Ardika Chandra, Warga Tulangbawang Barat yang Menimba Ilmu Pertanian di Jepang - RILIS.ID
Ardika Chandra, Warga Tulangbawang Barat yang Menimba Ilmu Pertanian di Jepang
Segan Simanjuntak
Jumat, 2018/03/30 09.30
Ardika Chandra, Warga Tulangbawang Barat yang Menimba Ilmu Pertanian di Jepang
Dadeng Gunawan (berdasi), Atase Pertanian di KBRI Tokyo saat mendampingi Ardika Chandra berkeliling melihat alat pertanian dan greenhouse di Prefektur Ibaraki, Rabu (28/3/2018) waktu setempat. FOTO: IST

Ardika Chandra, seorang pemuda asal Tulangbawang Barat, mungkin tidak pernah bermimpi menginjakkan kakinya di Jepang. Pasalnya, warga Dusun Sukajaya RT 04/RW 01 Kecamatan Gunung Agung ini bukan tergolong anak orang kaya atau orang tuanya pejabat.

Lajang kelahiran 25 Januari 1996 ini merupakan anak petani. Kondisi ekonomi orang tuanya, Handayani dan Nurhayati, sebagai petani karet dengan lahan seluas 1 hektar tidak mampu membiayai Ardika untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi setelah lulus SMA pada tahun 2014 lalu.

Ardika pernah mendapat kesempatan untuk kuliah di kampus negeri melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan kriteria seleksi penerimaan berdasarkan nilai rapor, nilai ujian nasional, dan prestasi akademis lainnya.

Sayang, mimpinya untuk menimba ilmu di perguruan tinggi negeri belum terwujud kala itu. Ardika seolah patah arang untuk mengikuti seleksi SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Keterbatasan kemampuan ekonomi orang tua tidak mematahkan semangat Ardika untuk menimba ilmu pengetahuan. Ia akhirnya memilih pelatihan pertanian di sebuah organisasi nirlaba bernama Organization of Industrial Spiritual Cultural and Advacement (OISCA). Markasnya berada di Sukabumi, Jawa Barat.

“Semua karena terkendala ekonomi, Mas. Saya dulu mau kuliah dengan program studi bahasa Inggris di Unila tapi gagal saat ikut jalur SNMPTN. Orang tua nggak ada uang untuk membiayai kuliah di swasta. Akhirnya saya memilih ke OISCA,” katanya kepada rilislampung.id melalui pesan WhatsApp, Rabu (28/3/2018).

Di OISCA, Ardika menjalani pelatihan ala militer selama sembilan bulan. Pembimbing OISCA yang notabene bekas pemagang dari Jepang memberikan teori untuk pesertanya cuma 20 persen. Selebihnya peserta lebih banyak praktik kerja.

“Di OISCA, kita bebas memilih apakah mau mengambil jurusan di pertanian semi organik, pembuatan pupuk, peternakan atau pertanian organik,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Setelah menjalani proses pelatihan di OISCA, Ardika dinyatakan lolos sebagai pemagang oleh Kementerian Pertanian. Ia pun berangkat ke Negeri Sakura pada Juli 2017 dan akan menjalani berbagai pelatihan selama 36 bulan.

Program magang ini memang rutin digelar Kementerian Pertanian setiap tahunnya. Ardika bersama rekan-rekannya merupakan angkatan ke-34 pada tahun lalu.

Selama delapan bulan di Jepang, Ardika mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa. Di sana ia tidak hanya belajar tentang bertani dengan modern, tetapi juga belajar etos kerja dan disiplin dan manajemen waktu yang lebih efisien.

Ardika belajar ilmu pertanian di atas lahan seluas 55 hektar yang terbagi dua, yakni sawah 15 hektar dan komoditas sayuran serta umbi-umbian 35 hektar.

Ia menilai infrastruktur pertanian di Jepang sudah sangat baik. Seluruh akses jalan menuju sawah atau peladangan telah diaspal. Kemudian alat penabur pupuk hand rotary tergolong canggih dan modern dengan harga terjangkau. Kondisi ini berbeda dengan harga di Indonesia yang tidak sesuai dengan pendapatan petani.

“Harapannya setelah pulang dari sini (Jepang), pemerintah kita bisa meniru sistem pertanian di Negeri Sakura ini. Dengan berbagai alat bantu pertanian yang dapat memudahkan para petani lebih ringan mengerjakan pekerjaannya,” ungkapnya.

Ardika mengungkapkan setelah proses pemagangan ini akan melakukan presentasi ke Kementerian Pertanian dan OISCA. “Jadi pulang maunya menerapkan apa yang saya dapat dari Jepang. Dan membuka usaha serta lowongan pekerjaan di daerah saya (Tulangbawang Barat), Mas,” pungkasnya.

Sementara Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad berharap Ardika bisa kembali ke daerahnya untuk membangun kampung bersama pemerintahannya. Menurutnya, pertanian di Jepang sangat maju dan warganya sangat disiplin.

“Tepat kalau belajar ke sana (Jepang). Mudah-mudahan saja kembali ke Tubaba, ilmu dan pengalamannya bisa bermanfaat buat masyarakat dan Tubaba,” kata Umar. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)