Menjaga Muruah Polri di Tengah Fenomena Tik Tok - RILIS.ID
Menjaga Muruah Polri di Tengah Fenomena Tik Tok
[email protected]
Senin | 23/07/2018 06.00 WIB
Menjaga Muruah Polri di Tengah Fenomena Tik Tok
Rosim Nyerupa, Wakil Sekretaris Umum Bidang Perguruan Tinggi Dan Kepemudaan HMI Cabang Bandar Lampung

DI ERA abad milenium saat ini kemajuan teknologi di tanah air semakin melejit. Berbagai macam produk digital berbasis aplikasi smartphone yang menyajikan beragam  fitur dengan konten menarik berhasil meningkatkan konsumsi masyarakat. Alhasil, melahirkan persaingan pasar digital yang semakin tinggi sehingga mendorong produsen menciptakan produk teknologi lebih unggul, canggih, dan diminati oleh generasi milenial.

Tom Brokow yang dikutip Tirto (2016) menyebutkan ada lima karakteristik generasi millenial. Yaitu (1) melek teknologi; (2) bergantung pada mesin pencari, (3) learning by doing, (4) tertarik pada multimedia, dan (5) membuat konten internet. Dari karakteristik tersebut, kecanggihan teknologi akan menopang segala kebutuhan kaum millenial. Gadget dianggap solusi praktis bagi orang tua untuk anak-anaknya di rumah di tengah kesibukan karir.

Namun di tengah kondisi zaman-hal ini justru mengakibatkan anxioty (kekhawatiran) bagi orang tua. Wajar saja Tom Brokow memetakan karakteristik generasi milenial di atas. Sebab pengguna internet di Indonesia mulai dari usia 19 hingga 34 tahun sebanyak 49,52 persen dan usia 13 hingga 18 tahun menempati posisi ketiga dengan porsi 16,68 persen (Survey APJII 2017). Dari data tersebut jenis konten yang banyak diakses mereka adalah media sosial termasuk Tik Tok di dalamnya.

Tik Tok pertama kali diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming di China dan resmi masuk ke pasar Indonesia sejak 2017. Hingga saat ini meraup lebih dari 10 juta user. Pencapaian tersebut merupakan jawaban atas sikap optimisme Viv Gong, Head of Marketing Tik Tok saat itu. Ia meyakini aplikasi ini berpeluang besar di negara kita. Mengingat Indonesia menempati posisi keenam sebagai negara dengan pengguna internet terbesar di dunia. Dengan demikian posisi tersebut menjadi alasan dan tidak heran jika Tik Tok pada akhirnya menggurita di bumi Indonesia.

Rata-rata pengguna aplikasi yang dinilai tidak berfaedah oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, ini mayoritas generasi masa depan bangsa. Ridwan Kamil juga berpendapat demikian. Sebagaimana dilansir berbagai media massa. Sosok yang akrab disapa Kang Emil ini mendukung langkah Kominfo. Menurut dia lebih baik diarahkan kepada hal yang bersifat positif seperti postingan yang produktif dan inspiratif.

Jika diselaraskan dengan semangat revolusi mental yang dicanangkan Presiden Jokowi, pandangan Wali Kota Bandung di atas sangat tepat. Sebab dilihat dari sudut pandang asas kemanfaatan, selain membuang-buang waktu yang tidak sejalan dengan esensi revolusi mental, juga dapat menyebabkan merosotnya mental generasi millenial.

Jika ditelaah dari sisi intelektual question, aplikasi tidak dapat meningkatkan pola pikir kaum milenial. Sebab materi yang disajikan di dalamnya hanya bersifat hiburan. Misalkan video selfie dengan musik yang sedang tren seperti Tettew. Kemudian di sisi emotional question, Tik Tok tidak dapat mendompleng terbentuknya karakter kepemimpinan dan mental. Justru menyebabkan degradasi mental kaum milenial.

Lihat saja kasus empat gadis yang buat video di lampu merah yang diciduk polisi. Pelajar SMP berjoget-joget di depan kelas yang menuai kecaman netizen karena dianggap tidak sopan dan gadis remaja yang merekam jenazah kakeknya menggunakan aplikasi Tik Tok. Apakah ini cerminan karakter dengan akhlak yang baik? Dengan demikian pada akhirnya proses pembentukan karakter tidak terbentuk di dunia realitas melainkan di dunia ’simulacra’ atau semi-realitas yang bersifat kepuasaan sesaat.

Maka upaya untuk mewujudkan pola pikir, sikap, dan tindak generasi muda dengan daya karakter yang kokoh harus terus digenjot. Tidak hanya sekadar di internal keluarga atau strategi pemerintah melalui berbagai macam program pendidikan dan kepemudaan atau kehidupan sosial melalui berbagai aktivitas di bangku-bangku sekolah. Namun pendidikan di bidang teknologi khususnya dunia maya, literasi digital dipandang sangatlah penting.

Fenomena Tik Tok harus menjadi catatan penting bersama terhadap nasib kaum muda ke depan. Jika berkelanjutan maka sangat disayangkan. Sebab seharusnya segala potensi yang ada dengan semangat yang membara pada generasi muda menjadi modal yang dapat diarahkan dengan berbagai aktivitas positif yang menunjang bagi keberkembangan dirinya.

Pemblokiran terhadap aplikasi ini tanggal 3 Juli 2018 lalu merupakan langkah tepat. Kita meyakini alasan pemerintah tidak jauh dari semangat revolusi mental. Kondisi generasi millenial dan fenomena Tik Tok dari segi kemanfaatan, apalagi mengandung konten-konten negatif yang dapat menyesatkan. Meskipun telah terjadi kesepakatan antara pemerintah dengan tim manajemen Tik Tok (10/7/2018), pihak Tik Tok mengamini dan mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah Indonesia seperti pembatasan umur minimal 13 tahun ke atas. Akhirnya pemerintah membuka blokir tersebut. Walaupun kesepakatan terhadap pembatasan umur sebenarnya masih rentan dimanipulasi oleh calon pengguna, tetapi sikap yang dilakukan Kominfo dalam menegur petinggi Tik Tok patut diapresiasi demi keselamatan generasi muda bangsa ini.

Lihat saja di era kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini, platform revolusi mental yang dicanangkan sejak tahun pertama menjabat merupakan strategi yang dibangun. Tujuannya satu di antaranya ialah untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang cerdas termasuk generasi millenial di dalamnya. Gerakan tersebut akan tercapai dengan maksimal manakala semua elemen yang terlibat tetap konsisten dalam gerakannya baik itu lapisan masyarakat, pemerintah, maupun lembaga negara non-pemerintahan seperti Polri.

Peranan penting Polri dalam menjalankan gerakan revolusi mental selain mengajak masyarakat, paling tidak dapat merubah pola pikir, sikap, dan tindak anggota di lembaganya ke arah lebih baik. Tentnya dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai salah satu sosok yang dijadikan teladan (public figure) oleh masyarakat. Sehingga segala gerak di mana saja berada dapat ditiru, begitu juga di dunia maya.

Tidak hanya merambah di kalangan generasi millenial dalam masyarakat biasa, Tik Tok ternyata banyak juga diminati oleh anggota Polri di republik ini. Hal tersebut dapat kita lihat pada postingan di akun-akun instagram bahkan viral dalam pemberitaan media massa. Beberapa aparat mengenakan seragam yang baru berusia muda-sempat viral di dunia maya. Dengan modal video singkat yang dibuat melalui aplikasi Tik Tok kemudian di-share ke akun Instagram tidak lain adalah bentuk kelatahan di negeri ini yang dapat kita temui di media sosial.

Disadari memang secara intuitif hal demikian merupakan wujud dari kebebasan berkespresi setiap warga negara yang dijamin undang-undang. Sebetulnya tidak menjadi persoalan, Karena memang tidak menyalahi kebebasan berkespresi tiap-tiap individu, apalagi bagi individu muda hal semacam ini tidak akan datang untuk yang kedua kali.

Haruki Murakami, Sosok yang pernah meraih nobel sastra mengatakan, ”Masa mudamu bukanlah seumur hidupmu”. Dalam kacamata ini, hal di atas menjadi terbantahkan jika menilik kembali regulasi-normatif pada pasal 4 PP No. 02 tahun 2003.

Tentu aparat kepolisian dituntut untuk bersikap pantas sebagai public figure. Secara sosiologis, bahkan bukan lagi dituntut, sikap sebagai public figure adalah sebuah kewajiban bagi seorang aparatur. Aparat kepolisian berdasarkan undang-undang di atas dituntut memberi teladan dan contoh yang baik. Bahkan dari segi daya cipta dan kreasi sekalipun.

Namun kebebasan berkespresi yang lahir diwujudkan melalui aplikasi Tik Tok yang minim nilai-nilai edukasi dan kreativitas jika dilakukan oleh seorang public figure seperti aparat kepolisian akan ditiru oleh generasi milenial yang mengaguminya.

Blumer mengatakan bahwa, ”Manusia merupakan aktor yang sadar dan refleksif, yang menyatukan obyek-obyek yang diketahuinya melalui proses yang disebut self-indication. Suatu proses komunikasi yang sedang berjalan di mana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberi makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu” (Poloma, 2010: 261). Maka tindakan individu seperti aparat kepolisian harus melekat, tindakan yang seharus dilakukan dan tindakan yang sebenarnya dilakukan (Goffman-1963).

Menjaga citra polri di media sosial sangatlah penting. Selain masyarakat sebagai mitra yang harus ikut serta membantu juga didorong dengan kesadaran personel di internalnya sendiri. Sebab, anggota polri dengan segala sikapnya baik secara langsung (di tengah masyarakat) maupun tidak langsung (di media sosial), merupakan pengejawantahan lembaga polri itu sendiri dengan menjunjung tinggi dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam tribrata sebagai pedoman hidup polri.

Demi menjaga muruah tersebut dan mempertahankan eksistensi polri di tengah masyarakat khususnya generasi muda, maka fenomena beberapa personel aparat kepolisian yang kerap bermain Tik Tok dengan mengenakan pakaian seragam harus menjadi perhatian khusus bagi kapolri. Tim siber polri nampaknya harus melacak akun-akun anggota polri di Instagram dan Tik Tok guna mengetahui bagaimana kondisi dimaksud. Sehingga dapat menjadi acuan kapolri agar dapat menginstruksikan anggotanya untuk tidak mengenakan seragam dinas saat bermain Tik Tok.

Setidaknya, barangkali, ini menjadi manifestasi bagi revolusi mental dari polisi promoter yang selalu didengungkan selama ini. "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lain" (QS. Al-A'raf ayat 179). Wallahu’allam bishawab. (*)

 

 

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID