Khittah Bawang Putih - RILIS.ID
Khittah Bawang Putih
Wirahadikusumah
Selasa | 11/02/2020 11.55 WIB
Khittah Bawang Putih
Oleh: Wirahadikusumah

Bawang putih menjadi "jahat" lagi. (Baca: http://m.lampung.rilis.id/ternyata-bawang-putih-lebih-jahat-dari-bawang-merah).

Bikin hati istri saya ngenes lagi.

Karena harganya melambung lagi.

Sampai dua kali lipat lagi.

Siapakah si biang keladi?

Hmmm... Tiongkok lagi.

Ups. Bukan.

Karena kebutuhan bawang putih kita masih bergantung dengan impor. Yang 80 persen diimpor dari Tiongkok.

Sementara, Tiongkok saat ini sedang ada Corona. Virus yang menakutkan itu. Yang sudah membuat ratusan orang tewas itu.

Karena itulah, pengusaha menahan stok bawang putih di gudang. Mereka khawatir terjadi penyebaran virus.

Akibatnya?

Hukum ekonomi berlaku: Jika stok barang sedikit, harga menjadi mahal. Pun sebaliknya.

Informasi itu bukan dari saya. Tapi penjelasan Direktur Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI Prihasto Setyanto.

Yang disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI di Jakarta, Senin (10/2/2020). Yang beritanya saya baca di media-media online. Tadi pagi (11/2/2020).

Dari berita yang saya baca itu, ada informasi baik yang saya dapat.

Ternyata, Kementan tahun ini mengalokasikan anggaran Rp220,15 miliar.  Dalam rangka pengembangan sentra kawasan bawang putih. Di berbagai daerah Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Prihasto menjelaskan, produksi bawang putih dalam negeri saat ini baru mencapai 87.509 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan nasional 560-580 ribu ton per tahun.

Menurutnya, luas tanam bawang putih di Indonesia pada 2019 adalah 12.461 hektare (ha). Sementara luas panennya 12.007 ha dengan produksi 87.509 ton. Yang produktivitasnya sebesar 7,29 ton/ha.

Karenanya, diperlukan upaya peningkatan produktivitas bawang putih dalam negeri. Dengan mengembangkan luasan lahannya. Yang tahun ini ditarget mencapai 5.453 ha. Yang tersebar di 16 provinsi Indonesia.

Yakni, Aceh seluas 100 ha; Sumatera Utara (505 ha); Sumatera Barat (150 ha); Bengkulu (225 ha); Jambi (75 ha); Sumatera Selatan (50 ha); dan Lampung (160 ha).

Kemudian Jawa Barat (185 ha); Jawa Tengah (1.581 ha); Jawa Timur (636 ha); Bali (195 ha); NTB (811 ha); NTT (50 ha); Sulawesi Utara (170 ha); Sulawesi Tengah (200 ha); dan Sulawesi Selatan (360 ha).

Upaya Kementan itu harus kita dukung. Agar produktivitas bawang putih dalam negeri bertambah. Sehingga kita tidak bergantung lagi dari impor.

Saya sangat berharap perluasan sentra lahan bawang putih itu berhasil.

Terlebih, tidak mungkin sepertinya bawang putih tak bisa tumbuh di negeri ini.

Sebab, meskipun tak pernah ke Tiongkok, saya yakin tanah kita lebih subur dari tanahnya Xi Jinping itu.

Bukankah kata Koes Plus, tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Apalagi cuma menanam bawang putih. Masak tidak tumbuh?

Tentu saya juga akan merasa senang sekali. Jika program perluasan lahan bawang putih itu berhasil.

Karena dengan begitu, bawang putih akan kembali ke "khittah-nya". Sesuai dengan "kodratnya". Yang menurut legendanya, memiliki hati yang baik. Tidak jahat seperti saudaranya bawang merah.(Wirahadikusumah)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID