Pameran Spirit of Art, Ajang Berkesenian Tanpa Batas - RILIS.ID

Pameran Spirit of Art, Ajang Berkesenian Tanpa Batas
[email protected]
Sabtu, 2018/12/15 23.15
Pameran Spirit of Art, Ajang Berkesenian Tanpa Batas
Torro dan karya instalasinya yang berjudul Perjuangan Meraih Nasi Bungkus. FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Aktivitas seni pada umumnya dan seni rupa khususnya di Lampung meningkat signifikan. Pameran demi pameran digelar beruntun.

Jika sebelumnya Sanggar Seni Media Art menggelar pameran bertajuk Celah, kini giliran Alumni Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta.

Mereka menggelar pameran Spirit of Art di Taman Budaya Lampung yang dibuka Sabtu (15/12/2018) pagi hingga Kamis (20/12/2018) mendatang.

Karya-karya sangat mumpuni, kuat dengan tematik dan teknik, ditampilkan. Pesan-pesan soal status sosial dan arsitektur diembuskan, mencoba menggugat sanubari setiap pengunjung.

Lebih dari itu, pameran terobosan alumni SMSR itu bertujuan memacu semangat pelukis muda lainnya untuk berkarya lebih serius. Sebuah fenomena luar biasa, apalagi di tahun mendatang Lampung punya agenda pameran skala nasional.

Salah satu pelukis alumni SMSR Yogyakarta, Nurbaito, menerangkan berkesenian harus total tanpa memikirkan karyanya terjual atau tidak. Terpenting seniman dapat menuangkan ide dan gagasan, menyampaikan pesan moral melalui media gambar.

”Adanya transaksi itu bagian dari apresiasi karya yang dipamerkan. Perhelatan atau pun pameran  bagian dari proses perjalanan kreatif,” ungkapnya di pelataran TBL.

Nurbaito mempresentasikan karya dengan perubahan zaman. Itu terlihat dari simbol-simbol yang digunakan seperti becak dan andong yang menceritakan perjuangan kaum-kaum marginal. Dengan keringat bercucuran mereka mencari sesuap nasi agar survive.

Di sisi lain gedung bertingkat dengan sombongnya tumbuh di kota besar tanpa menghiraukan petani yang lelap tertidur, terbius bangunan tinggi yang menjanjikan mimpi-mimpi indah metropolitan.

Adalagi pelukis Bunga Ilalang yang punya nama asli Ngatini. Kelahiran Kulonprogo itu sengaja memakai nama Bunga Ilalang yang penuh filosofi.

”Bu” diambil dari sebutan ibu, ”nga” dari awalan Ngatini, dan ”Ilalang” sebagai nama pelengkap bunga. Bunga Ilalang dimaksud bunga tahan dengan segala cuaca dan mampu beradaptasi dengan lingkungan di manapun dirinya tumbuh.

Pelukis ini punya presentasi dan teknik yang berbeda dari lainnya. Tradisi Sekura misalnya, proses menyambut Hari Raya Idul Fitri sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita ia goreskan dalam komposisi warna yang apik.

Atau sebut saja karyanya Dimana Lampungku, yang mempresentasikan kebingungannya dengan lukisan seorang gadis termenung dengan background ornamen Lampung.

Soekarno, tokoh sekaligus Presiden Indonesia pertama tak luput dari bidikannya. Dengan paras ’Donjuan’, Soekarno memikat hati wanita asal Jepang, Ratna Sari Dewi yang bernama asli Naoko Nemoto.

Istri kelima Soekarno itu terpresentasikan dengan kepolosan dan kejujuran seorang wanita dengan simbol tanpa sehelai benang menutupi. Berhias dengan mimpi-mimpi seorang superstar yang mungkin menjadi sebagian cita-cita kaum hawa yang dapat dipresentasikan Bunga Ilalang layaknya maestro pelukis Indonesia, Affandi.    

Karya apik lainnya adalah milik Torro yang berjudul Perjuangan Meraih Nasi Bungkus. Pengusaha sukses dan pencinta seni ini, mempresentasikan dengan instalasi simbol semut memperjuangkan nasi bungkus.

Sebuah perjuangan penuh rintangan dengan capaian buah kapuk bergantungan pada ruang apresiasi tempat dirinya berbicara.

Menurut sang kurator, David, perhelatan pameran seni rupa tentunya punya standar sendiri. Mulai menentukan tema sampai soal mengurasi karya. Sehingga, karya-karya yang terpilih mempunyai bobot dan teknik yang mumpuni sesuai tema yang disodorkan kurator.

”Dengan begitu, sudut pandang estetika dan presentasi karyanya mudah dicerna, dilihat, dan diapresiasi oleh khalayak,” sebutnya.

Keberhasilan pameran seni rupa, kata dia, yang dapat dilihat dari indikator seperti katalog pameran, ruang pameran yang standar semisal sketsel/panel, dan lampu, harus ada yang mencatat.

”Sejarah dalam sebuah penandaan peristiwa kesenian yang mencatat adalah media massa, mulai dari proses awal hingga akhir dari sebuah pameran,” paparnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)