, Alam ,dan Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai.

Adapun mengenai topik tulisan, kebanyakan berfokus pada tatakota (Bandarlampung) dan permasalahannya. Sedangkan dalam bidang kesejarahan, penulis mengkhususkan diri pada sejarah peranakan Tionghoa Indonesia (dan di Lampung), sejarah seni dan budaya dan sejarah politik.

Selain itu penulis juga seorang penyintas lupus dan bergiat di Komunitas Odapus Lampung (KOL), sebuah komunitas yang mejadi wadah dan support group bagi orang-orang dengan lupus (odapus) yang berdomisili di Provinsi Lampung.


Korespondensi dengan penulis dapat dilakukan melalui:

Karina Lin

Handphone/ SMS/ WA             : 081367092255/087899180928 (lebih disukai WA) 
Pin BB                                      : 7D71D7A8
E-mail ke                                   : [email protected] / [email protected]
Facebook                                 : Search for Sycarita Karina Lin
Twitter                                       : Follow @KLin17
Blog                                         : www.sycarita.blogspot.com
Instagram                                : linkar1938

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID