Pantai Bandarlampung Lenyap Ditelan Sampah - RILIS.ID
Pantai Bandarlampung Lenyap Ditelan Sampah
El Shinta
Senin | 06/05/2019 10.45 WIB
Pantai Bandarlampung Lenyap Ditelan Sampah
Anak-anak di Kampung Skip, Buwiwaras, belajar dan bermain di atas tumpukan sampah. FOTO: RILISIDLAMPUNG/ El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Ibarat penyakit, pesisir Bandarlampung sudah memasuki stadium empat. Pasir putih tertutup timbunan sampah. Jika terus dibiarkan, enam tahun lagi pantai di kota ini.

Kondisi terkini, terumbu karang pantai tak lagi dihuni biota laut. Yang ada, limbah plastik warna-warni. Tak berlebihan jika beberapa tahun ke depan kawasan pesisir Bandarlampung diprediksi bakal tenggelam dalam lautan sampah.

Manager Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Irfan Tri Musri, mengatakan nantinya sampah bakal lebih tinggi daripada daratan.

”Ini tentu dengan catatan jika Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung tidak segera mengambil tindakan,” tegasnya kepada Rilisidlampung, Sabtu (4/5/2019).

Sampah di Teluk Lampung saat ini bukan hanya dari hulu Bandarlampung. Namun, banyak juga kiriman dari luar Bandarlampung. Terutama limbah plastik (berita ini juga dapat dibaca di koran Rilisid Lampung edisi Senin, 6/5/2019).

Dia mencontohkan di Pantai Sukaraja, tumpukan sampah mencapai ketinggian satu meter dan telah menutupi bibir pantai.

“Tahun 2025 bisa lebih tinggi sampah daripada daratan di Bandarlampung. Limbah plastik semakin tahun kian masif,” kata Irfan.

Dia mengungkapkan pihaknya telah mendorong satuan tugas (satgas) sampah pesisir bergerak. Bukan hanya bekerja tiga bulan. Sampah yang diangkut juga harus memiliki kejelasan bagaimana akan dieksekusi. Namun hasilnya nol besar.

”Regulasi masih sekadar wacana. Sehari-hari juga bahan plastik sering digunakan. Pernah ada rencana pembentukan TPA (tempat pembuangan akhir) regional. Tapi implementasinya mandeg juga,” kesalnya.

Direktur Mitra Bentala, Mashabi, menilai cita-cita Pemkot Bandarlampung yang mengatakan tahun 2025 bebas sampah hanya akan berakhir dengan isapan jempol. Karena, lima tahun mendatang sampah di pesisir pantai justru lebih menggila.

”Kondisi sekarang saja sudah begini. Sampah makin lama kian tinggi. Pemerintah tidak ada program prioritas penanganan sampah. Hanya bercita-cita bebas sampah,” sindirnya.

Mashabi mengakui, jika beberapa tahun lalu Mitra Bentala pernah dipanggil Pemkot Bandarlampung untuk memaparkan cara menangani sampah yang baik, cepat, dan tepat.

Namun sayangnya, hingga kini apa yang sudah direkomendasikan tidak dijalankan. Padahal, penanganan sampah di laut harus dua kali lebih intens ketimbang di darat.

”Sampai sekarang tidak ada petugas sokli (satuan operasi kebersihan lingkungan), TPS (tempat pembuangan sampah), dan fasilitas pendukung di pantai,”  keluhnya.

Sayang hingga berita diturunkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sahriwansyah yang dihubungi di nomor 081279696XXX belum berhasil dihubungi. Begitu juga dengan Kepala UPT TPA Bakung Setiawan Batin di nomor 0811722XXX.

Sementara itu, Wali Kota Bandarlampung Herman HN dalam beberapa kesempatan selalu mengutarakan komitmennya menciptakan kota yang bersih.

Terakhir, ia mengandeng PT Pegadaian (Persero) untuk menukar sampah dengan emas batangan. Hal itu sesuai dengan program Bank Sampah The Gade Clean and Gold di Lapangan Kalpataru, Kemiling, yang di-launching oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung, Selasa (9/4/2019). 

Satu kilogram (kg) sampah dikonversikan gram emas. Seberat 0,01 gram emas dihargai Rp6 ribu. Sistem tabungannya sama dengan bank biasa, bisa diambil kapan pun.

”Kalau misalkan sudah terkumpul lima gram, bisa dicetak jadi emas batangan atau diambil dalam bentuk uang sesuai dengan harga emas saat itu," beber Pemimpin Wilayah III PT Pegadaian Persero Palembang, Eka Pebriansyah. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID