Kuliah Umum di Universitas Teknokrat, Ketum APTISI Beberkan Tantangan PT - RILIS.ID
Kuliah Umum di Universitas Teknokrat, Ketum APTISI Beberkan Tantangan PT
[email protected]
Senin | 18/11/2019 20.36 WIB
Kuliah Umum di Universitas Teknokrat, Ketum APTISI Beberkan Tantangan PT
Ketum APTISI pusat Dr. Ir. M. Budi Djatmiko, MSi, MEi, (kanan) didampingi Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, SE, MBA./FOTO ISTIMEWA

RILIS.ID, BANDARLAMPUNG – Ketua umum (Ketum) Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) pusat Dr. Ir. M. Budi Djatmiko, MSi, MEi, memberikan kuliah umum pada acara Home Coming 2019, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Teknokrat Indonesia, Sabtu (16/11/2019).

Dalam paparannya, Budi menyoroti masalah sumber daya manusia (SDM) dari masa ke masa. Menurut dia, salah satu persoalan yang dihadapi kampus dunia nanti, mahasiswa tidak mau ke kampus, tapi mau nilai bagus. Sebab, terjadi perubahan sistem pendidikan sekarang dengan YouTube, e-learning dan lainnya.

”Maka yang harus dipersiapkan perguruan tinggi adalah kurikulum dan metode pengajaran yang akan dilakukan,” kata Budi melalui rilis yang dikirimkan kepada Rilislampung.id, Senin (18/11/2019).

Ia juga membedah tahun generasi atau kategori manusia dengan perubahannya. Menurutnya, ada lima generasi berbeda yang dialami sekarang. Yakni, generasi tradisionalis tahun 1925 –1945;  generasi baby boomers (1945-1964); generation X (1965-1979); generasi millenial (1980-1999); dan generasi Z (2000-2012).

Budi melanjutkan, saat ini kita sedang di era revolusi industri 4.0. Ada revolusi industri pertama, kedua, ketiga dan keempat. Revolusi industri kedua adalah penemuan listrik.

Era revolusi industri ketiga yaitu semua teknologi era komputer. Sekarang revolusi industri ke empat semua menggunakan android dan serba digital. 

”Ini semua terjadi karena industri cerdas untuk memenuhi kebutuhan anak-anak millenial. Semua ingin berubah. Perubahan sangat terasa dirasakan masyarakat,” paparnya.

Atas perubahan era tersebut, maka secara ekonomi sangat berpengaruh. Ekonomi di Indonesia banyak dikuasi pengusaha Tiongkok dan negara maju. Begitu juga pengaruh sosial sangat dirasakan. Di mana kehidupan masyarakat sekarang semua berubah.

Karenanya, Budi mengingatkan kepada lembaga pendidikan, di mana generasi milenial dan generasi Z tidak mengejar pendidikan tinggi. Kondisi ini mengkhawatirkan bagi perguruan tinggi di dunia.

”Tapi, kehebatan generasi Z ini kadang mengalahkan dosen, karena lebih canggih dalam penggunaan teknologi. Meskupun, generasi tua atau masyarakat tradisional sangat tangguh. Karena terlahir dan terdidik dengan kondisi yang ada,” ujarnya.

Nantinya, lanjut Budi, banyak hal yang dilakukan generasi Z. Di antaranya, gampang bosan terhadap barang yang dibeli; no gadget no life; hobi melakukan pembayaran non cash; suka dengan yang serba cepat dan instan; memilih pengalaman dari pada aset; berbeda perilaku dalam grup satu dan yang lain; jago multitasking; kritis terhadap fenomena sosial; dikit-dikit posting.

Sehingga, perguruan tinggi untuk menghadapi itu, termasuk Universitas Teknokrat harus berpikir ulang dalam menerapkan kurikulum. Dosen dalam menerapkan pengajaran harus mampu berpikir kreatif dan inovatif. Sehingga hasil dari pendidikan perguruan tinggi lulusannya mampu mengatur orang atau mempunyai kemampuan managerial.

Sementara, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE, MBA mengatakan, Teknokrat sebagai lembaga pendidikan tinggi selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran. 

Ia mencontohkan, beberapa hari lalu mahasiswa Teknokrat juara nasional dalam lomba inovasi di UNY. Ini menunjukkan Universitas Teknokrat Indonesia selalu melakukan inovasi dalam menjawab tantangan zaman.(*)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID