Kebenaran adalah.... - RILIS.ID
Kebenaran adalah....
[email protected]
Kamis | 25/04/2019 11.59 WIB
Kebenaran adalah....
Deta Roosmaladewi, alumni HMI Cabang Bandarlampung

PERNAHKAH di kepala kalian terlintas pertanyaan di atas, Madeena, Averoos, Alexandria?

Mama berusaha menjelaskan berdasarkan referensi kepada kalian, apa itu kebenaran. Akan tetapi, kata-kata yang ada pada referensi terlalu sulit jika mama salin apa adanya dan mama katakan kepada kalian.

Jadi mama putuskan untuk memakai referensi hasil diskusi mama dengan senior mama ketika kuliah dulu. Bahwa, kebenaran adalah kesalahan yang belum terbantahkan.

Mama harap otak kalian mulai bekerja setelah ini.

Kenapa mama lebih cenderung kepada: kebenaran adalah kesalahan yang belum terbantahkan?

Mama akan sedikit bercerita mengenai sejarah astronomi.

Yang diajarkan di sekolah saat ini adalah: bahwa matahari adalah pusat dari tata surya. Dan bumi bergerak mengelilingi matahari sekaligus berputar pada porosnya sendiri. Ini yang namanya teori heliosentris.

Perjalanan teori heliosentris hingga bisa sampai saat ini kalian pelajari, tidaklah mulus.

Pada awalnya adalah Nicolaus Copernicus yg menyusun teori heliosentris, bahwa matahari adalah pusat dari tata surya dan bumi bergerak mengelilingi matahari.

Teori heliosentris ini disusun oleh Copernicus dalam bukunya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium pada tahun 1532. Namun Copernicus menolak untuk mempublikasikan (mencetak) bukunya karena takut akan berpotensi menjadi kontroversi.

Yah, karena pada abad pertengahan, gereja katolik roma menganut teori geosentris. Bahwa bumi adalah pusat tata surya.

Mengerti sampai disini?

Pada abad pertengahan, teori geosentris masih menjadi sebuah kebenaran.

Ok. Kita lanjut.

Akan tetapi, seorang murid Copernicus membujuknya untuk mencetak buku tersebut. Akhirnya Copernicus setuju. Daannn....

Benarlah, bahwa buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus akhirnya menjadi sebuah kontroversi. Pihak gereja katolik roma pun menyatakan jika teori heliosentris Copernicus adalah sesat.

Tapi, teori ini sudah terlanjur menyebar dan menjadi daya tarik bagi kalangan masyarakat terpelajar eropa.

Sampai akhirnya, Galileo Galilei kembali mengutarakan teori heliosentris Copernicus yang didukungnya. Dan pada tahun 1614 Galileo pun mendapat kecaman yang sama seperti Copernicus.

Bahkan Galileo mendapatkan hukuman dari gereja Katolik Roma sebagai tahanan pada tahun 1632 berkaitan dengan teori heliosentris Copernicus yang masih didalaminya.

Kepergian Copernicus dan Galileo tidak serta merta menghilangkan teori heliosentris. Tapi justru menarik para ilmuwan mengkaji lebih dalam teori heliosentris dan membuktikannya.

Perlu waktu lama dan melibatkan banyak ilmuwan nak, untuk membuktikan dan mendukung teori heliosentris. Sebutlah Newton, Kepler, dan yang lainnya.

Dan puncaknya adalah: geosentris tidak lagi menjadi sebuah kebenaran saat ini. Teori heliosentris mampu diterima oleh masyarakat dengan kesederhanaannya dan bukti-bukti yang ada. Dan menjadi sebuah kebenaran.

Mengerti?

Itu sejarah nak. Sejarah abad pertengahan.

Dan saat ini kita, rakyat Indonesia juga sedang dihadapkan pada dua kebenaran yang sedang bertarung untuk sebuah kekuasaan.

Saat ini kita sedang menikmati pihak-pihak yang bertarung dengan banyak kebenaran sebagai senjata pamungkas menarik simpati rakyat.

Sebuah pesta demokrasi dengan pertarungan mempertontonkan kebenaran-kebenaran berdasarkan standar masing-masing.

Bukan sebuah upaya mencari kebenaran secara bersama-bersama untuk membuat rakyat tenang.

Masing-masing sibuk membuat bantahan akan kebenaran yang diajukan lawan.

Ah...mama hanya berharap kebenaran yang nantinya mampu diterima oleh rakyat Indonesia tidak melalui jalan yang panjang seperti diterimanya teori heliosentris sebagai sebuah kebenaran.

Yah...ini masih tentang pesta demokrasi nak...(*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID