Menanti Pemenang Sejati - RILIS.ID
Menanti Pemenang Sejati
[email protected]
Senin | 25/06/2018 06.00 WIB
Menanti Pemenang Sejati
Gunawan Handoko, Penggiat LSM PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Provinsi Lampung

SETELAH melewati perjuangan panjang dan melelahkan, dari sejak sosialisasi, berburu partai politik pengusung dan pendukung, sampai pelaksanaan kampanye pasangan calon kepala daerah, tibalah saatnya memasuki masa tenang.

Hal itu sebagaimana diatur komisi pemilihan umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu. Artinya, pasangan calon termasuk tim relawan maupun partai politik dilarang melakukan kampanye dalam bentuk apapun.

Bukan itu saja. Selama masa tenang ini, media massa cetak, elektronik, dan lembaga penyiaran dilarang menyiarkan iklan, rekam jejak partai politik, pasangan calon atau bentuk lainnya yang mengarah kepada kepentingan kampanye, yang dapat menguntungkan atau merugikan pasangan calon.

Maka di masa tenang selama tiga hari ini seyogyanya para calon beserta tim relawan duduk bertafakur dalam keheningan untuk menenangkan pikiran dan hati agar kembali jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan agar diberikan yang terbaik.

Sebagai calon pemimpin para kandidat harus dapat menunjukkan sikap kesatrianya sebagai petarung sejati, baik di dalam meraih kemenangan maupun menerima kekalahan.

Dalam setiap pertarungan-pertarungan apa saja, seorang petarung sejati akan memedomani, Menang Sejati atau Sejatining Menang, sebagaimana pesan RM Sosrokartono yang amat populer. Termasuk Menang Tanpa Ngasorake (menang tanpa mengalahkan), itulah kemenangan sejati.

Tentu akan muncul pertanyaan, bagaimana mungkin seseorang bisa menang kalau tidak mengalahkan. Bila yang satunya menang, pastilah ada pihak lain yang lain terkalahkan.

Untuk memperjelas ungkapan menang tan ngasorake agar lebih bermakna, maka perlu dirangkai dengan ungkapan lain, yakni nglurug tanpa bolo (menyerbu tanpa pasukan), sekti tanpa aji (sakti tanpa ajian), atau bahkan dhuwur tan ngungkuli (tinggi namun tidak melampaui), dan kebat tan nglancangi (cepat namun tidak menyalip).

Sifat-sifat inilah yang harusnya melekat pada diri seorang manusia pinunjul atau manusia agung, yakni para pemimpin. Meski ungkapan tersebut muncul di tanah Jawa pada zaman kerajaan, namun rasanya masih sangat relevan untuk menjadi pedoman dan pandangan hidup bagi masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia di masa lalu sangat dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat ke-timur-an, dengan dua prinsip utamanya yakni rukun dan hormat.

Sejak zaman dulu masyarakat kita diajarkan sebisa mungkin menghindari konflik fisik (termasuk adu mulut) secara terbuka, apalagi menghujat dan mencaci. Kalaupun terjadi berbeda pandangan dengan orang lain, biasanya diungkapkan dengan cara yang halus melalui pasemon (sindiran) atau yang lain.

Boleh saja pendapat atau sikap itu berbeda, boleh saja ada anggapan bahwa pendapat orang lain itu salah atau lemah, tetapi semua itu tidak perlu ditunjukkan secara telanjang bulat sehingga membuat orang lain terpermalukan.

Dari ungkapan di atas, maka jelaslah bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan utnuk mengendalikan diri, sabar, santun dan tidak emosional. Tanpa itu, justru yang terekspresikan adalah hasrat untuk meraih kemenangan dengan cara apa saja, termasuk menebar fitnah untuk membangkitkan kebencian sebagaimana yang sering terjadi selama ini.

Akibat dari sikap tersebut maka akan ada pihak yang diasorake atau direndahkan. Dalam bahasa sederhana, menang tanpa ngasorake sebagai sebuah imperatif halus agar senantiasa rendah hati (bukan rendah diri) dan tidak congkak.

Dengan begitu pula, tidak akan terjebak pada sikap yang dalam istilah Jawa disebut adigang, adigung dan adiguna, sapa sira sapa ingsun, yakni tidak menyombongkan kekuatan, kekuasaan, kekayaan maupun kepintaran dengan memandang sebelah mata kepada mitra tarungnya.

Sungguh tidak mudah untuk menjalankan tata kelola atas kemenangan, apalagi kekalahan. Lebih-lebih jika harus menjadi pemenang sejati yang tidak lupa diri atau menjadi petarung yang bisa bersikap nglenggana atau ikhlas saat menerima kekalahan dengan penuh kelapangan dada.

Sekalipun demikian, ukuran atas kemenangan bagi setiap orang tidaklah selalu sama. Itu lantaran setiap orang memiliki persepsi yang tidak sama dalam melihat sebuah kemenangan.

Maka seharusnya jika sudah berani masuk ke dalam gelanggang pertarungan, seseorang haruslah siap menang, juga mesti siap kalah. Menerima dengan ikhlas terhadap kekalahan adalah kemenangan tersendiri yang bukan tidak mungkin akan menjadi investasi untuk menggapai yang lebih besar dan bahkan agung di lain kesempatan 

Di sinilah optimisme mesti diletakkan dengan lambaran sikap kesatria, di mana kekalahan bukanlah akhir segalanya.

Hanya tinggal menghitung hari, pemilukada serentak di seluruh Indonesia akan berlangsung pada Rabu 27 Juni 2018, untuk menentukan siapa pasangan calon kepala daerah yang mendapatkan kepercayaan rakyat.

Sebelum memasuki masa kampanye, para kandidat telah sepakat dan berjanji untuk menciptakan pilkada yang aman dan damai, berpolitik secara santun, dan beretika. Kini saatnya rakyat untuk menentukan pilihannya setelah selama 129 hari mengikuti kampanye yang dilakukan oleh masing-masing kandidat.

Rakyat bukan hanya disuguhi program dan janji-janji, tapi juga telah melihat serta mengenali sikap, perilaku dan kredibilitas para calon pemimpinnya yang dapat menjadi teladan.

Kandidat yang mana yang benar-benar memiliki prinsip-prinsip kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara yakni ing ngarso sung tulodo, itulah yang sedang dicari oleh rakyat.

Menjadi kewajiban kita bersama untuk menyebarkan benih-benih positif tentang aspirasi rakyat dalam menentukan pilihan secara aman, nyaman dan menyenangkan serta terbebas dari politik uang dan intimidasi.

Selain partisipasi tingkat kehadiran pemilih di TPS, kunci kesuksesan Pilkada salah satunya terletak pada tidak adanya praktik politik uang. Adalah menjadi tugas kita bersama untuk melakukan pencegahan terjadinya praktik politik uang yang jelas-jelas akan mencederai proses demokrasi.

Mari wujudkan pilkada yang bersih dan demokratis sebagai jembatan emas membangun daerah, khususnya di provinsi Lampung yang lebih baik. Masing-masing kita harus memainkan perannya untuk mewujudkan harapan tesebut. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID