Meninggal saat Imam, sang Ustaz selalu Ajarkan Cari Ilmu - RILIS.ID

Meninggal saat Imam, sang Ustaz selalu Ajarkan Cari Ilmu
El Shinta
Kamis, 2018/05/17 17.39
Meninggal saat Imam, sang Ustaz selalu Ajarkan Cari Ilmu
Jenazah Ustaz Ferdinal saat hendak dimakamkan, Kamis (17/5/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Duka dirasakan Fermindo Zaid Al Hafidz. Dia adalah putra almarhum ustaz Ferdinal Syarif Hidayatullah, yang meninggal saat mengimami salat Isya, Rabu (17/5/2018).

Menurut Fermindo, keluarga besar ustaz berusia 57 tahun itu sangat kehilangan. Sebab, putra sulung almarhum menyebut kondisi fisik ayahnya sangat baik beberapa hari terakhir. 

"Papa itu sehat, tapi memang ada sakit jantung sejak tahun 2012. Belakangan Papa berobat alternatif totok darah di Gadingrejo, sudah sebulan ini ada perubahan yang bagus,” ungkapnya kepada rilislampung.id, Kamis (17/5/2018).  

Dia menerangkan, sejak berobat alternatif, papanya bisa ke masjid tanpa sekalipun berhenti. Bahkan sempat angkat-angkat galon seperti orang fitnes. Dia juga heran mengapa tenaga papanya seperti orang sehat.

Dia mengungkapkan terakhir kali melihat ayahnya saat akan berangkat ke masjid. Dia sempat hendak membonceng ayahnya ke masjid. Namun karena membawa sepeda motor besar dan takut papanya terjatuh, Ustaz Ferdinal akhirnya berjalan kaki.

Sorenya ia ditelepon ibunya. Katanya sang Papa pingsan. Karena panik, dia tak sempat bertanya ke mana Ferdinal dirawat.

Dia ke RS Abdul Moeloek, RS Advent, dan RS Urip Sumoharjo, tapi tak ada. Ternyata papanya dirawat di RS DKT. 

Fermindo mengaku jika firasat kepergian ayahnya sudah dirasakan adik bungsu dan ibunya. Keduanya mimpi gigi patah

"Ibu bermimpi, Papa titip pesan supaya halaman rumah dipasang tarup dan kursi karena nanti bakalan banyak tamu yang datang," tuturnya. 

Ia menuturkan, sosok ayahnya merupakan panutan di dalam hidupnya dan bagi ketiga adiknya. Tidak pernah mengajarkan mencari harta, namun membekali dengan ilmu.

”Karena menurut Papa, harta itu bisa habis sewaktu-waktu. Tapi tidak dengan ilmu yang akan selalu bermanfaat," ceritanya. 

Saat ini ia akan meneruskan perjuangan ayahnya yang disebutnya ”pria panggilan”. Mengapa demikian?

"Papa itu seorang qari. Pernah menjadi dewan hakim, imam tetap Masjid Taqwa dan Nurul Iman, pernah juga jadi penghulu. Makanya saya menyebut beliau pria panggilan. Karena dipanggil sana-sini,” paparnya.

Dia bertekad meneruskan Yayasan Qiroatul Qur'an Syarif Hidayatullah. Sebagaimana pesan almarhum. (*)

 

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)