Menjaga Binar Kebahagiaan Anak-Anak di Pengungsian - RILIS.ID
Menjaga Binar Kebahagiaan Anak-Anak di Pengungsian
[email protected]
Jumat | 07/09/2018 06.00 WIB
Menjaga Binar Kebahagiaan Anak-Anak di Pengungsian
Septi, Hakim PTUN Mataram dan Pegiat Anak

MANUSIA hidup untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan yang Allah berikan padanya. Selain apa-apa yang memang ditujukan untuk dirinya sendiri, ada banyak hal yang menjadi panggilan kemanusiaan untuk dilakukan yang berspektrum luas dan universal.

Salah satu tugas kemanusiaan yang penting adalah berbagi dan bermanfaat bagi orang lain, untuk orang banyak. Guna menjalankan tugas-tugas kemanusiaan tersebut, manusia harus terlebih dahulu memahami apa yang benar-benar dirinya inginkan.

Mengetahui passion yang ingin dikerjakan itu penting. Dengan begitu, manusia bisa menemukan kebahagiaan dirinya. Sehingga energi kebahagiaan itu bisa ia sebarkan kepada sekitarnya.

Sudah sejak lama, hati ini tertambat pada anak-anak. Allah memang belum rida untuk menitipkan amanah berupa anak kepada saya dan suami. Namun, setiap wanita adalah ibu. Ada sisi-sisi kelembutan dan kasih sayang yang butuh diluapkan agar jiwanya seimbang.

Bagi seorang ibu, memberikan cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan daripada menerimanya. Entah kenapa saya memang begitu mudah jatuh cinta pada anak-anak.

Sering mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan untuk dan bersama anak-anak, membuat saya yakin bahwa salah satu passion yang membawa kebahagiaan lahir batin adalah anak-anak.

Kebutuhan batin saya terpenuhi ketika dekat dengan mereka, mendengar celoteh polos, dan menatap mata beningnya. Begitu damai saat memeluk dan menyalurkan cinta melalui genggaman tangan mereka.

Sejak gempa mengguncang Pulau Lombok, kami bersama para relawan di Mataram sering mengunjungi posko-posko pengungsian untuk membagikan bantuan serta mengajak anak-anak bermain dan belajar. Agar mereka melupakan sejenak trauma bencana yang dialaminya.

Kegiatan inilah yang kelak mempertemukan saya dengan para senior-senior dan beberapa relawan dari Lampung saat berkunjung ke Lombok untuk menyerahkan donasi bantuan.

Setelah beberapa minggu pulang dari Lombok, mereka menginisiasi sebuah gerakan kerelawanan lintas profesi dan lintas daerah, kami menyebutnya Gerakan 69.

Dalam wadah gerakan inilah, kami disatukan dengan banyak orang yang memiliki visi kebaikan serta misi kepedulian yang sama. Khususnya untuk bergerak dan berkontribusi bersama dalam memulihkan Lombok pascagempa.

Masyaallah, luar biasa energi yang tercipta dari Gerakan 69 ini. Semua yang terlibat tidak lagi memikirkan latar belakang yang berbeda, kami fokus pada satu tujuan. Baik untuk terjun langsung ke lokasi terdampak gempa atau melakukan aktivitas sosial kemanusiaan di sana.

Banyak program yang dilakukan Gerakan 69 ini di pengungsian. Saya memilih melakukan apa yang menjadi passion saya, yaitu menjadi 'teman' anak-anak di sana. Mereka memang kehilangan rumah dan sekolah, tetapi mereka harus selalu punya harapan akan ada rumah dan sekolah baru untuk mereka.

Mereka pasti mengalami trauma dan ketakutan, maka tugas kita untuk mengembalikan tunas-tunas keberanian di hati mereka.

Di pengungsian, gerak dan aktivitas anak-anak sungguh terbatas. Kami berupaya memfasilitasi mereka untuk tetap bisa mengaji dengan membagikan Alquran dan buku Iqro. Mereka harus tetap belajar sehingga kami juga membagikan alat tulis dan buku-buku bacaan.

Tidak kalah penting, mereka harus tetap bermain. Kami adakan lomba dan games seru untuk mereka, juga membagikan kesukaan mereka: hadiah dan bingkisan jajanan.

Buat saya pribadi, bangkitnya Lombok harus dimulai dari menjaga binar kebahagian anak-anak. Bocah-bocah yang terjaga kebahagiaannya itu akan selalu memiliki harapan hidup yang tinggi dan insyaallah mampu bertahan bahkan dalam kondisi bencana sekalipun.

Harapan saya, dengan tetap menjaga jiwa anak-anak, mereka akan diberikan kelembutan hati untuk mendapat pemahaman tentang kepedulian dan berbagi dari adanya kegiatan Kerelawanan 69 ini.

Mengajarkan pada mereka bahwa saat saudara dimana pun mengalami bencana, kita harus melakukan sesuatu, sekecil apapun yang kita bisa. Anak-anak di Lombok dan di manapun harus bahagia. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID