Menikmati Karya-Karya Lukis Bachtiar Basri - RILIS.ID
Menikmati Karya-Karya Lukis Bachtiar Basri
[email protected]
Minggu | 07/04/2019 06.00 WIB
Menikmati Karya-Karya Lukis Bachtiar Basri
Salah satu lukisan karya Bachtiar Basri. FOTO: ISBEDY STIAWAN ZS

RILIS.ID, – SAYA beruntung, di menit-menit terakhir mau pamit dari rumah dinas Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Bachtiar Basri, Jumat (5/4/2019) sekira pukul 00.00, saya dan Agusri Junaedi diajak ke ruang "studio" biasa ia melukis.

"Lihat lukisan-lukisan terbaru saya," kata Bang Bach, biasa saya menyapanya, sambil melangkah ke bangunan lain dari rumah dinas Wakil Gubernur Lampung.

Saya dan Agusri pun berjalan di belakangnya.

Sekira 5 karya lukis yang terbaru dibuatnya (2019). Lainnya adalah karya lama yang dipajang di dinding studionya. Banyak juga yang pernah saya lihat sebelumnya, sudah berpindah tangan alias dikoleksi orang. Termasuk lukisan untuk sampul kumpulan puisi romantis penyair Indonesia.

Mencermati karya-karya lukis Bachtiar yang memilih (aliran) abstrak, pertama yang harus kita siapkan sebagai penikmat adalah hindari keinginan untuk memburu makna.  Apatah lagi menafsir-nafsir. Sebab tafsir dan makna ada dalam diri setelah kita bersentuhan dengan goresan, pewarnaan (pencampuran warna), dan lain-lain.

Dalam berdialog dengan pelukis ini, ia juga tak pernah menerang-jelaskan ihwal makna dari karya-karyanya.

Bachtiar cukup mengatakan, dalam berkarya ia tuangkan apa yang ada di batin dan pikirannya. Ia akan berhenti dan merasa lukisannya selesai, apabila merasa puas.

Itu sebabnya, diakuinya, sejumlah lukisanya masih tergeletak di lantai, bersanggah di dinding sebagai karya yang belum selesai. Entah sampai kapan.

Meski, selain menikmati indahnya harmonasisasi warna yang ditoreh di kanvas, saya tetap menarasikan apa yang tersembunyi dalam karya lukisnya.

Misalnya, lukisan yang kemudian diberikan pada saya. Saya merasakan seperti waktu (hidup?) yang berputar dan berulang. Demikian rumit waktu, namun masih ada warna cerah di antara hitam.

Lalu, lukisan yang di tengah ada garis-garis pemisah amat jelas. Bagi seseorang untuk mencapai keberhasilan, pasti akan berhadapan rintangan. Garis-garis penegas itu menandakan bahwa manusia harus cakap dan bijak untuk mencapai kesuksesan.

Lukisan lain, seakan tanpa memberi ruang bagi penikmat untuk memasuki makna yang tersembunyi di dalamnya. Sebentuk harapan bahwa untuk mengerti apa yang terkandung dalam diri orang lain, kita harus mendekat, berdekatan, dan terus mencoba memahaminya. Inilah harmonisasi dalam kehidupan sosial.

Lukisan Bachtiar yang belum diberi judul -- tapi semua karyanya memang tak berjudul -- bagai melihat ilalang yang cerah dan terang. Seperti tertimpa matahari sore.

Beberapa karya lukis Bachtiar sudah pindah tangan saat lelang karya untuk membantu korban tsunami tahun lalu.

Sebetulnya karya-karya lukis Wagub Lampung layak dikatakan jadi. Ia memang bukan ujuk-ujuk di dunia senirupa. Sudah dilakukan sejak kuliah di UII dan di sela kerjanya di Pemkab Lampung Utara.

David, kurator asal Lampung, pernah mengatakan hal serupa. Penilaian seorang kurator memjadi "pembaptis" keberhasilan dan belum layaknya sebuah karya.

Tetapi, Bachtiar tetap masih belum siap jika menggelar pameran tunggal.

"Saya melukis karena ingin berekspresi," katanya.

Kalau ada yang merasa tersentuh atau terhibur, cukuplah untuk disematkan pada karya lukisnya. Artinya, saya mengartikan bahwa Bachtiar tak perlu mengejar popularitas.

Tetapi, saya berpikir lain, suatu saat perlu dipertimbangkan ulang gagasan untuk berpameran tunggal. Sebab, tak banyak pejabat kita dengan bejibun kesibukan di kantor, masih sempat merenung dan menuangkannya di kanvas dalam adonan warna! (Isbedy Stiawan ZS, Penikmat Seni)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID