Obituari: Een in The End - RILIS.ID
Obituari: Een in The End
[email protected]
Senin | 22/04/2019 23.20 WIB
Obituari: Een in The End
Hendarmin alias Een. FOTO: Khairul Anom

Oleh: Khairul Anom

 

Hendarmin berpulang oleh serangan jantung pada dini hari. Di pusara yang dikelilingi puluhan kolega yang mengantar ke peristirahatannya, saya curiga, ia sebenarnya tidak menangisi kematiannya sendiri.

Bahkan kepada Bima dan Dana—kedua anaknya, saya membayangkan ia menjabat tangan kedua anak itu dengan cara gentlement: “Ayah pulang duluan.”

Saya mengatakan ini karena itu yang saya tahu tentang Bang Een—sapaan akrabnya. Pertama, ia pecandu humor yang tak suka mendramatisasi hidupnya. Kedua, ia bukan tipikal yang nyaman menjadi pusat perhatian. Ia sosok yang rendah hati.

Bagi yang mengenalnya, terutama kalangan Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta dan Lampung, orang akan dengan cepat menyematkan dirinya sebagai orang politik.

Meskipun sebenarnya, ia tak sepenuhnya berada dalam kerumunan politisi. Ia bukan orang partai.

Ia lebih senang menempatkan dirinya sebagai mentor politik, dan begitu bergairah ketika memamerkan intuisinya dalam soal itu.

Gaya bicaranya khas karikatural. Mungkin karena ia pembaca buku yang tekun, hal yang tak umum untuk orang seusia dia.

Suatu pagi saya pernah berkunjung ke rumahnya. Di meja tepat disamping cangkir kopinya, ada buku Homo Deus – Yuval Noah Hariri. Ia melarang saya menyentuh buku itu: “Jangan dibuka kalau belum membaca Sapiens, bisa enggak enak.”

Akhirnya saya hanya bisa mendengar ceritanya yang panjang tentang buku itu. Tentu impresif, karena dari buku-buku setebal itu ia bisa mengurai dengan detail bagian yang menarik. Seakan tak ada paragraf yang rela ia tinggalkan begitu saja.

Apalagi, sejarah dan politik adalah hal yang paling ia gemari, dan sepertinya tak ada selain itu. Lebih khusus, ia begitu gandrung dengan sejarah Islam. Dan siapapun pasti akan terkesima jika ia sudah berdemonstrasi soal ini.

Ia piawai memutar adegan dalam banyak tragedi sejarah Islam. Hal yang paling saya suka adalah ketika ia bercerita tentang sejarah konflik pasca kematian nabi. Begitu ekspresif seakan ada darah yang mengalir dari gestur tangannya, ketika pedang menyabet tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Yang saya sayangkan, ekspresi itu yang tak ia munculkan ketika menulis. Narasinya datar dan tak sabar pada isi. Ia kerap menulis tapi tak pernah mengemas dalam satu artikel. Ia membuat narasi panjang begitu saja, sejak era BBM dan grup Whatsapp.

Begitu panjang hingga saya pernah bertanya bagaimana ia menuliskan itu, “Ya, ngetik di HP, lah,” katanya.

Uniknya, ia menulis begitu rapi dan jauh dari bahasa lisan, seakan ia menulis untuk media cetak. Padahal, berapa banyak orang yang peduli dengan bahasa, ketika membaca pesan di HP. Dan sebenarnya, bukan hal yang sulit jika ia mau membuat sebuah buku.

Yang unik tentang Hendarmin bagi saya, ia kerap menampilkan kontradiksi dalam sikap pikirannya. Suatu ketika ia bisa tampak sebagai orang konservatif seperti khasnya jamaah tarbiyah, misalkan kecurigaannya pada Yahudi, Cina dan konspirasi global.

Sekalipun ia bercerita dengan data yang meyakinkan, tapi bagi saya jauh dari proporsional. Tapi di lain waktu, ia bisa menjadi sosok progresif. Ia bisa mengambil jarak yang pas ketika bercerita tentang Islam dalam sejarah dan politik. Ia bisa mengobati kerinduan pada pemikir HMI tempo dulu.

Hendarmin dan buku memang begitu dekat, dan ia suka memamerkan itu pada orang yang datang ke rumahnya. Ia akan ambil satu per satu lalu mengomentari isinya.

Hendarmin berpulang dalam proses yang begitu singkat, tak ada drama, seperti daun yang potek. Malam itu kami menjenguknya yang baru masuk rumah sakit. Ia berbaring dengan selang oksigen di hidung.

Jika tak dilarang dokter, ia masih antusias bercerita – hal yang menjadi standar hidupnya. Tak lama, ia meminta kami untuk pulang, seakan ia enteng menghadapi semua itu dan tak mau orang lain menjadi repot karenanya.

Dan hingga saat ini, saya masih belum mampu untuk menyebutnya sebagai almarhum. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID