Misteri "Bos Besar" dan "Eksekusi" dalam Persidangan Mustafa - RILIS.ID

Misteri "Bos Besar" dan "Eksekusi" dalam Persidangan Mustafa
Rilis.id
Kamis, 2018/05/17 23.06
Misteri
ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Sulis Wanto

RILIS.ID, Jakarta – Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman percakapan antara Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah (Lamteng) J.Natalis Sinaga dengan Sekretaris DPRD Syamsi Roli terkait dugaan suap pinjaman daerah kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp300 miliar pada tahun anggaran 2018.

Dalam transkrip percakapan itu, Natalis dan Syamsi membicarakan seputar uang suap yang akan diberikan kepada anggota DPRD Lamteng.

Natalis dalam percakapan itu menyebut seseorang berinisial T, "bos besar" dan "eksekusi".

Syamsi yang dihadirkan sebagai saksi langsung dikonfirmasi oleh jaksa seputar istilah tersebut.

Menurut Syamsi, seseorang berinisial T tersebut adalah Taufik Rahman yang merupakan Kepala Dinas Bina Marga Lamteng.

Namun, ia beralibi tak tahu-menahu maksud "bos besar" dan "eksekusi".

“Saya tidak paham maksudnya bos besar. Kalau T mungkin arahnya ke Pak Taufik," ujar Syamsi dalam persidangan dengan terdakwa Mustafa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta seperti dilansir Rilis.id, Kamis (17/5/2018).

Natalis tampak terdengar mengeluh dalam rekaman itu. Pasalnya, seseorang berinisial T tersebut tidak memenuhi apa yang telah disepakati. Padahal, ia sudah mendapat lampu hijau dari “bos besar”.

Jaksa menduga istilah bos besar yang dimaksud adalah Bupati Lamteng nonaktif Mustafa. Berikut rekaman percakapan Natalis dan Syamsi:

Natalis: Saya kan dua hari yang lalu kan dipanggil, sudah ketemu langsung “bos besar”, sudah langsung empat mata ngobrol dan katanya dijanjikan paling lambat hari ini si T itu akan ketemu saya. Ternyata sampai hari ini juga enggak ada.

Syamsi Roli: Kata Madani, ya itu udah oke. Tinggal eksekusi lagi yang yang yang pertemuan Pak Natalis terakhir itu.

Diketahui, Mustafa didakwa menyuap sejumlah anggota DPRD Lamteng sebesar Rp9,6 miliar. Menurut jaksa, penyuapan itu dilakuan bersama-sama Taufik Rahman selaku Kepala Dinas Bina Marga.

Sejumlah anggota DPRD Lampung Tengah periode 2014-2019 yang disebut menerima suap yakni, J. Natalis Sinaga (Wakil Ketua/PDIP), Rusliyanto (PDIP), Achmad Junaidi Sunardi (Ketua DPRD/Golkar), Raden Zugiri (Ketua Fraksi PDIP). Kemudian, Bunyana (Ketua Fraksi Golkar) dan Zainuddin (Ketua Fraksi Gerindra).

Pemberian uang tersebut bertujuan agar anggota DPRD memberikan persetujuan terhadap rencana pinjaman daerah Kabupaten Lamteng kepada PT SMI sebesar Rp300 miliar. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)