Kota Metro, 81 Tahun Lalu dan Sekarang - RILIS.ID
Kota Metro, 81 Tahun Lalu dan Sekarang
[email protected]
Sabtu | 09/06/2018 07.00 WIB
Kota Metro, 81 Tahun Lalu dan Sekarang
Kian Amboro, Sejarawan Universitas Muhammadiyah Metro

MATAHARI bersinar sangat cerah pagi itu, di hari Rabu, 9 Juni 1937. Segala persiapan telah matang, tamu-tamu undangan sebagian telah hadir pada hari sebelumnya dan menginap di Pesanggrahan Hansje yang bergaya Swiss, terletak persis di timur alun-alun kota. Seperti telah menjadi jalannya takdir bahwa hari itu akan menjadi hari bersejarah, suasana dan cuaca alam sangat baik dan mendukung.

Setelah waktu yang ditentukan tiba dan warga masyarakat serta tamu-tamu undangan telah berkumpul di salah satu jalan di sudut alun-alun kota, tepat pukul sepuluh acara segera dimulai.

Acara berlangsung dengan suasana dan tatacara Belanda, tamu-tamu Binnenland Bestuur (BB) yang turut hadir dalam acara tersebut antara lain Ambtenaar (pegawai pemerintah) berkebangsaan Eropa dari Telukbetung, serta sebagian detasemen KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger/ Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Setelah penghormatan diberikan kepada orang yang paling dihormati pada acara itu selesai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, disambung dengan sambutan awal oleh Mr. Bohnemann. Ia mengungkapkan terimakasihnya atas kehormatan yang diberikan untuk menyampaikan sambutan pada hari yang bersejarah bagi Residen Rookmaaker.

Bohnemann menyampaikan hal-hal yang menjadi pencapaian kerja baik Rookmaaker. Ia telah berada di wilayah tersebut hampir selama 30 tahun dan sangat mengetahui dan merasakan perubahan-perubahan atas daerah tersebut. Dan yang terpenting, waktu empat tahun selama Rookmaaker menjadi residen, sangat pesat perubahan yang terjadi, sehingga pada hari paling bersejarah itu, ia dan warganya tidak mau mengabaikan dengan begitu saja.

Setelah beberapa tokoh menyampaikan sambutannya, Mr. Bohnemann meminta kepada Kepala Pemerintahan Daerah Sukadana, Mr. Lassacquere, untuk membuka kain penutup sebuah bangunan tugu atau monumen.

Ketika tiba gilirannya, Residen Rookmaaker kemudian menyampaikan pidatonya, dalam pidatonya Rookmaaker menyampaikan rasa haru dan terima kasihnya kepada penduduk Distrik Lampung pada umumnya, terkhusus penduduk kolonisasi Sukadana (di Metro) yang telah membangun sebuah bangunan peringatan atas keberhasilan dirinya selama empat tahun bertugas.

Dalam bahasa Melayu yang fasih, residen mengucapkan salam perpisahan kepada ”loerah” bagi seluruh wilayah. Dia berterima kasih atas kerja keras mereka dalam usaha kolonisasi yang telah berhasil mengubah hutan-hutan purba menjadi sebuah metropolis.

Masih dalam rangkaian acara yang sama, acara kembali dilanjutkan di tempat berbeda, kini kegiatan dilanjutkan di bangunan pendopo Asisten Wedana Metro, tempat telah dihias sedemikian rupa.

Acara lanjutan ini merupakan acara peresmian kedua, yakni peresmian Metro yang telah dipisahkan dari induk desanya, Trimurjo yang terlebih dahulu diresmikan sebagai induk desa (Bedding 1) pada 3 April 1935.

Tepat tengah hari pukul dua belas siang, jamuan makan siang dimulai, setelah itu dilanjutkan dengan pidato kembali oleh Residen Rookmaaker, dalam pidatonya ia menyampaikan agar terus melanjutkan penyelesaian kolonisasi di Metro dalam sistem pemerintahan baru yang telah terpisah dari desa induk.

Pada kesempatan yang sama Rookmaaker juga menyerahkan urusan pemerintahan yang membantu pemerintah Hindia Belanda kepada  Asisten Wedana Metro. Acara ditutup dengan penyerahan keris kepada Asisten Wedana Metro oleh Residen Rookmaaker dan bersama-sama menyaksikan hiburan dari rakyat.

Tiga hari kemudian Sabtu, 12 Juni 1937 surat kabar Batavia Courant, dan juga Indische Courant yang terbit pada tanggal 15 Juni 1937, memberitakan bahwa pada tanggal 9 Juni 1937 telah diresmikan sebuah tugu peringatan di pusat kolonisasi Sukadana, yaitu Metro, oleh Residen Hendrik Roelof Rookmaaker.

Tugu peringatan setinggi 4 meter itu didirikan untuk memperingati keberhasilan kolonisasi di Sukadana dan sebagai bentuk memori atau kenang-kenangan bagi Residen Rookmaaker yang pada hari itu selesai dari tugasnya menjadi Residen Distrik Lampung.

Tugu peringatan tersebut terletak persis di tengah-tengah kota dan di perempatan jalan utama. Tugu yang berlabel marmer pada bagian depannya, terukir sebuah kalimat Ter herdenking aan het succesvolle kolonisatiewerk van den resident H.R. Rookmaaker, 1933-1937 (untuk mengenang keberhasilan kerja kolonisasi Residen H.R. Rookmaaker, 1933-1937). Pada bagian sebaliknya tertulis dengan aksara Jawa dengan makna yang sama.

Diberitakan juga pada hari itu telah dilaksanakan peresmian Metro sebagai pusat pemerintahan kolonisasi di Sukadana. (disarikan dari berbagai sumber: Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Juni 1937 – Indische Courant, 15 Juni 1937 – Java Post; Verhalen over Nederlands-Indie, Een land met toekomst – Koloniale Monumenten; Resident Rookmaaker, Metro, 1937). Sumber gambar: Tropenmuseum, NMvW, Amsterdam

***

Hari ini, pada tanggal yang sama, Metro memperingati hari jadinya yang ke-81. Seperti pada umumnya, cerita dari masa lampau akan kembali dibuka untuk mengingatkan kembali bagaimana para pendahulu memulai jalannya sejarah.

Selain itu juga, lembaran sejarah akan kembali dibuka untuk merasakan semangat heroisme para founding fathers, dan refleksi hari jadi dalam berbagai bentuk kegiatan seremonial semakin menyemarakkan momen penting tersebut.

Sayangnya euforia perayaan hari jadi sebuah daerah, terkadang hanya bersifat padat aktivitas, padat biaya, tetapi kurang makna bahkan tak terhayati oleh warganya. Kesan yang terbangun adalah hanya perayaan hari jadi. Tak salah memang, apalagi situasi kebersamaan antara pemerintah dengan warganya sangatlah perlu.

Akan tetapi tentunya akan lebih baik jika momen peringatan hari jadi daerah, dijadikan juga sebagai momen refleksi bersama antara pemerintah dengan warganya. Merefleksi sudah sampai sejauh mana kaki dilangkahkan dan sejauhmana sejarah dituliskan.

Tepat 81 tahun yang lalu wilayah yang kini disebut Metro, telah membuat sejarah baru dengan perubahan statusnya menjadi ibukota kolonisasi Sukadana. Bahkan dalam beberapa catatan laporan tahunan pemerintah Hindia Belanda, daerah ini menjadi daerah yang cukup dibanggakan dikarenakan keberhasilan program kolonisasinya dengan pengeluaran biaya oleh pemerintah Hindia Belanda sangat murah.

Hal berbeda dengan kolonisasi pertama yakni  Gedong Tataan sebagai daerah kolonisasi pertama tahun 1905. Dalam waktu delapan tahun sejak dibuka, kolonisasi Sukadana (Metro) telah melebihi Gedong Tataan yang sudah lebih dari 35 tahun dibuka lebih dahulu.

Jika dilihat  perkembangan tanah-tanah kolonisasi DI karesidenan Lampung, ternyata kolonisasi Sukadana menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Sukadana yang secara bertahap mulai dibuka tahun 1932, pada akhir tahun 1941 telah berpenduduk kolonis kurang lebih 91.000 jiwa, atau sekitar dua kali lebih banyak jumlah penduduk kolonis Gedong Tataan yang didirikan tahun 1905 (Sjamsu, 1959:47-48).

Tidak hanya dari pesatnya perkembangan jumlah penduduknya, jumlah rata-rata hasil panen padi selalu meningkat tiap tahunnya, malah dapat dikatakan persediaan bahan makanan berlebih. Mulai tahun 1940 jumlah kelebihan padi selalu meningkat, dan sejak itu mulai diperkenankan oleh pemerintah Hindia Belanda masyarakat menjual kelebihan hasil panennya ke luar daerah dan mendirikan penggilingan-penggilingan padi partikulir.

Sejak diresmikan sebagai ibukota Sukadana, Metro telah menjadi tempat kedudukan seorang kontrolir, insinyur dan dokter pemerintah. Kota kolonisasi ini  mempunyai pasar yang besar, kantor pos, pesanggrahan, masjid, dan penerangan listrik. Dalam bidang pelayanan kesehatan, terdapat dua orang dokter di Metro, 13 mantri juru rawat, satu mantri malaria, 80 pembagi kinine, dua pembantu klinik, dan satu bidan.

Bagi Pemerintah Hindia Belanda, kolonisasi Sukadana memiliki tempat tersendiri yang cukup istimewa di karesidenan Lampung. Selain pertumbuhan pemukiman yang sangat cepat kurang dari waktu sepuluh tahun, pengembangan kolonisasi Sukadana dapat dikatakan berbiaya rendah, dibandingkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk proyek-proyek kolonisasi sebelumnya yang berbiaya sangat mahal dan tidak menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dalam waktu cepat.

Adapun proyek pembangunan kanal pengairan irigasi di kolonisasi Sukadana hanya menghabiskan biaya sekitar setengah juta gulden untuk areal seluas 70.000 bouw (baca: bau) (1 bau=0,7 ha), biaya yang sangat hemat itu dikarenakan dalam proses pembangunan kanal irigasi melibatkan seluruh penduduk kolonis dengan pembagian jadwal kerja yang teratur.

Lalu bagaimana dengan hari ini?. Tentu tidak tepat rasanya jika kita refleksi dengan membandingkan Metro 81 tahun yang lalu dengan hari ini, jelas kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Akan tetapi bukan berarti kita tidak dapat melakukan refleksi, satu poin penting yang perlu digarisbawahi adalah jika dimasa lampau Metro dapat mencapai kemajuan-kemajuannya, tentunya hal itu masih bisa diwujudkan juga pada hari ini.

Hari ini Kota Metro memiliki visi dan misi yang harus dicapai oleh seluruh warganya, tentunya melalui organisasi pemerintah daerah sebagai pemimpinnya.

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Kota Metro yang bervisi sebagai Kota Pendidikan sudahkah benar-benar terwujud? Apakah dengan banyaknya jumlah lembaga pendidikan sudah cukup mewakili tercapaian visi tersebut? Sudahkah terwujud masyarakat yang cerdas, tercerahkan, dan berkemajuan? Kota Metro yang juga bervisi sebagai Kota Wisata Keluarga, apakah telah tercapai? Sudahkan terpetakan potensi-potensi pariwisata ramah keluarga yang juga mampu memberdayakan warganya? Sudahkah Kota Metro menjadi kota yang ramah pengunjung? Apakah Kota Metro telah layak menjadi Kota Sapta Pesona Pariwisata?

Tentunya pertanyaan dan masalah ini hanya bisa dijawab oleh pemerintah serta warga masyarakatnya. Mengapa peran warga masyarakat menjadi penting, karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan visi, tidak dapat menjawab sendiri semua pertanyaan, dan tidak dapat menyelesaikan sendiri semua masalah. Karena sejatinya warga masyarakatlah sebagai pemilik kota itu sendiri, maka sinergi antara keduanya menjadi sangat penting dan kunci utama tercapainya visi.

Maka hari ini adalah momen yang tepat untuk berefleksi, sambil bersuka cita merayakan dan mengungkapkan rasa kesyukuran. Dari peristiwa 81 tahun yang diperingati pada hari ini, kita kembali mendapatkan pelajaran dari sejarah, bahwa sejarah menunjukan siapa identitas kita yang sebenarnya.

Sejarah Kota Metro menunjukkan identitas bahwa kota ini didirikan dan dibangun oleh masyarakatnya dengan harapan dan cita-cita, melalui semangat serta kerja keras. Nilai karakter itu tentunya yang hari ini masih terwariskan dan harus ada dalam diri generasi penerus dan warga Kota Metro. Semangat dan kerja keras membangun daerahnya agar senantiasa dapat menjadi lebih baik di masa sekarang dan masa yang akan datang.

History provides identity. History shows us models of good and responsible citizenship. History also teaches us how to learn from our mistakes and those of others. History helps us understand change and societal development. History provides a context from which to understand ourselves and others (Luisa Black, 2011:2).

Mari Belajar dari Sejarah. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID