Kawan yang Setianya Tanpa Cela (In Memoriam Bang Een) - RILIS.ID
Kawan yang Setianya Tanpa Cela (In Memoriam Bang Een)
[email protected]
Senin | 22/04/2019 21.37 WIB
Kawan yang Setianya Tanpa Cela (In Memoriam Bang Een)
(Dari kiri ke kanan) Bang Een, Syamsul Arief, Habiburokhman (Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra), dan Yhannu Setywan (mantan Komisioner Komisi Informasi Pusat). FOTO: ISTIMEWA

Oleh: Syamsul Arief, Ketua PN Gunungsugih, Mantan Mahasiswa FH Unila
----

Where have all the flowers gone?
Long time passing Where have all the flowers gone?
Long time ago
Where have all the flowers gone?
Girls have picked them every one
When will they ever learn? When will they ever learn?

SAYA teringat lagi lagu folk Amerika yang dibuat Pete Seeger tahun 1955 dan dipopulerkan kembali oleh Trio penyanyi bersuara merdu Peter, Paul, dan Mary.

Pagi tadi  lagu ini mengalun dalam pikiran saya usai Hasan Basri Natamenggala (Nori), Kepala Kantor BPN Lampung Tengah, memberi kabar sahabat kami Hendarmin atau biasa saya panggil Bang Een, meninggal dunia karena serangan jantung. 

Di perjalanan saya menuju rumah duka, kilatan ingatan membawa saya pada masa-masa awal saat masih kuliah di Universitas Lampung (Unila).

Bang Een adalah senior saya di Fakultas Hukum Unila dan senior saya di organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandarlampung.

Sebagai anak HMI saya cocok dengannya. Dia memiliki karakter perekat, penghubung antara junior dengan para senior. Dialah penghubung antara kawan di fakultas satu dengan lainnya, universitas satu dengan lainnya, untuk merawat perkawanan dan kerja-kerja politik kemahasiswaan.

Dia sosok yang jenaka dan bukan seorang fanatis atas suatu paham. Di mata saya Bang Een adalah sosok bohemian yang berjiwa bebas dan berseni. Dia senior yang asyik untuk diajak bicara tentang bacaan buku berkualitas, film berkelas, dan musik terbaik dari grup-grup band rock lawas.

Dan satu lagi asyiknya, dia adalah penggemar sepakbola, selalu seru membahas pertandingan sepakbola dengannya. Dia dulu pendukung klub sepakbola AC Milan, Livepool, lalu belakangan Manchester City. Dan, dia dari tahun ke tahun Piala Dunia selalu menjagokan Tim Samba, Brazil, walaupun kalah dia tetap mendukungnya.

Soal kegemarannya menonton dan mengulas pertandingan sepakbola dia pernah mengatakan kalimat serius sekaligus bercanda. "Ada dua hal yang tidak bisa dimaafkan dari seorang laki-laki: menelantarkan anak istri dan tidak menyukai sepakbola". Saya tertawa dan menyetujui pendapatnya itu.

Bang Een adalah sosok kawan yang tidak pernah mengeluh. Jika ia menghadapi kesulitan dalam menjalani hidup, dia selalu punya cara merespons getirnya kesulitan itu dalam canda untuk menguatkan diri.

Di masa itu saya dan Habiburokhman, Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra yang juga caleg DPR RI terpilih 2019 hasil Quick Count Dapil Jakarta Timur, kerap berbeda pendapat. Tapi jika kumpul bersama bang Een kami semua sama terpingkal untuk menertawai kelucuan dan ketololan kami dulu.

Masih saya ingat wajah-wajah kuyu kami mahasiswa waktu itu. Buntu tidak punya uang karena kiriman dari orangtua belum juga datang; buntu pikiran karena skripsi selalu berhenti di halaman pertama sedangkan adik tingkat susul-menyusul tiap tahun menyundul; dan buntu asmara penyebab tunapacar adalah penderitaan sempurna kami.

Lalu, Bang Een muncul di ujung ruang dengan agitasinya yang membakar.  "Bagaimana kita takut miskin, kalau kaya saja belum pernah? Bagaimana kita takut lapar jika kita belum pernah benar-benar merasakan arti kenyang ..?". Begitulah kata-katanya membuat kami ringan menghadapi kelaparan dan kemiskinan hari itu dalam tawa.

Dengan karakter yang mahaasyik itu, maka tidak heran Bang Een adalah kawan yang setianya pada kawan tanpa cela. Dia total dalam berkawan. Dia disukai banyak kawan terutama para juniornya di lintas fakultas Unila.

Tentang bagaimana dia membantu kawan saya mengingat lagi kenangan itu. Suatu ketika saat kami masih mahasiswa, ada salah satu kawan kami yang iseng mengolok tetangganya yang kebetulan seorang polisi yang dinilainya sombong dan arogan.

Polisi muda yang diledek itu 'muntab', menyerang kawan ini lalu terjadi pergumulan hebat. Bang Een cepat melompat melerai, tapi caranya dengan memiting kepala polisi itu.

Kami ikutan melerai dengan menarik tangan dan kaki polisi itu. Maksudnya agar kawan itu lari. Tapi, kawan ini malah bebas menyarangkan pukulan ke wajah polisi nahas ini. Setelah peristiwa itu kami menghilang seminggu. Bertemu kembali kemudian untuk mengulasnya sambil menertawai kegilaan itu.
***

Where have all the soldiers gone?
Long time passing
Where have all the soldiers gone?
Long time ago
Where have all the soldiers gone?
Gone to graveyards every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?

Lagu itu mengalun lagi dalam pikiran. Saya yang sudah menuju kantor di Gunungsugih lalu berbalik arah menuju rumah duka.

Saya masih tidak percaya atas kabar meninggalnya bang Een. Terakhir, tanggal 17 April lalu, saya masih berbicara dengannya menanyakan informasi perolehan suara caleg DPR RI dari Partai Demokrat, Ilham Mendrofa, sahabat baik kami yang lain. Tahun-tahun terakhir ini Bang Een selalu bersama Ilham. Dia setia menemani Ilham berjuang dalam Pileg 2019 di Dapil Lampung II.

Saya menelepon Ilham. Di ujung telepon, Ilham terisak membenarkan kabar itu. Saya tahu Ilham adalah kawan yang paling merasa kehilangan. Bang Een sudah seperti kakaknya sendiri. Mendengar Ilham terisak genangan air di pelupuk mata saya jatuh tak terbendung. 

Bang Een memang bukan politisi moncer, bukan pebisnis ulung, bukan pula birokrat pemerintahan yang sukses. Dia sosok biasa saja. Tapi tapi saya perlu mengenangnya untuk menandai betapa kami kehilangan sosok teman yang luar biasa.

Saya mengenangnya pada setiap obrolan. Dia suka mengutip kata dan kalimat pada buku-buku bacaan, dialog tokoh dalam film, dan lirik-lirik lagu menggugah. Where have all the flowers gone, adalah salah satu lagu yang pernah kami bicarakan. Saya bilang padanya waktu itu, jika mendengarkan lagu ini saya selalu merasa tenang, redup, bahkan haru.

Lalu dia bilang, "Ya karena lagu ini mengingatkan kita pada rasa kehilangan. Kehilangan pada segala sesuatu yang seharusnya belum saatnya hilang dan kita tidak selalu bisa mencegahnya," jawabnya pada suatu malam.
***

Where have all the graveyards gone?
Long time passing
Where have all the graveyards gone?
Long time ago
Where have all the graveyards gone?
Covered with flowers every one
When will we ever learn?
When will we ever learn?

Saya sampai di rumah duka. Kulihat kawan-kawan sembab wajahnya. Aku memeluk Ilham, memeluk Ganjar, Werly, Segan, dan teman-teman lainnya.

Saya tidak tahan menahan haru bila.melihat istri dan anak-anaknya. Saya membuka penutup wajahnya. Benar, Bang Een telah tiada. Lalu melafalkan surat Yasin untuknya.

Hari ini kami benar-benar harus menerima kenyataan atas kehilangan sosok, senior, kawan dan saudara yang setia. Istri dan dua anakmu sudah pasti orang-orang yang paling merasa kehilangan. Tapi bukan mereka saja yang merasakan kehilangan. Kami juga merasakan kehilangan sosokmu.

Selamat Jalan Bang Een, bersemayamlah dalam damai dan bahagia di bawah pusara bertabur bunga. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID