Ketua PWNU Lampung Minta Umat tak Terprovokasi Sukmawati - RILIS.ID
Ketua PWNU Lampung Minta Umat tak Terprovokasi Sukmawati
Taufik Rohman
Selasa | 03/04/2018 21.16 WIB
Ketua PWNU Lampung Minta Umat tak Terprovokasi Sukmawati
Ketua PWNU Lampung Prof Dr H Moh Mukri. FOTO: IST

RILIS.ID, Bandarlampung – Kontroversi puisi Ibu Indonesia karya Sukmawati sampai ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung. Ketua PWNU Lampung Prof Dr H Moh Mukri meminta umat Islam, khususnya warga NU tak terprovokasi.

"Kita sangat menyayangkan. Ngapain ngejek-ngejek seperti itu. Kalau dia tidak paham syariat Islam, jangan begitu. Nggak ada manfaatnya," sesal Mukri saat dihubungi via ponselnya, Selasa (3/4/2018) sore.

Seperti diketahui, Sukmawati membacakan puisinya itu di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (29/3/2018) malam. Puisi tersebut membandingkan antara cadar dengan konde dan azan dengan kidung. Baca: Dua Sastrawan Lampung Menilai Puisi Sukmawati Melukai.

Menurut Mukri, puisi tersebut mengarah sara yang membuat umat Islam tersinggung. Tak ada relevansinya Islam dengan budaya Jawa. ”Toh sekarang orang Islam memakai kerudung damai-damai saja. Soal dia nggak tahu azan, nggak tahu syariat Islam, jangan lantas mengolok. Itu melukai, menciderai umat Islam," tegasnya.

Mukri karenanya menilai apa yang dilakukan Sukmawati kontraproduktif, memecah-belah. Pak Soekarno dulu itu meskipun dia bebas, nasionalis, tapi tidak pernah menghujat Islam. Begitu juga ibunya (Fatmawati) tidak pernah," tegas Rektor UIN Raden Intan Lampung ini.

Namun sama dengan MUI pusat melalui Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, KH Ahmad Ishomuddin (baca: MUI Minta Sukmawati Tidak Benturkan Agama dan Budaya), Mukri meminta umat muslim tak terpancing. "Umat NU kita ajak menjaga kondusif. Karena kondusif itu aman. Aman itu prasyarat terwujudnya pembangunan," ajaknya.

Sekretaris ICMI Orwil Lampung Khomsahrial Romli sependapat. Dia menjelaskan, etika Sukmawati kurang bagus. "Dia kan orang Islam. Kenapa dia menjelek- jelekan, Itu tergolong sara, penistaan agama. Kenapa dibandingkan? Kan syariat Islam dengan budaya jelas berbeda, apalagi dia anak mantan Presiden RI pertama," tandas Khomsahrial.

Untuk memberikan efek jera kepada Sukmawati, dia harus meminta maaf kepada umat Islam melalui media. Bukan satu media, tapi semua media. "Efek jera diberikan agar setiap peristiwa semacam itu tidak berulang. Jangan sedikit-sedikit meminta maaf," pungkasnya. (*)

 

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID