Memilih Presiden dan Makan Bubur Ayam - RILIS.ID
Memilih Presiden dan Makan Bubur Ayam
[email protected]
Selasa | 26/03/2019 06.00 WIB
Memilih Presiden dan Makan Bubur Ayam
Danang Marhaens SIP, Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

SUDAH beberapa bulan ini genderang pemilihan umum kita rasakan. Baik pemilihan presiden atau legislatif.

Sebagai anak milenial yang lahir di era 90-an, momentum lima tahunan ini sudah saya lewati dari tahun 2004, 2009, 2014, dan saat ini 2019.

Tapi tidak cuma tahun penyelenggaraan Pemilu, saya pun mengingat betul tentang satu hal yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Yakni hujatan, makian, saling serang, membunuh karakter, dan pengkotak-kotakan.

Nampaknya sebagian dari kita terlalu bangga dengan identitas dan lupa kita ini mau memilih pemimpin, bukan sedang seleksi ahli bicara.

Kondisi ini bahkan diperparah kita lebih paham keburukan dibanding visi dan misi calon yang akan kita pilih. Yang model pendukung seperti ini, jumlahnya tidak sedikit loh.

Aneh bin ajaib mau memilih presiden tapi bahasannya mulai presiden kok kerempeng, presiden kok enggak punya istri, sampai presiden kok pidato pakai teks.

Parahnya lagi ada pendukung yang selalu gembar-gembor kalau orang baik diam waktu pemilu nanti, orang jahat, kafir, PKI, bla bla bla yang akan memimpin kita, dengan dalil yang mencoba meyakinkan.

Saya cukup jawab dalam Islam itu sebelum kita lahir sudah jelas diterangkan: "Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang zalim sebagai pemimpin dikarenakan amal mereka" (QS Al An'am: 129).

Kalau mau Allah kasih pemimpin yang baik, maka perbaiki amalan kita. Jadi saya paham bahwa Islam jaya bukan di politik, tapi Islam jaya kalau setiap kita umat Islam amar maruf nahi munkar. Next, mari sama-sama perbaiki amalan kita.

Pemilu sebentar lagi akan kita hadapi jangan sampai setiap kita kembali ke insting manusia purba: mencari rasa nyaman walau harus percaya kebohongan.

Kita melahap apapun yang membuat kita merasa aman dan merasa menang. Perlahan-lahan, gaya masyarakat berpolitik jadi tak ada bedanya seperti suporter bola. Fanatik. Tim sepakbola lawan pasti salah. Titik!

Urusannya jadi sekadar menang atau kalah. Mereka pikir menang adalah segalanya. Mereka ada di dimensi yang jauh berbeda dengan elit politik. Konflik, konsensus, dan kompromi adalah barang yang masih asing untuk masyarakat.

Padahal, persaingan elit politik kita dari dulu begitu-begitu aja. Tidak ada kawan dan lawan abadi. Konflik biasa, konsensus, dan kompromi pun cair-cair saja.

Mendadak cari wapres ulama atau mendadak cari wapres yang langsung auto santri ya santai saja. Bermain di dua kaki ya biasa. Pindah kubu politik pun adalah praktik-praktik lama.

Makanya, berhentilah kecanduan dengan rasa ketakutan! Ayo, cari informasi yang benar dari kedua kubu politik. Tonton semua saluran TV, baca semua artikel dari media online dan cetak.

Jangan mau dibodohi lewat media sosial! Nikmati dramanya dengan santai bersama segelas kopi dan camilan, tapi jangan mau ikut diadu. Menang cuma jadi arang, kalah jadi abu.

Setiap kita harus menjadi jembatan yang baik agar masyarakat bisa lebih cepat memahami makhluk yang namanya politisi. Hari ini mereka masih bisa membakar-bakar emosi kita. Tapi, satu saat di masa depan sudah tidak bisa lagi kalau rakyat lebih cerdas.

Memilih Jokowi atau Prabowo itu perkara bubur ayam diaduk atau nggak. Sederhana saja, selera. Kumpulkan informasi yang valid, lalu pilih sesuai nurani.

Tidak perlu jadi bubur ayam rasa memperalat ulama pro-cina, komunis, syiah, dan liberal. Atau, bubur ayam rasa kardus mahar post-islamisme. Jadi, masih mau diadu domba atau menjadi pengadu domba? (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID