Merajut Kembali Semangat Sumpah Pemuda - RILIS.ID
Merajut Kembali Semangat Sumpah Pemuda
[email protected]
Senin | 28/10/2019 06.01 WIB
Merajut Kembali Semangat Sumpah Pemuda
Gunawan Handoko, Mantan Aktivis Pemuda, tinggal di Bandarlampung

TERDAPAT peristiwa penting pada Oktober tahun ini bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yakni pelantikan dan pengambilan sumpah presiden dan wakil presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2019. Selang beberapa hari kemudian Presiden RI Joko Widodo melantik para menteri Kabinet Indonesia Maju sebagai pembantunya.

Dari peristiwa penting tersebut semua tentu berharap agar kondisi masyarakat Indonesia ke depan akan kembali bersatu, aman, nyaman, dan menyenangkan sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda 1928.

Diharapkan tidak ada lagi saling curiga, saling hujat bahkan saling berhadap-hadapan sesama anak bangsa. Tidak perlu lagi ada pihak yang mengaku paling NKRI dan paling Pancasilais, dengan mencurigai pihak lain sebagai anti NKRI dan anti Pancasila.

Para Menteri Kabinet yang telah ditunjuk oleh Presiden melalui hak prerogatifnya diharapkan mampu menciptakan iklim yang sejuk dengan tidak mengeluarkan pernyataan yang justru menimbulkan suasana panas dan gaduh serta perpecahan di tengah masyarakat.

Peran lembaga-lembaga tradisional seperti tokoh adat, tokoh masyarakat, dan agama yang di masa lalu sangat berpengaruh di dalam menciptakan suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat, kini memang nyaris hilang.

Harus kita akui bahwa demoralisasi telah melanda negeri ini, di mana nilai-nilai moral telah semakin menipis. Rasa nasionalisme masyarakat Indonesia saat ini mengalami ambiguitas, yang pada akhirnya terjadi degradasi nasionalisme.

Fakta lain yakni kinerja pemerintah tidak secara profesional dan sungguh-sungguh untuk mengembalikan semangat persatuan dan nasionalisme. Yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat seperti terbelah. Sungguh ironis dan menyedihkan. Perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak kehilangan jati diri bangsa.

Di masa dulu bangsa Indonesia mendapat julukan sebagai ’bangsa timur’ karena perilaku masyarakatnya yang dikenal berbudi pekerti luhur, sabar, ramah dan santun. Itulah sesungguhnya jati diri yang telah terpatri dan dimiliki rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Hari ini bangsa Indonesia sedang mengalami patologi sosial yang amat kronis. Sebagian besar masyarakat kita telah tercerabut dari peradaban easterisasi atau ketimuran yang beradab, santun, dan beragama.

Dengan dalih demi kepentingan rakyat, para elite politik saling melampiaskan dendam politiknya dengan melakukan kritik dan hujatan terhadap lawan politiknya. Dengan dalih demi untuk menunjukkan paradigma transparansi, demokratisasi dan keterbukaan, unjuk rasa marak di mana-mana.

Media massa yang diharapkan dapat menjadi lembaga independen dan sumber informasi yang benar dan berimbang, nampaknya sulit diharapkan. Rakyat pun menjadi bingung, sosok mana yang pantas menjadi figur pemimpin karena yang mengaku tokoh pun kerjanya hanya mengkritik dan menghujat.

Kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan atau sengaja untuk bertabrakan. Mengapa semua bisa terjadi? Jawabnya adalah bahwa kita telah lupa sejarah.

Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu, kini telah ditinggalkan. Nasionalisme tidak lagi menjadi sebuah aliran yang dimiliki oleh bangsa dalam upaya menjaga keabadian identitas bangsa dan negara untuk mencapai tujuan bersama.

Masyarakat masa lalu (zaman kemerdekaan) menggunakan nasionalisme untuk menyatukan NKRI dengan merebut kemerdekaan dari kolonial. Konsep nasionalisme masa lalu inilah yang tidak lagi ditemui saat ini.

Selain perbedaan atas tujuan nasionalisme itu sendiri, bahwa nasionalisme dulu berbeda dengan nasionalisme sekarang karena momen yang berbeda. Maka sudah seharusnya kita kembali kepada semangat Sumpah Pemuda 1928.

Hal yang tidak bisa dibantah bahwa Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik di mana pada 28 oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas di bawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli (pribumi).

Tekad inilah sesungguhnya yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian, yakni pada 17 Agustus 1945.

Seyogyanya semangat sumpah pemuda ini secara terus-menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi masyarakat, khususnya kaum muda agar dapat meneladani semangat dan patriotisme para pendahulunya.

Dengan memahami sejarah masa lalu, diharapkan ke depan tidak akan terdengar lagi tuntutan sekelompok masyarakat atau golongan yang ingin untuk memisahkan diri dari NKRI, menuntut untuk diperlakukan secara khusus. Juga tidak akan muncul sikap saling curiga satu sama lain yang notabene adalah satu; satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Sebagai orang yang pernah ikut malang melintang di organisasi kemasyarakatan pemuda, saya masih memiliki harapan besar terhadap peran pemuda khususnya, untuk mengambil peran aktif dalam membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme.

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai wadah berhimpunnya organisasi kemasyarakatan pemuda hendaknya mampu menjadi perekat dari berbagai bentuk dan corak kepemudaan yang ada.

Mari kita menengok sejarah ke belakang, betapa peran pemuda selalu dilihat dengan penuh kesan. Mereka selalu hadir dengan segala kepeloporannya dalam mendobrak berbagai upaya kemapanan dan ketika lingkungan di sekitarnya yang sedang dilanda krisis. Mereka adalah generasi penerus yang di pundaknya ada tanggungjawab keberlangsungan proses bagaimana masa depan bangsa ini akan dibawa.

Maka formulasi Sumpah Pemuda dan bentuk perjuangannya pun tidak akan pernah berakhir, bahkan semakin berat dalam menyebarkan sebuah formulasi Sumpah Pemuda. Bukan perkara mudah bagaimana Sumpah Pemuda itu bisa dikenal hingga sekarang yang masih setia diucapkan oleh lidah pemuda di berbagai lintas sejarah peradaban Indonesia.

Adalah sah-sah saja bila kaum muda ikut asyik bermain dengan ranah politik, sepanjang tidak melupakan kewajiban yang mesti dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum generasi muda.

Semangat sumpah pemuda dapat menjadi senjata maha dahsyat dalam membangun kembali moral bangsa yang dilandasi dengan rasa persatuan, kesetiakawanan dan solidaritas sosial.

Harus diyakini bahwa pernyataan fenomenal yang diikrarkan di dalam Sumpah Pemuda 1928 mempunyai nilai semangat kebangsaan yang sarat dengan keteladanan dan perjuangan, kekuatan yang besar untuk bisa menyatukan kebhinekaan bangsa, mengangkat harkat dan martabat bangsa yang terjajah dan tertindas di segala lini kehidupan ratusan tahun lamanya, dan sumpah pemuda adalah hasil akhir sebuah proses panjang dalam memformulasikan kesatuan gagasan para pemuda saat itu.

Dalam memperjuangkan nama bangsa, mereka sanggup mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan setiap jengkal tanah. Kepatriotan mereka telah mengesankan para penjajah bangsa ini dan bangsa lain yang menyaksikan setiap detik proses bangsa ini meraih kemerdekaannya.

Dirgahayu 91 Tahun Pemuda Indonesia !!

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID