Mengulik Kesejahteraan Petani Kopi Lampung - RILIS.ID
Mengulik Kesejahteraan Petani Kopi Lampung
[email protected]
Kamis | 01/08/2019 12.26 WIB
Mengulik Kesejahteraan Petani Kopi Lampung
Tri Umaryani, S.P., M.Si. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

Ingat kopi, ingat Lampung. Slogan ini begitu melekat di kalangan masyarakat luas yang mengenal Lampung sebagai daerah penghasil kopi Robusta dengan karakter cita rasa, di antaranya fruity, spicy, chocolaty dan caramelly.

Kopi Lampung memiliki penikmat setia di berbagai wilayah, baik dalam negeri maupun mancanegara. Provinsi Lampung merupakan produsen kopi terbesar kedua di Indonesia setelah Sumatera Selatan dengan kontribusi sebesar 17,44 persen dari total produksi nasional.

Lima provinsi produsen kopi terbesar di Indonesia berturut-turut adalah Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Luas areal perkebunan kopi di Provinsi Lampung berdasarkan data yang dirilis oleh BPS dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan mencapai 161.416 ha, dengan produksi mencapai 116.345 ton atau secara rata-rata produktivitas lahan perkebunan kopi mencapai 831 kg/ha pertahun, lebih tinggi dari produktivitas nasional yang baru mencapai 717 kg/ha pertahun.

Kopi Lampung juga telah memiliki Sertifikasi Indikasi Geografis dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham pada  tanggal 13 Mei 2014, dengan nama “Kopi Robusta Lampung” di tiga kabupaten penghasil kopi yaitu Kabupaten Lampung Barat, Waykanan dan Tanggamus.

Kopi Lampung juga menorehkan prestasi, baik dalam maupun luar negeri. Di antaranya 10 besar terbaik pada ajang kompetisi Kopi Specialty Indonesia yang diselenggarakan oleh AEKI dengan score cupping 88,38 yang diwakili oleh robusta Lampung Barat.

Kopi Lampung juga meraih penghargaan Bronze Gourmet pada ajang penghargaan AVPA Gourmet Product Paris 2018 pada kategori roastery D’Lampung dengan sampel kopi robusta petani Lampung Barat.

Dibalik potensinya yang luar biasa, Kopi Lampung masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar untuk Pemerintah Provinsi Lampung yaitu kesejahteraan petani kopi yang perlu ditingkatkan.

Saat ini, sebagian besar petani masih menghasilkan 1 ton/ha pertahun, meskipun ada yang sudah menghasilkan 2 hingga 4 ton.

Dan jika kita kalkulasikan dengan harga kopi saat ini dengan asumsi harga basis kopi sebesar Rp23.000 dan harga di tingkat petani berkisar Rp18.000 dengan kualitas asalan, maka dalam satu tahun petani kopi hanya memperoleh penghasilan sebesar Rp18.000.000,-.

Sementara itu jika kita bandingkan dengan angka kebutuhan hidup layak (KHL) Provinsi Lampung yang saat ini di atas Rp2.000.000,- per bulan, tentu angka ini menjadi jauh dari harapan.

Mengulik kesejahteraan petani kopi Lampung, sebenarnya apa sih yang dihadapi petani saat ini sehingga produktivitasnya masih rendah:

  1. Penurunan kesuburan lahan
  2. Kondisi tanaman yang sudah tua
  3. Perubahan iklim
  4. Pengguna bahan tanam belum unggul
  5. Serangan hama penyakit
  6. Belum diterapkannya teknis budidaya kopi yang baik (Good Agriculture Practice)
  7. Keterbatasan modal, sarana dan prasarana pasca panen
  8. Terbatasnya kapasitas SDM petani
  9. Rantai tata niaga yang panjang
  10. Kelembagaan petani belum kuat
Setidaknya ada 10 persoalan mendasar yang dihadapi petani yang mengakibatkan kesejahteraan petani kopi belum terangkat naik. Dua kata kunci peningkatan kesejahteraan petani kopi adalah peningkatan produktivitas dan mutu.

Salah satu penyebab kesuburan lahan yang terus menurun adalah penggunaan pestisida yang berlebihan, karena itu sudah saatnya petani kopi beralih ke pola budidaya yang lebih memperhatikan aspek lingkungan dengan menerapkan pola budidaya yang baik (Good Agriculture Practice).

Pengembangan integrasi perkebunan dan peternakan menjadi salah satu alternatif budidaya berbasis konservasi sekaligus peningkatan pendapatan petani.

Diversifikasi tanaman kopi dengan tanaman lain yang bernilai ekonomis seperti pisang, cabai jawa, cabai rawit juga merupakan salah satu upaya peningkatan pendapatan petani kopi.

Petani kopi yang ada saat ini umumnya adalah generasi kedua dan usia tanaman kopi umumnya sudah berumur 20-30 tahun. Rehabilitasi tanaman dengan penyambungan atau penggantian tanaman baru dengan bahan tanam unggul menjadi syarat agar produktivitas tanaman kopi meningkat.

Menurut Prastowo, et.al (2010), potensi produktivitas kopi robusta anjuran berkisar 800-2800 kg biji kopi/ha per tahun bergantung pada klon dan lokasi penanaman, bahkan untuk SA 203 bisa mencapai 3,7 ton/ha per tahun.

Pengembangan klon-klon unggul lokal perlu diupayakan sehingga petani setempat akan lebih mudah mendapatkan klon unggul lokal yang produktivitasnya tinggi dan lebih resisten terhadap serangan hama penyakit.

Serangan hama penyakit tidak terelakkan pada tanaman kopi dan fakta sejarah membuktikan bahwa penggantian tanaman kopi secara besar-besar dari varietas arabika ke varietas robusta pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebabkan oleh serangan hebat cendawan Hemileia Vastatrix yang menyebabkan penyakit karat daun yang berakibat kerontokan daun dan kematian tanaman kopi.

Konon kabarnya tradisi minum teh yang dikenal bangsa Inggris ada hubungannya dengan menurunnya produksi kopi pada daerah jajahan Inggris di Srilanka sebagai akibat penyakit karat daun yang mematikan tanaman kopi sehingga digantikan dengan perkebunan teh.

Perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan suhu yang berdampak pada serangan hama penyakit,  sehingga petani sering  mengeluhkan faktor perubahan iklim sebagai akibat penurunan produksi.

Penerapan pola budidaya yang baik yang memperhatikan aspek agronomi dan aspek hama penyakitnya merupakan upaya meningkatkan potensi produksi kopi sesuai kapasitas genetisnya.

Produksi tanaman kopi yang rendah mengakibatkan petani tidak memiliki modal untuk pemeliharaan tanaman kopi pada tahun berikutnya, bahkan hasil berkebun kopi dalam satu tahun pun  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibatnya petani kopi semakin terjebak dalam kesulitan.

Perlu uluran tangan pemerintah untuk memberikan bantuan program saprodi bagi petani khususnya bagi warga masyarakat miskin. Disamping itu pendampingan petani menjadi bagian kebijakan yang tidak kalah penting.

Terbatasnya pengetahuan petani mengakibatkan dalam berbudidaya hanya mengandalkan pola budidaya tanaman kopi tradisional yang telah berlangsung secara turun temurun.

Menurut Hafif, et.al (2014), perkebunan kopi yang diusahakan secara tradisional dicirikan dengan: penggunaan klon lokal yang produktivitasnya rendah, kurang dari 0,6 kg/pohon per tahun; tanpa naungan; tidak dilakukan  pemupukan yang semestinya; tidak dilakukan pengendalian hama dan penyakitnya; pemeliharaan tanaman seperti pemangkasan tidak beraturan dan penyiangan gulma tidak semestinya.

Penguatan kelembagaan petani penting dilakukan sebagai upaya peningkatan kapabilitas petani. Kebijakan pengembangan sekolah kopi bagi petani yang digagas Pemerintah Kabupaten Lampung Barat sangat strategis untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani.

Selain itu, rantai tata niaga yang panjang juga mempengaruhi kesejahteraan petani kopi dan setidaknya ada tiga rantai pemasaran yang muncul pada mekanisme penjualan kopi.

Rantai pertama adalah rantai tata niaga kopi asalan yang dimulai dari petani, pengumpul kecil, pengumpul menengah, pengumpul besar dan eksportir.

Rantai tata niaga kedua adalah rantai tata niaga kopi grade IV yang dimulai dari petani dan eksportir yang difasilitasi oleh Poktan/KUB dalam proses pengirimannya. Selisih harga di setiap rantai tata niaga berkisar antara Rp500 sampai Rp1.000 dikarenakan adanya proses sortasi pada masing-masing rantai tata niaga. Semakin panjang rantai tata niaga akan semakin kecil harga yang diterima di tingkat petani.

Sementara itu rantai tata niaga yang lebih pendek adalah rantai tata niaga kopi premium yang dimulai dari petani, pengumpul dan pembeli (cafe/konsorsium cafe). Pada tahapan ini petani akan memperoleh harga yang lebih baik, namun kopi yang ditransaksikan yaitu kopi specialty/fine Robusta dengan harga mencapai Rp35.000,- bahkan lebih, sesuai dengan kualitas yang diminta oleh konsumen.

Meski pasar produk ini masih sangat terbatas, namun cukup memberikan gairah bagi petani kopi. Seiring dengan trend minum kopi sebagai bagian life style masyarakat perkotaan, maka permintaan kopi jenis ini semakin meningkat dengan menjamurnya coffee shop baru di perkotaan.

Petani harus mampu membidik pasar kopi pada masing-masing tingkatan, baik pada grade komersil yang merupakan pasar terbesar maupun kopi specialty yang pasarnya terbatas dan menjanjikan banyak keuntungan.

Dengan demikian petani akan bisa menghasilkan pendapatan yang lebih dengan berbagai tingkatan harga yang diperoleh.

Proses pemanenan dan pascapanen yang dilakukan secara benar dan mengikuti standar akan menghasilkan mutu kopi yang berkualitas. Mutu kopi yang akan menentukan berapa harga yang akan diterima petani kopi.

Keberhasilan agribisnis kopi memerlukan dukungan semua pihak yang terkait dalam proses kopi, pengolahan maupun pemasarannya. Upaya peningkatan kesejahteraan petani tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, tapi yang lebih penting adalah semangat petani kopi untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kepedulian sektor industri pada sektor hulu dengan mengembangkan pola kemitraan yang setara dan saling menguntungkan hendaknya menjadi tanggung jawab sosial yang harus terus ditingkatkan.

Peran badan usaha milik desa perlu dioptimalkan. Alokasi anggaran dana desa hendaknya diarahkan dalam meningkatkan nilai tambah produk unggulan desa.

Proses pengolahan dan pemasaran kopi dapat dilakukan oleh badan usaha milik desa sehingga nilai tambah yang diperoleh akan kembali ke desa dan akan memberikan multiplier effect bagi perekonomian desa.

Pengembangan kawasan agrowisata berbasis kopi akan mendorong kewirausahaan masyarakat setempat dan meningkatkan pemasaran kopi.

Pengembangan kawasan pedesaan berbasis kolaborasi dapat dilakukan untuk mempercepat keberhasilan pembangunan sebagaimana yang sudah dilakukan pada pengembangan kawasan agrowisata “Kampung Kopi Rigis Jaya” di Lampung Barat yang melibatkan lembaga terkait yang  terdiri dari unsur pemerintah (Kementerian Pertanian, Kementerian Desa, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Desa, Badan Usaha Milik Desa) dan non-pemerintah (Perusahaan Listrik Negara, Bank Indonesia, Bank Lampung).

Beberapa waktu lalu, Gubernur Lampung telah mengeluarkan surat edaran tentang penggunaan produk kopi Lampung pada instansi pemerintah/swasta dan juga di setiap penyelenggaraan pertemuan dan rapat.

Surat edaran ini menjadi angin segar bagi petani kopi Lampung. Jika semua instansi pemerintah/swasta, hotel, restoran, kedai, pusat oleh-oleh dan kawasan wisata di wilayah Provinsi Lampung menyajikan kopi Lampung sebagai sajian wajib tentu akan mampu meningkatkan konsumsi kopi lokal yang akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Kopi sebagai salah satu komoditi perkebunan yang menyumbangkan devisa bagi negara dan diusahakan oleh sebagian besar masyarakat lampung perlu memperoleh perhatian yang serius dari pemerintah.

Pengembangan penelitian dan teknologi penting dilakukan pada berbagai aspek seperti perilaku petani, peningkatan produktivitas, pengolahan, pemasaran hingga pengkajian kebijakan pemerintah agar tepat sasaran.

Tidak dapat dielakkan bahwa kemajuan pembangunan pertanian secara umum tidak terlepas dari aktivitas kegiatan penelitiannya dan penerapan teknologi seperti yang dilakukan oleh negara lain, misalnya Jepang, Thailand dan Vietnam.

Kebijakan yang tepat dan terintegrasi dari hulu-hilir serta melibatkan semua stakeholder terkait dan berkesinambungan akan mampu meningkatkan produktivitas dan mutu kopi sehingga petani kopi Lampung dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dan daya saing kopi Lampung lebih meningkat di pasar nasional dan dunia.

Akhirnya, mari kita sajikan kopi Lampung sebagai sajian wajib di keluarga kita. (*)

Penulis saat ini menjabat Kepala Badan Litbang Kabupaten Lampung Barat

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID