Malu, Jangan Lagi Buang Sampah ke Laut, Ini Faktanya - RILIS.ID
Malu, Jangan Lagi Buang Sampah ke Laut, Ini Faktanya
Bayumi Adinata
Minggu | 14/04/2019 18.47 WIB
Malu, Jangan Lagi Buang Sampah ke Laut, Ini Faktanya
Diskusi pentingnya menyelamatkan laut dari sampah di Pesisir Kabupaten Pesawaran, Minggu (14/4/2019). FOTO: HUMAS ForPMI

RILIS.ID, Pesawaran – Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (ForPMI) bersama Dinas Pariwisata (Dispar) Lampung menggelar diskusi.

Kegiatan itu adalah upaya membangun kembali kesadaran mahasiswa dan masyarakat dalam menyelamatkan laut Indonesia dari sampah.

Acara di Kabupaten Pesawaran itu dilaksanakan selama lima lima hari. ForPMI mengedukasi lewat diskusi pentingnya menyelamatkan laut dari sampah.

Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, dalam Jurnal Science, di 2015 membeberkan hasil penelitiannya mengenai jumlah sampah plastik yang masuk ke laut.

Dari estimasi 275 juta metrik ton (MT) sampah plastik produksi 192 negara di seluruh dunia pada tahun 2010, diperkirakan terdapat antara 4,8-12,7 juta MT masuk ke lautan lepas.

Indonesia menjadi peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia yaitu sebesar 3,2 juta MT. Cina menempati urutan pertama sebesar 8,8 juta MT disusul Filipina diperingkat ketiga sebesar 1,9 juta MT. 

”Berdasar perkiraan kenaikan jumlah sampah yang masuk ke laut akan berlangsung secara eksponensial jika infrastruktur di darat tidak diperbaiki," ujar ketua panitia ForPMI dari Unila, Henki Rivadin, Minggu (14/4/2019).

Menurutnya, jika sampah tidak ditangani kemungkinan 20 tahun atau bahkan 10 tahun lagi laut Indonesia yang indah akan berubah menjadi lautan sampah yang mengotori pandangan mata. 

Hal ini tentunya sangat merugikan bagi bangsa Indonesia. Ditambah isu mengenai sampah mikroplastik yang dapat membahayakan manusia apabila terkonsumsi melalui konsumsi ikan laut.

Seperti diketahui, hingga saat ini banyak hewan laut yang mati akibat terpapar sampah, mulai lambung yang berisi sampah plastik, penyu yang tertancap sampah plastik, terjerat oleh jaring, dan banyak lagi.

Ironisnya masalah sampah plastik ini baru diperhatikan setelah 150 tahun pabrik menciptakan plastik pada revolusi industri tahun 1820 di Eropa. 

Selain berbahaya bagi kehidupan laut, sampah plastik juga dapat merusak keindahan laut yang berpotensi sebagai pariwisata.

Ini tidak terlepas dari peran masyarakat atau wisatawan yang tidak sengaja membawa sampah plastik dan membuang sampah plastik ke laut.

Untuk perlu tinjauan atau pembuatan suatu kebijakan baru yang memberikan manfaat bagi lingkungan, khususnya lingkungan laut. Terutama kebijakan yang mengarah pada pariwisata berbasis zero waste.

Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Lampung, Arif Nugroho, mendukung penuh upaya ForPMI mengedukasi masyarakat ini.

Menurutnya, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menekan populasi plastik di laut. Namun yang utama adalah dengan sosialisasi bahaya sampah plastik dan membuat kebijakan untuk mengaturnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID