Kenapa Mesti Koran Lagi? - RILIS.ID
Kenapa Mesti Koran Lagi?
[email protected]
Senin | 29/04/2019 01.46 WIB
Kenapa Mesti Koran Lagi?
Wirahadikusumah

Oleh: Wirahadikusumah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tabik Pun...

Saya kembali. Ke dunia yang pernah saya geluti selama sepuluh tahun. Yaitu: Jurnalistik.

Sebelumnya saya memang sempat ”tersesat” selama sepuluh bulan. Sejak Juli 2018 hingga 17 April 2019. Di dunia yang saya tak mengerti apa-apa. Yang tak tahu bagaimana ”rule of the games”-nya.

Selepas mengundurkan diri dari Pemimpin Redaksi SKH Radar Lampung pada 17 Juli 2018, saya memang tidak meninggalkan sama sekali dunia jurnalistik. 

Sebab, dalam perjalanannya, saya memiliki saham di perusahaan media online Rilis.id dan Rilislampung.id.

Namun, selama menyandang status sebagai calon anggota legislatif (caleg), tak pernah sama sekali saya ikut-ikutan keredaksian di dua media online yang bermarkas di Jakarta dan Lampung tersebut.

Saya masih patuh dengan janji yang pernah saya katakan. Yakni, tidak akan mencampur adukkan kepentingan politik dan jurnalistik. 

Karena itu, meskipun tercatat sebagai salah satu pemilik Rilis.id dan Rilislampung.id, saya tak pernah sama sekali membuat atau mengediting berita di dua media ini. Apalagi mengintervensi beritanya.

Nah, saat ini saya tak lagi berstatus caleg. Karenanya, saya memutuskan kembali ke dunia jurnalistik. Tentunya di Rilis.id dan Rilislampung.id.

Termasuk di koran Rilisid Lampung. Yang edisi perdananya terbit hari ini (29/4). Sebagai jurnalisnya. Juga di manajemen perusahaannya.

Lalu kenapa Rilis.id menerbitkan koran? Bukankah sudah banyak contoh perusahaan media cetak gulung tikar di era digital ini?

Ada beberapa alasannya. Pertama, karena saya belum sepenuhnya percaya dengan prediksi yang menyatakan bisnis koran akan mati. Saya lebih sepakat jika dikatakan sedang mengalami penurunan. 

Bahkan, dari lubuk hati saya yang paling dalam, masih terbersit harapan media cetak berkibar lagi. Saya berharap ini hanya sebuah siklus yang nantinya media cetak akan berjaya kembali.

Saya juga ingat perkataan Pak Dahlan Iskan (DIS) tahun lalu. Dalam diskusi bertajuk Konvensi Nasional Media Massa. Pada Hari Pers Nasional 2018 di Padang, Sumatera Barat. Yang pernyataannya itu saya dapat dari JawaPos.com.  

Pak DIS mengatakan, perkembangan zaman saat ini sudah cukup pesat. Sehingga sulit memprediksi masa depan. Karena perubahan melaju begitu cepat.

Dengan kondisi tersebut, semua orang tidak tahu masa depan. Menurutnya, orang saat ini tidak perlu terlalu banyak mendengar nasehat dan prediksi hingga perencanaan jangka panjang. Karena perubahan berlangsung terlalu cepat.

Untuk itu, lakukanlah apa yang harus dilakukan. Tanpa ada keraguan atau ketakutan akan kegagalan. 

Keberanian dalam melakukan apa yang harus dilakukan tentunya adalah kunci utama dalam melakukan suatu perubahan. Demi menghadapi revolusi digital yang kapan saja bisa membuat industri media hancur.

Saat ini, internet dan media sosial memang tengah menjadi raja dalam dunia media. Namun tetap tidak menjamin masa depan media. Penyebabnya, karena sangat sulit untuk diramalkan.

Karena perkataan Pak DIS itulah, saya masih ada keyakinan koran tetap bisa hidup di era digital ini. Sebab, masa depan media massa nantinya seperti apa, siapa yang tahu? Bisa jadi koran berjaya kembali.

Walaupun ternyata pada akhirnya koran nanti mati, dan media online tetap berjaya, saya memandang itu sudah takdirnya. Toh, koran Rilisid Lampung masih ada media online-nya Rilislampung.id dan ”ibunya” Rilis.id.

Sehingga, saya masih bisa beraktivitas di dunia jurnalistik. Intinya, mengutip perkataan Pak DIS: Koran boleh mati, tapi jurnalistik tidak boleh mati.

Meskipun saat ini, saya sangat berharap, koran masih bisa hidup. Di zaman ini, maupun masa depan.

Nah, jika sudah berbicara harapan, tinggal bagaimana mewujudkannya. Caranya? Kerja keras dan cerdas untuk menyajikan berita berkualitas kepada pembaca. 

Jika isi koran masih sama beritanya dengan media online, ya pasti akan mati. Koran harus bisa menyajikan berita yang lebih mendalam daripada media online.

Harus dapat mendeskripsikan suatu peristiwa. Menceritakan secara detil sehingga bisa menjadi panduan pembaca dalam mendapatkan informasi. Intinya, tidak boleh menyajikan berita yang ala kadarnya.

Karenanya harus dipikirkan rubrikasi yang menarik di koran. Melakukan liputan yang harus berbeda dengan koran lain. Termasuk media online dan media sosial. Jika tidak, tentu saja akan ditinggalkan.

Karena itu jugalah, nantinya koran Rilisid Lampung isinya tidak boleh sekadar memindahkan berita dari online ke koran. Tetapi kebalikannya, setelah terbit di koran beberapa jam, baru pindah ke online. 

Konsep yang diusung juga mirip-mirip magazine style. Dalam satu halaman, hanya satu hingga dua berita yang disajikan dengan berbagai angle. 

Tentunya, konten beritanya sudah melalui proses pemikiran tim redaksi di rapat perencanaan atau proyeksi. Sehingga, news value yang didapatkan bisa tinggi. Sebab, penilaiannya menggunakan rumus yang diciptakan Pak DIS: New Rukun Iman Berita. 

Sesekali saya juga akan menggunakan ”jurus” NSN (new straight news) dalam mengediting berita. ”Jurus” ini diturunkan Pak DIS, saat saya menjadi muridnya selama sepuluh hari. Pada 2014, di Graha Pena Jakarta. 

Alasan kedua karena kredibilitas media cetak di masyarakat akibat maraknya hoax. Sering saya jumpai pembaca dengan gampangnya memvonis suatu berita di media online atau media sosial adalah hoax. Padahal sebenarnya sudah sesuai fakta. 

Sementara jika di koran, cukup sulit masyarakat menyatakan beritanya hoax. Karena itulah, saya memandang kredibilitas media cetak masih tinggi. Untuk referensi atau sumber terpercaya masyarakat.

Alasan ketiga karena gaya hidup. Di masa saya masih duduk di bangku SMP, hadirnya VCD atau DVD membuat bioskop-bioskop di zaman itu gulung tikar. Nah, saat ini bioskop di Indonesia kembali digandrungi. Baik dari anak-anak muda, orang dewasa, hingga orang tua.

Saya menilai penyebabnya karena prestise dan kenyamanan. Meskipun sudah banyak yang memiliki VCD atau DVD di rumah, banyak masyarakat saat ini yang malah memilih menonton di bioskop.

Inilah yang saya lihat terjadi di media cetak. Saya yakin, masih banyak masyarakat yang lebih nyaman membaca koran daripada media online. Sebab, ada ”rasa” yang berbeda. 

Alasan lainnya adalah minat baca. Saya sangat yakin, jika masih ada minat baca di masyarakat, koran masih bisa tetap hidup. Buktinya masih ada buku yang best seller di zaman digital ini. 

Saya melihat faktornya karena isi dari buku itu yang menarik orang untuk membelinya. Demikian pun koran. Akan tetap dicari dan dibeli, jika beritanya menjawab keinginan tahu masyarakat. Menyediakan informasi yang dibutuhkan pembaca. Yang isinya harus lebih dari yang ada di media online.

Saya ingat perkataan Direktur Utama Jawa Pos Leak Kustiya. Ketika menjadi pemateri dalam pelatihan redaktur Jawa Pos Group pada 2015. Yang saya adalah salah satu peserta pelatihan yang diadakan selama sepekan di Graha Pena Surabaya, Jawa Timur, tersebut.

Saat itu, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos itu menyakinkan kepada peserta pelatihan, koran akan tetap hidup selama manusia masih beraktivitas.

”Yakinlah, di mana ada keruwetan manusia, di situ ada kehidupan koran,” ucapnya kala itu.

Lalu, apakah dengan menerbitkan koran, Rilis.id akan mematikan online-nya? Tentu saja tidak! Media online dan offline (koran) harus berjalan beiringan.

Saat ini, sebagian orang ada yang memandang media online adalah kompetitor koran. Cara pandang ini mesti dirubah. Sebab, keduanya harus berjalan seirama. Layaknya orang berdansa. 

Meminjam istilah Ketua Kadin Lampung DR. Muhammad Kadafi, saat ini adalah masanya dancing with competitor. Bukan fighting with competitor. Harus sama-sama menjaga pasar. Agar semuanya bisa terus hidup.

Saya yakin, bersama tim di Rilisid Lampung, kami bisa menyajikan berita-berita berkualitas untuk pembaca. Terlebih karyawan di media ini banyak yang sudah berpengalaman. Bahkan 75 persen di antaranya adalah alumni Radar Lampung Group.

Selain saya sendiri, di antaranya ada Ade Yunarso yang kini merupakan Pemimpin Redaksi (Pemred) Rilisid Lampung.

Sebelumnya, Mas Ade (sapaan akrab Ade Yunarso) juga pernah menjadi Pemred Radar Lampung. Saat menjabat Wakil Direktur Bidang Keredaksian, dia mengundurkan diri dan kini bergabung di Rilisid Lampung.

Kemudian, Adi Pranoto sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Rilisid Lampung. Sebelumnya ia pernah bekerja di Radar Lampung sebagai Pemimpin Redaksi Radarlampung.co.id.

Lalu Segan Petrus Simanjuntak selaku Pemimpin Perusahaan Rilisid Lampung. Dahulu ia juga pernah bekerja di Radar Lampung dengan posisi terakhir sebagai asisten redaktur. Dia juga sempat bergabung di Radar Banten.

Selanjutnya Asep Supriyadi alias Kang Ayep Kance selaku Manajer IT Rilisid Lampung. Dahulu dia juga adalah Manajer IT Radar Lampung Online.

Kemudian beberapa jurnalis Rilisid Lampung baik di kota dan kabupaten, juga pernah bergabung di Radar Lampung Group.

Akhirnya, melalui tulisan ini juga, saya memohon izin dan dukungan kepada masyarakat Lampung. Sekaligus juga melapor. 

Bahwa saya, sudah kembali ke ”khittah”. Juga melakukan ”taubatan nasuha”. Setelah sempat ”murtad” dari alam saya yang sebenarnya. Yakni: Jurnalistik.

Saya akan kembali berkiprah di dunia ini. Di media massa yang baru: Rilis.id, Rilislampung.id, dan koran Rilisid Lampung.

Tabik...

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(whk)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID