Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro - RILIS.ID

Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro
[email protected]
Senin | 26/03/2018 06.01 WIB
Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro
Kian Amboro, Sejarawan Universitas Muhammadiyah Metro

ADA yang nampak berbeda jika kita sedikit mencermati beberapa sudut Kota Metro. Di tengah hiruk pikuk ramainya kota, pesatnya pertumbuhan pembangunan kota, ada yang tenang dan diam dalam kelampauannya.

Sejumlah bangunan-bangunan yang kini tak lagi muda usianya adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Metro. Sederet bangunan tua bergaya kolonial itu mungkin sama tuanya dengan usia kota kolonisasi ini.

Meskipun belum ada hasil kajian/penelitian yang menyebutkan bahwa beberapa bangunan di Kota Metro berarsitektur Indis atau bergaya kolonial, tetapi dari ciri-ciri yang nampak mudah diidentifikasi.

Sepertinya keberadaan rumah-rumah berarsitektur kolonial/Indis ini belum semua terinventarisasi oleh Pemerintah Kota Metro, sehingga data lengkap yang pasti mengenai hal ini juga belum ada.

Istilah "Indis" berasal dari "Nederlandsch Indie" atau Hindia Belanda. Bangunan-bangunan Indis sesungguhnya adalah bagian dari Budaya Indis. Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya setempat.

Sebagai fenomena historis, gaya hidup dan budaya Indis sangat erat hubungannya dengan faktor politik kolonial. Situasi pemerintahan kolonial mengharuskan penguasa bergaya hidup, berbudaya, serta membangun gedung dan rumah tinggalnya (landhuizen) mnggunakan ciri yang berbeda dengan rumah pribumi. Kebanyakan bangunan-bangunan itu berfungsi selain sebagai tempat tinggal pejabat sipil dan militer, juga bangunan fasilitas sosial, dan perkantoran administrasi (Soekiman, 2014:9-10)

Metro sebagai ibukota kolonisasi Sukadana (Sjamsu, 1956:47) tentunya memiliki peran yang sangat strategis sebagai pusat pemerintahan di mana Asisten Wedana berkedudukan. Tidak sulit menemukan beberapa bangunan bergaya Indis di Metro, karena dari tampilan luar sangat berbeda dengan arsitektur saat ini.

Misal jika kita mau singgah di Jalan Jenderal Sudirman No. 137 (depan diler Suzuki), kita akan menjumpai bangunan lama yang tak berpenghuni. Pada bangunan ini ciri arsitektur kolonial nampak pada penggunaan batu alam pada dinding bagian depan, pintu terletak tepat di tengah diapit jendela di sisi kanan kiri, serta bentuk jendela yang geometris dilengkapi teritis agar air hujan tidak langsung masuk ke dalam.

Bangunan ini dilengkapi paviliun (bangunan tambahan) di sisi kiri dan kanannya. Pada bagian atas pintu dijumpai sebuah cermin kecil, menandakan bangunan ini dimiliki oleh keluarga Tionghoa. Sayang sekali belum ada informasi tentang riwayat bangunan antik ini.

Masih di Jalan Jenderal Sudirman (samping bekas diler Yamaha, sebelum BCA) ada bangunan tinggal berwarna hijau yang unik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bangunan hunian dengan gaya arsitektur tersebut disebut dengan Rumah Jengki. Rumah dengan gaya arsitektur Jengki ini dapat dijumpai di Jalan Jend. Sudirman, Kota Metro.

Rumah ini berciri khas atap pelana, bangunan asimetris, biasanya terdapat batuan alam yang menempel di dinding, serta adanya lubang angin
di bagian dinding atas.Pengaruh Barat juga terlihat dari pintu yang terletak tepat di tengah diapit dengan jendela-jendela pada sisi kiri dan kanan, dan adanya bangunan samping (bijgebouwen) berbentuk huruf "L" atau "U".

Bangunan lainnya adalah bangunan bekas rumah tinggal mantri kesehatan di Metro ketika awal kolonisasi (1935). Bangunan ini terletak persis berhadapan dengan RSUD Ahmad Yani Kota Metro.

Ciri bangunan berarsitektur kolonial dapat juga dijumpai pada bangunan ini. Kondisi bangunan tersebut kini tertutup pagar yang cukup tinggi dan rimbunnya pepohonan.

Tak jauh dari situ, ada salah satu bangunan Kantor RSUD Jend. Ahmad Yani, Kota Metro. Keunikan bangunan ini dibandingkan bangunan di sekitarnya adalah keberadaan lubang-lubang angin berbentuk bulat pada bagian atas dan keberadaan teritis di atas pintu dan jendela menjadi salah satu ciri bangunan berarsitektur kolonial.

Lubang-lubang angin ini sangat mirip dengan bentuk lubang "bestion" di benteng-benteng pertahanan Belanda, untuk mengintai atau menempatkan senjata. Untuk saat ini belum diketahui juga bagaimana riwayat bangunan ini.

Arsitektur kolonial juga dapat diamati pada bangunan Rumah Sakit Bersalin Santa Maria, Kota Metro. Dahulu pada tahun 1938 adalah bangunan klinik kesehatan yakni Roomsch Katholieke Missie. Tidak hanya beberapa bangunan tersebut saja, masih banyak lagi bangunan di Kota Metro yang bergaya Indis/kolonial dan menarik dicermati dari sisi sejarahnya.

Tidak hanya dari sisi bangunan, Pasar Malam yang menjadi ciri khas Kebudayaan Indis juga dijumpai di Kota Metro. Even tahunan ini rutin diselenggarakan ketika memperingati hari jadi Kota Metro.

Arsitektur Indis tidak hanya berlaku untuk tempat tinggal semata tetapi mencakup bangunan lain seperti stasiun kereta api, kantor pos, gedung perkumpulan, pertokoan, dan lain-lain. Bangunan-bangunan berarsitektur Indis juga tidak selalu dimiliki oleh pejabat Pemerintah Hindia Belanda.

Gaya arsitektur yang mewakili status sosial tinggi dalam masyarakat menjadikan gaya bangunan Indis sebagai standar bagi kelas masyarakat yang berkecukupan, terutama pedagang dan etnis tertentu, agar mereka juga mendapat kesan status sosial yang tinggi layaknya pejabat pemerintah (penguasa) atau priyayi. 

Jika kita mau melihat lebih jeli dan meluaskan pandangan, sesungguhnya keberadaan beberapa bangunan ini bukan sekadar warisan rongsokan masa lalu yang membebani perkembangan kota modern. Tetapi dapat juga bermanfaat sebagai aset di masa sekarang dan di masa depan.

Warisan sejarah ini menjadi penting bagi Kota Metro yang memiliki visi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga. Jika warisan masa lampau ini mendapat perhatian yang lebih dan dapat dikemas dengan baik sangat potensial dikembangkan menjadi program wisata edukasi sejarah. Seperti halnya kota-kota kolonial di Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Pontianak, Makassar dan kota-kota lainnya di Indonesia yang mampu mengambil pelajaran dan memanfaatkan dengan bijak warisan sejarahnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID