Mencari Jati Diri Pariwisata Lampung - RILIS.ID

Mencari Jati Diri Pariwisata Lampung
[email protected]
Senin, 2018/04/16 06.01
Mencari Jati Diri Pariwisata Lampung
Dr. Faurani Santi, Direktur Pascasarjana Universitas Saburai Bandarlampung

Masyarakat Lampung patut bangga. Pembangunan pariwisata di provinsi ini pada penghujung tahun 2017 menunjukkan keberhasilan. Hal itu ditandai meningkatkan arus kunjungan wisatawan, khususnya turis lokal sebanyak 114.907 orang.

Angka tersebut menjadikan posisi Lampung masuk peringkat ke-8 sebagai daerah kunjungan wisata nasional terbanyak. Bahkan melampaui Bali yang menjadi barometer pembangunan wisata nasional.

Kesuksesan tersebut tidak saja didukung besarnya kunjungan wisata. Namun juga meningkatnya angka hunian hotel sebanyak 51 persen dibanding tahun sebelumnya (BPS Lampung, 2017). Ini bukti Lampung mampu merubah potensi alam dan budayanya sebagai kekayaan yang memiliki nilai tambah secara ekonomis.

Hal itu tak lepas dari upaya pemerintah daerah (pemda) dan swasta untuk mengembangkan sektor ini. Mulai membuat berbagai kebijakan, menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pembangunan pariwisata, sampai mencanangkan kawasan wisata. Seperti membuat desa sadar wisata di beberapa daerah yang potensial. Namun, akankah upaya mempertahankan keberhasilan pembangunan wisata secara berkesinambungan untuk jangka panjang dapat terus dilakukan?

Seperti kita ketahui, pariwisata merupakan jenis kegiatan berupa perjalanan seseorang yang melakukan berbagai kegiatan di luar daerah tempatnya bermukim.

United Nation World Tourism Organization (UNWTO, 2009) menyatakan, pariwisata tidak hanya kegiatan kunjungan yang bersifat leisure (jalan-jalan dan rileks). Tetapi juga termasuk kunjungan bisnis, belanja, life style, pendidikan, kesehatan, silaturahmi, juga keagamaan. Bahkan akhir-akhir ini fenomena instagrammable pun cukup mewarnai dunia pariwisata.

Dengan fenomena-fenomena tersebut kegiatan pariwisata menjadi sangat kompleks dan menarik. Sebuah aktivitas dan kebutuhan masyarakat yang bepotensi besar untuk dimanfaatkan pemerintah daerah, pihak swasta, maupun pelaku wisata sebagai komoditi.

Taylor (2009) dalam studinya tentang re-conzeptualized of tourism di negara-negara Eropa menjelaskan, beberapa daerah tujuan wisata di negara-negara tersebut telah dirancang. Pemerintah di sana membuat suatu konsep yang begitu apik. Tidak saja mengemasnya sangat menarik. Namun juga membuat wisatawan memiliki ”ketergantungan” terhadap daerah-daerah tersebut.

Mereka menciptakan kesan mendalam pada turis sehingga mengunjungi objek wisata itu berkali-kali. Dalam dunia pariwisata inilah yang menjadi tolok ukur dan indikator keberhasilan pengembangan pembangunan.

Tengoklah bagaimana keberhasilan  Pemerintah Prancis menjadikan kota kecil semacam Bordeaux yang dikenal sebagai La Belle au Bois atau The Sleeping Beauty sebagai sentra komoditi anggur (wine) dunia.

Kota itu tidak saja dikenal sebagai tempat yang sangat indah lengkap dengan peninggalan heritage abad pertengahan. Tetapi berhasil menjadi daerah tujuan wisata utama para wisatawan dari berbagai dunia. Tidak hanya mereka yang melakukan perjalanan leisure, tetapi juga yang rutin datang setiap tahunnya untuk membeli dan mencari anggur terbaik dunia yang dihasilkan daerah ini.

Lihat juga bagaimana keberhasilan Pemerintah Korea Selatan mengembangkan budaya Korean wave, yang menyebarkan kecintaan masyarakat dunia pada budaya Korea --yang oleh masyarakat Indonesia dikenal dengan K-pop. Jelas saja keberhasilan ini membawa berkah bagi negara ginseng tersebut. Tidak saja kebijakan Korean wave itu mendatangkan devisa yang sangat besar. Tetapi juga  menjadikan budaya Korea paling banyak dikenal di seluruh dunia.

Dari pengalaman-pengelaman keberhasilan beberapa negara itulah, salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah, khususnya Pemda Lampung, adalah mulai menentukan konsep yang jelas. Terutama mengenai pengembangan dan keberadaan pariwisatanya di kancah nasional maupun internasional.

Dalam hal ini, semua pihak baik pemda, swasta, maupun perorangan semestinya tidak hanya melihat pembangunan pariwisata sebatas pembangunan infrastruktur, promosi, perda, dan penyediaan kebutuhan wisata lainnya. Terpenting, menciptakan dan membangun konsep yang inovatif, sustainable, spesifik, dan otentik dibarengi kemasan apik yang pada akhirnya menimbulkan rasa ingin kembali.

Salah satu contoh adalah memantapkan konsep dan ide Lampung sebagai pusat kopi dunia sebagai rangkaian even atau festival internasioal yang disertai dengan berbagai kegiatan berbasis lelang, pemasaran, dan perdagangan kopi. Ini akan mampu menarik berbagai kalangan dari penjuru dunia untuk berkunjung secara rutin ke Lampung. Itulah konsep dan keberhasilan pariwisata yang sebenarnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)